• News

  • Sisi Lain

Telaga Warna dan Mitos Dua Ikan Purba di Puncak, Bogor (2)

Telaga Warna, Puncak, Kabupaten Bogor.
Wisatapuncak
Telaga Warna, Puncak, Kabupaten Bogor.

BOGOR, NNC - Kesejukan dan keindahan kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sungguh memesona. Bagi waga Jakarta dan Jawa Barat, keindahan dan kesejukan kawasan Puncak sungguh tak asing lagi dan semua mengakui itu.

Di kawasan Puncak juga terdapat kawasan wisata Telaga Warna. Letaknya berada di Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Di kawasan ini, meski indah, namun aneh dan unik, serta bernuansa mistik yang sangat kental.
 
Uniknya, air pada danau ini bisa berubah-ubah warnanya. Terkadang berubah warna menjadi hijau, seakan menyatu seperti warna pepohonan yang mengelilingi danau tersebut. Terkadang pula berubah warna menjadi cokelat, kuning gelap, sampai dengan kuning terang.

Secara ilmiah, perubahan warna-warna tersebut disebabkan oleh ganggang yang memang berada di telaga. Tumbuhan ini berjenis algae yang memang dapat berubah warna dan menyebabkan air pada danau ini seakan-akan berubah warna juga.
 
Ada juga pendapat lain, yaitu 7 kali perubahan warna pada air ini karena adanya pantulan cahaya matahari yang menyinari tumbuh-tumbuhan yang ada pada sekitar telaga.
Keistimewaan lainnya, pada tempat itu terdapat beraneka ragam flora yang berasal dari hutan tropika pegunungan.

Satwa yang banyak dijumpai di sini kebanyakan hewan liar, seperti kera abu-abu, surili, lutung, termasuk juga beraneka jenis burung, seperti burung tekukur, kadanca, dan lainnya.

Wisatawan yang datang juga dapat berkeliling menikmati keindahan pesona Telaga Warna dengan menggunakan perahu kecil ataupun sepeda air yang sudah disediakan pengelola tempat wisata tersebut.

Namun, di balik keindahan telaga itu, tersimpan nuansa mistik yang menyelimuti danau ini, terkadang membuat bulu kuduk merinding. Konon, menurut masyarakat yang ada di sekitar telaga itu, di dalam telaga terdapat dua ekor ikan purba yang berwarna kehitaman dan kuning.

Mitos lainnya yang dipercayai oleh masyarakat sekitar ialah barang siapa yang datang ke telaga dan membasuh wajah mereka dengan menggunakan air di telaga, maka wajahnya akan terlihat lebih awet muda.

Konon pula, kawasan itu merupakan bagian dari sebuah kerajaan yang pernah dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Swarnalaya. Beliau memiliki seorang istri yang cantik jelita, bernama Ratu Purbamanah.

Pada masa kepemimpinan raja tersebut, negerinya sangat terkenal akan kedamaian, kesuburan, kemakmuran, dan ketentramannya. Tidak ada keluarga yang pernah merasakan kekurangan sandang, pangan, dan juga papan.
 
Walaupun begitu, Sang Prabu berserta permaisuri tidak merasakan kebahagiaan. Hal ini disebabkan karena Sang Prabu dan juga permasuri belum diberikan seorang anak atau keturunan. Padahal, semua cara dan upaya sudah mereka lakukan, contohnya meminum beraneka macam ramuan tradisional sampai dengan meminta saran-saran dari penasihat kerajaan. Tetapi hal itu semua sama sekali tidak mendapatkan hasil. Hingga kemudian Sang Prabu memutuskan untuk bertapa.

Setelah lama bertapa, Sang Prabu mendapatkan sebuah wangsit yang berisi agar beliau segera mengangkat anak. Beberapa bulan kemudian, akhirnya Sang Permaisuri hamil dan melahirkan seorang anak perempuan yang cantik, kemudian anak tersebut diberi nama Nyi Ajeng Gilang Rinukmi atau Putri Ayu Kencana Ungu.

Sesudah sang putri beranjak dewasa, Sang Prabu berniat mengadakan sebuah pesta dan ingin memberikan sebuah hadiah kepada sang puteri semata wayangnya ini berupa sebuah kalung yang sangat indah.

Tetapi Nyi Ajeng Gilang Rinukmi tidak bersedia menerima kalung yang diberikan sang ayah tersebut, sampai pada akhirnya membuat Sang Permaisuri merasa sedih dan tidak henti-hentinya menangis.

Pada saat yang bersamaan muncullah sebuah keajaiban, yaitu bumi berguncang dengan sangat hebat serta keluarlah air yang yang menenggelamkan kerajaan berserta isinya, dan kemudian membentuk sebuah telaga.

Setelah itu dari dasar telaga memancarkan sebuah cahaya yang berwarna-warni yang dipercaya berasal dari kalung yang sudah terpecah. Inilah yang kemudian menyebabkan danau ini dinamakan Telaga Warna.

Reporter : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?