• News

  • Sisi Lain

Sujud di Hadapan Para Arwah yang Hangus Terbakar

Peti jenazah korban Tragedi Mei 1998 yang tak teridentivikasi.
Dokumen Tim Relawan untuk Kemanusiaan
Peti jenazah korban Tragedi Mei 1998 yang tak teridentivikasi.

JAKARTA, NNC - Mengenang adik kesayangan, Ujang menitikkan air mata. Fitrah, adiknya semata wayang, ditemukan telah tewas dengan kondisi tidak utuh lagi. Sebagian tubuhnya hangus terbakar. Padahal, kala itu ia sedang mengandung tujuh bulan.

Ujang adalah seorang kuli bangunan di kawasan Kebon Singkong, Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Di rumah bedeng berukuran sekitar 3 x 6 meter persegi, ia tinggal bersama istri dan tiga anaknya.

“Tahun 1990-an, Fitrah menikah dan menempati sepetak kamar samping saya ini,” kisah Ujang mengenang adiknya.

Ia tunjukkan ruang berdinding triplek dengan tambalan di sana-sini. Atap rumah itu berbahan seng di satu sisi, di sisi lain penuh pecahan asbes. Mungkin ia memanfaatkan sisa-sisa dari proyek tempat ia menjadi kuli bangunan.

“Ia sempat saya sekolahkan sampai SMEA. Kemudian bekerja menjadi kasir di Yogya Plaza, Klender. Saya pula yang nikahkan, karena sejak kecil bapak-ibu sudah tiada,” Ujang menyambung ceritanya.

Sejenak ia tarik nafas dalam. Tangannya menghapus air yang keluar dari mata dan hidungnya, yang keluar tanpa permisi. Parasnya kini tampak jauh lebih tua dibanding terakhir penulis temui di tahun 2000. Benturan hidup dan nasib yang kadang tak memihaknya, telah menguras energinya.

“Lalu datanglah huru-hara itu. Bulan Mei 1998, berturut-turut demonstrasi menuntut turunkan Soeharto hingga berujung maut bagi adik saya itu,” ceritanya.

Kali ini Ujang memperlihatkan wajahnya yang geram. Demonstrasi mahasiswa yang melahirkan reformasi, diwarnai kerusuhan, pembakaran, penjarahan, perkosaan, dan ribuan orang tewas menjadi korban. 

“Saya mah nggak tahu-menahu politik. Kala itu, beras, minyak, harganya selangit. Hidup susah. Udah gitu, Fitrah yang sedang mengandung tujuh bulan, ditinggal lakinya entah ke mana. Saya tetap kerja agar bisa memberi makan bini dan tiga anak saya,” ungkapnya.

Ujang kembali mempersilahkan penulis minum kopi. Kemudian ia lanjutkan, “Saya sempat bersyukur, Fitrah diterima kerja jadi kasir di Yogya Plaza. Paling tidak, dia bisa penuhi kebutuhan sendiri dan mempersiapkan kelahiran anaknya. Namun, belum satu bulan, ia saya temukan sudah jadi arang.” Kembali air matanya deras mengucur.

“Susah payah saya cari dia. 14 Mei 1998, Yogya Plaza dijarah dan dibakar, tiga hari selanjutnya ia tidak pulang. Saat polisi evakuasi korban meninggal di mall, saya datang. Saya cari tumpukan jenazah dan kutemukan dia karena saya kenal jam tangan yang masih utuh di tangannya. Ditambah ciri sedang mengandung. Kupastikan jenasah itu Fitrah, adik saya,” kata Ujang menceritakan.

Besar kemungkinan, Fitrah yang bekerja menjadi kasir di mall itu, terjebak saat kobaran api yang disulut oknum tak bertanggung-jawab. Ia adalah salah satu dari sekitar 400-an korban lain yang ditemukan hangus terbakar.

“Mas, percaya atau tidak, Fitrah hingga kini sering datang,” katanya.

Kini Ujang beralih ke topik yang membuat penulis merinding. “Saya selalu doakan dia, namun saya juga tidak menolak bahkan mempersilahkan bila masih mau datang menjenguk kakaknya ini,” ujarnya.

“Beberapa kali, ia melintas dan menemui saya. Kadang mukanya tampak sedih. Kadang ia tersenyum simpul. Kadang wajahnya bersih tampak seperti dulu sebelum meninggal. Kadang berwajah hitam seperti bekas terbakar,” ceritanya tanpa sedikit pun rasa takut di wajah Ujang.

Ngapain takut, Mas, ia adik saya. Kalau arwahnya masih belum tenang, saya selalu temani dan bantu doa agar arwahnya segera diterima Yang Kuasa. Kalau datang, saya sambut dia, ia adik saya, Mas. Jadi ya maaf, kalau orang lain takut, saya lahir batin menerima Fitrah apa adanya. Susah-senang, dari dulu kami anak yatim piatu, selalu bersama sampai ia mati,” katanya.

Kadang Ujang diajak pula berdoa bersama dengan beberapa orang yang membentuk perkumpulan Keluarga Korban Tragedi Mei 1998. Ia pernah datang dan bergabung. Namun karena kesibukan di proyek bangunan, ia tidak aktif lagi.

“Beberapa tahun lalu, saya ikut acara tabur bunga di Mall Yogya Plaza. Sengaja, saya masuk ke parkiran di lantai dasar. Saya merasakan roh Fitrah juga ada di situ. Banyak roh lain di situ juga, Mas. Saya kirim salam dan hormat, lalu kutaburkan bunga di sana,” ujarnya.
 
Memang, sudah begitu banyak kisah mistis tentang keberadaan roh penunggu pusat perbelanjaan tersebut. Dari mulai penampakan di angkutan umum, bajaj yang masuk ke mall, dan lain-lain. Namun, apa yang penulis saksikan dari Ujang, sangat berbeda jauh.

“Mas, saya ini orang bodoh, tapi juga manusia yang punya keyakinan dan kepercayaan. Orang-orang kayak Fitrah, dari dulu sampai sekarang, sebenarnya banyak tapi nggak dipedulikan. Apalagi para petinggi, nggak akan pernah paham. Fitrah itu, ya tumbalnya reformasi, Mas.” kata Ujang yang kini mengeluarkan keyakinannya.

“Kepada Fitrah, adikku, yang dari dulu susah-senang bersama, sering dalam doa, saya sampaikan bahwa kamu adalah pahlawan hidup bagi kakakkmu ini. Kalau pun arwahmu masih di sekitar sini, temani kakakmu ini. Jangan ganggu orang lain. Nggak usah pergi ke mana-mana. Lebih baik, dekat dengan saya saja,” katanya.

Pesan terakhir Ujang sebelum menutup kisahnya itu, membuat penulis terkesima. Kali ini, penulis nyaris tak kuasa menahan butiran air yang mengintip di sudut mata. Dalam hati, penulis bersujud kepada Fitrah dan Fitrah-Fitrah lainnya. Semoga mereka tidak sia-sia.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?