• News

  • Sisi Lain

Kencan dengan Wanita yang Telah Meninggal Tiga Hari

Pemakaman Kembang Kuning, Surabaya.
Pegipegi
Pemakaman Kembang Kuning, Surabaya.

SURABAYA, NNC - Libur Idul Fitri atau Lebaran telah tiba. Sepertinya Liburan tidak akan sempurna bila tidak diisi dengan kegiatan mudik dan melancong ke sejumlah obyek wisata.

Dari sekian banyak obyek wisata, ada lokasi wisata yang justru menyuguhkan unsur keramat, misteri, dan gaib. Nah, kalian yang suka wisata misteri, bisa mencoba yang satu ini.

Lokasinya ada di Surabaya. Namanya sudah tak asing, kompleks makam Belanda Kembang Kuning, tepatnya berada di Jalan Kembang Kuning, Kelurahan Pakis, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Tapi, tunggu dulu! Kalau berkunjung ke tempat ini, jangan malam hari. Bukan hanya karena sering banyak hantunya, tapi juga banyak kupu-kupu malam berseliweran di lokasi ini. Bisa-bisa malah Anda diciduk Satpol PP dan dituduh yang bukan-bukan.

Maka, kalau Anda ingin melihat-lihat area makam orang-orang Belanda ini, lebih baik di siang hari. Selain lebih aman, juga bisa melihat keunikan bangunan makam Belanda, mulai dari makam model kuno hingga model hanya plang, secara lebih jelas.

Makam ini, selain mengandung unsur misteri juga menyimpan sejarah sejumlah tokoh Belanda. Makam dibangun dengan model khas Eropa yang megah sejak abad ke-18. Hingga kini tetap dirawat, sebab keturunan orang-orang yang dikuburkan di situ, masih sering rutin berkunjung.

Selain itu, tempat ini dianggap sangat penting bagi pemerintah Kerajaan Belanda. Setiap 27 Februari, selalu diadakan kegiatan mengheningkan cipta, memperingati peristiwa pertempuran antara Angkatan Laut Belanda melawan Angkatan Laut Jepang di Laut Jawa pada Perang Dunia II.  

Dengan diarahkan Supardi, seorang juru bersih makam, NNC berhasil mendapatkan sejumlah cerita misteri di lokasi ini. Yang pertama, kami ditunjukkan lokasi makam Alfred Emile Rambaldo. Tokoh ini adalah seorang penerbang balon udara berdarah Belanda yang lahir di Rembang, Pasuruan.

Ia meninggal pada Juli 1911 akibat kecelakaan. Balon yang ia terbangkan jatuh di Desa Ngebur, Blora, Jawa Tengah. Balon tersangkut pohon dan tubuh Rambaldo jatuh dari ketinggian 10 meter hingga tewas seketika.

Untuk mengenang jasa Rambaldo, di makam itu didirikan patung Rombaldo. Konon, pada tahun 2013 yang lalu, patung itu berubah posisi dan sempat menjadi berita menghebohkan bagi warga Surabaya. Bahkan, pengelola makam pun tidak tahu mengapa bisa berubah posisi.

Lokasi berikutnya yang ditunjukkan Supardi adalah Monumen Laksamana Karel Doorman. Monumen ini berada di tengah-tengah pemakaman yang sering dikenal pula sebagai makam Angkatan Laut.

Laksamana Karel Doorman menjadi tokoh penting bagi Kerajaan Belanda. Pada 27 Februari 1942, Laksamana Doorman memimpin skuadron kapal perang mengadang serbuan kapal perang Jepang. Ketiga kapal yang ia pimpin adalah HNLMS Kortenaer, HNLMS Java, dan HNLMS De Ruyter.

Ketiga kapal tersebut meledak dan tenggelam setelah dihantam torpedo tipe 93 dari kapal Jepang, Haguro. Sebanyak 915 prajurit tewas, termasuk Laksamana Doorman.

Selain mayat korban serangan Angkatan Laut Jepang, orang Belanda yang menjadi korban selama invasi Jepang juga dimakamkan di Kembang Kuning. Totalnya tak kurang dari 5.000 makam.

Setelah berkeliling, kami istirahat. Sambil minum kopi, Supardi bercerita, “Banyak penampakan aneh di malam Jumat Kliwon, Mas. Kadang muncul noni Belanda, kadang juga sosok pemuda berpakaian seragam Angkatan Laut melintas di depan saya,” kisahnya membuat penulis merinding.

“Mungkin, Mas juga pernah dengar kisah misteri di zaman Belanda? Kisah tentang hantu anggur merah?” tanya Supardi. Karena penulis hanya geleng kepala, ia akhirnya menceritakan kisah misteri di era Belanda tersebut.

Konon, saat Surabaya menjadi pangkalan armada laut Belanda, setiap malam banyak pemuda Angkatan Laut Belanda yang menghibur diri di bar. Mungkin sekarang, istilahnya dugem.

Di suatu malam, tepatnya 27 Desember 1932, di sebuah bar yang berada di Jalan Plemaan, Surabaya (sekarang sekitar Jalan Yos Soedarso), ada satu pemuda asal Rotterdam, bernama Frank de Meyer (26). Ia tergila-gila kepada seorang noni Belanda yang kala itu hadir di bar.

Noni itu tampaknya sedang muram hati. Setelah berkenalan, Frank baru tahu kalau nama noni itu adalah Esther Afzoin. Frank pun akhirnya mencoba menggoda dan menghibur hati Esther. Singkat kata, mereka berdua akhirnya saling merasa suka.

Entah pengaruh minuman keras atau bukan, saking riangnya, saat Frank ingin menenggak segelas anggur merah (wine), anggur itu tumpah tepat mengenai bagian dada kiri pada gaun Esther. 

Akibatnya, Esther minta diantar pulang karena gaunnya ternoda. Frank pun mengantarkannya dengan berjalan kaki karena, katanya, rumah Esther tidak jauh dari situ.

Namun entah mengapa, belum sampai di rumahnya, Esther hanya menunjukkan rumahnya. Dari jauh, tampak di rumahnya sedang banyak tamu. Frank diminta tidak usah mengantar sampai rumah. Namun, Esther berpesan agar besok pagi datang ke rumahnya.

Frank pun memenuhi permintaan Esther. Benih cinta telah tumbuh di hati Frank. Pagi-pagi sekali ia datang kembali ke rumah Esther. Namun ia terkesima saat sampai di rumah Esther. Ia melihat sebuah peti akan dibawa ke makam Kembang Kuning. Peti jenazah itu dipikul oleh sejumlah orang bule.

Ia bingung. Ia putuskan memberanikan diri mencari orang tua Esther. Ia semakin bingung saat berhasil bertemu kedua orang tua Esther, karena mereka mengatakan bahwa Esther sudah meninggal tiga hari yang lalu.

Frank terbengong. Walau begitu, dari mulutnya keluar juga pernyataan bahwa tadi malam ia bersama Esther. Frank menjadi seperti orang aneh dan dianggap mengigau oleh kedua orang tua Esther.

Sebelum peti jenazah masuk ke liang kubur, Frank minta izin melihat jenazah Esther. Permintaannya diizinkan kedua orang tua Esther. Ia makin terkesima. Ubun-ubunya terasa berdesir, jenazah itu memang Esther yang tadi malam ia jumpai.

Aroma bunga yang ditaburkan pada jenazah Esther mengingatkan parfum yang digunakan Esther tadi malam saat ia mencium kening dan tubuhnya yang dingin. Di dada kirinya terlihat bercak merah seperti bekas tumpahan anggur merah.

Namun, bercak di jenazah itu bukanlah anggur merah yang ia tumpahkan. Bercak itu adalah darah akibat tikaman belati saat rumahnya dirampok. Esther menjadi korban pembunuhan perampok pada malam Natal.

Frank berusaha kuat dan ikhlas. Mungkin ia sulit melupakan Esther. Buktinya, hingga tua, ia hidup melajang. Konon, kata Supardi, Frank masih terus rutin berkunjung ke makam Esther di Kembang Kuning. Sampai akhirnya, ia tak muncul lagi tatkala Indonesia jatuh dalam kekuasaan Jepang.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?