• News

  • Sisi Lain

Dua Kali Hamil Tiga Bulan, Janin Sang Penari Menghilang

Ilustrasi penari Gandrung.
IndonesiaKaya
Ilustrasi penari Gandrung.

JAKARTA, NNC - Kata orang Jawa, ibu yang sedang hamil diminta selalu membawa gunting kecil di sakunya. Gunting itu akan menjadi pusaka yang bisa melindungi janin dalam kandungannya dari ancaman kekuatan gaib. Dipastikan, mitos yang telah menjadi tradisi lisan turun-temurun, bukan lahir secara sembarangan.

Namun, benarkah janin dalam kandungan bisa dicuri makhluk halus? Benarkah gunting atau senjata lain bisa menolak bala dari kekuatan jahat? Apakah cerita itu hanya isapan jempol belaka? Apa mungkin, leluhur orang Jawa berniat jahat dan ingin menakuti anak-cucunya?

Ada banyak pertanyaan lain yang tak sederhana untuk dijawab. Sementara dalam perjalanan sejarah, fenomena antara benar dan tidak dari mitos itu tetap saja selalu simpang siur.

Sampai suatu ketika di tahun 2004, sejumlah wartawan majalah Srinthil berhasil mewawancarai seorang saksi dan pelaku sekaligus yang mengungkap bagaimana janin bisa menghilang atau raib dari dalam rahimnya. Liputan itu telah diterbitkan pada edisi Oktober 2004, dengan judul “Perempuan dalam Ritual”.

Perempuan malang itu bernama Temu. Ia adalah seorang penari Tari Gandrung kelahiran Kota Banyuwangi, Jawa Timur, pada 1954. Saat berusia 15 tahun, ia sempat akan dinikahkan orang tuanya, namun Temu bersikeras menolaknya.

“Saya belum menstruasi, tapi kok disuruh kawin,” kata Temu mengulang alasan penolakannya.

Di usia itu, ia mulai terjun menjadi penari Gandrung. Setiap malam di mana ia diundang, ia akan menujukkan kebolehannya, melekak-lekukkan tubuhnya di hadapan ribuan penonton dan pihak yang menanggapnya.

Tiga tahun kemudian, Sutjipto, seorang pemuda dari dari Desa Olehsari, Kecamatan Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, berhasil mencuri hatinya. Temu yang semakin percaya diri sebagai penari Gandrung merasa siap dipinang. Mereka pun menikah secara resmi.

Karena nama Temu semakin populer sebagai penari Gandrung, banyak pihak menyarankan agar Temu menunda kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi atau biasa disebut KB (Keluarga Berencana). Namun kata Temu, “Saya nggak tahu apa itu KB. Pokoknya setelah nikah, maunya ingin cepat punya anak.”

Beberapa bulan setelah pernikahan, Temu hamil. Dari hari ke hari, perutnya semakin membuncit. Layaknya perempuan pada umumnya, naluri keibuannya berusaha selalu merawat jabang bayi dengan sebaik-baiknya. Ia juga merasakan ngidam. “Waktu itu saya ngidam buah salak,” kenang Temu.

Saat kandungannya berusia tiga bulan, suatu malam, Temu bermimpi melahirkan bayi. Pagi harinya, saat ia terbangun, tiba-tiba ia merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Ia merasakan perutnya yang buncit, tiba-tiba mengempis tanpa bekas. “Kehebohan sempat terjadi kala itu,” tutur Temu.

Ia sempat dibawa ke bidan dan memang hasilnya dipastikan isi kandungannya telah kosong. Mengapa bisa demikian? Sayang, Temu pun mengaku tidak bisa menjelaskan, atau mungkin memang sengaja tidak mau menjelaskannya?

Kejadian hilangnya janin dalam rahim seorang ibu, bagi masyarakat Desa Kemiren bukanlah hal aneh. Mereka mempunyai sistem kepercayaan sendiri dan menganggap kempisnya perut Temu ada hubungannya dengan makhluk halus yang biasa mencuri janin dalam kandungan sang ibu.

Pascakejadian misterius itu, Temu jatuh sakit selama berhari-hari. “Kalau ingat peristiwa itu, rasanya sedih sekali. Saya sampai sakit dan nggak selera makan nasi. Saya hanya makan rebusan daun bayam dicampur cabe serta minum kelapa muda,” ujar Temu.

Temu mengaku tidak pernah berobat ke dokter. Ia hanya rutin meminum ramuan jamu yang dibuatnya sendiri, yaitu berupa campuran temulawak kuning, daun asam muda, jeruk nipis, garam, dan gula merah.

“Ramuan itu hanya diambil airnya saja, lalu saya minum,” ungkap Temu.

Badan Temu kemudian menjadi lebih langsing. Saat ia mulai membaik, ia kemudian menari Gandrung lagi. Namun, nasib kurang mujur kembali terjadi.

Pada 1975, Temu terpaksa menceraikan Sutjipto, suaminya. Menurut Temu, sejak ia kehilangan janin dalam kandungannya dan belum mengandung lagi, Sutjipto berubah menjadi lelaki pecemburu. Padahal, sebagai penari Gandrung, Temu harus berkeliling desa sepanjang malam dan pulang ketika pagi hari.

“Saya berhak dong menceraikannya kalau ia cemburuan terus. Lha wong saya ini menari di antara penggemar dan habis itu pulang. Ya, memang kadang ada penggemar mabuk yang usil saat pentas, tapi kan saya nggak meladeni,” kata Temu menjelaskan alasan ia menceraikan suaminya.

Setelah perceraiannya dengan Sutjipto, Temu menikah lagi dengan lelaki lain bernama Mohamad Ridwan. Ia kembali bisa mengandung. Untuk kedua kalinya, Temu berusaha menjaga si janin dengan sebaik-baiknya. Ia juga kembali mengalami ngidam.

Namun, peristiwa gaib kembali terjadi, sama seperti yang pertama. Saat kehamilan bulan ketiga, tiba-tiba perutnya mengempis dan janin dinyatakan hilang dari rahimnya. Kali ini, Temu mengaku benar-benar terpukul karena suaminya menuduh Temu sengaja menggugurkan secara diam-diam dan mengaku-aku bahwa janinnya hilang.

“Saya menolak kalau dianggap menggugurkan kandungan. Wong ini tiba-tiba menghilang tanpa rasa sakit. Kok malah dianggap melakukan yang lain,” ujar Temu.

Menurutnya, itu terjadi sama seperti kandungannya yang pertama, janinnya telah dicuri oleh roh halus. Sekali lagi, peristiwa seperti itu adalah hal biasa di Banyuwangi.

Dampak dari hilangnya janin untuk kedua kalinya membuat pernikahnnya keduanya juga tidak langgeng. Namun, tanpa suami, Temu berusaha melanjutkan hidupnya dengan tetap menari Gandrung. Hingga masa tuanya, Temu akhirnya tidak mempunyai keturunan dari darah dagingnya sendiri.

Ia memang sukses dan menjadi perempuan yang hidup sejahtera dengan menjadi penari Gandrung. Namun hatinya merasa sepi karena tidak mempunyai anak. Sebagai pengobat sepi, ia kemudian mengadopsi anak yang berasal dari saudaranya.

Sulit mengungkap secara lebih jauh tentang kesaksian Temu. Bukti mengenai roh halus yang telah mencuri janin yang ia kandung juga tidak bisa ditemukan. Hingga akhir hayatnya, penggalan kisah hidupnya mungkin hanya Srinthil yang mencatatnya.

Berangkat dari penasaran, ingin rasanya menguak misteri roh halus pencuri janin sang penari Gandrung tersebut. Harus diakui, dalam masyarakat Jawa ada begitu banyak dan beraneka rupa makhluk halus atau lelembut.

Masing-masing lelembut mempunyai tugas yang berbeda-beda. Salah satunya adalah berupa sosok jin pengganggu wanita dan pencuri janin dan biasa disebut gandarwa atau genderuwo.

Konon, di siang hari ia menyukai pohon besar, rumah tua, atau rimbunan pohon bambu sebagai tempat tinggalnya. Saat malam hari, ia bisa berubah menjadi pemuda tampan dan senang menggoda wanita.

Anehnya, ia bisa juga merayu dan menghamili sang perempuan yang diincarnya. Saat janin telah membesar dalam perempuan itu, genderuwo akan mengambilnya. Tentu saja, sang ibu yang malang akan mengalami nasib tragis.

Lain ceritanya jika hilangnya si janin adalah hasil dari permufakatan antara genderuwo dan wanita itu. Konon, hilangnya janin adalah bagian dari pertukaran untuk mendatangkan kekayaan bagi si perempuan, sementara si genderuwo akan memperoleh keturunan jin.

Di sisi lain, dalam tradisi Jawa juga ada praktik-praktik tersembunyi tentang teknik pengguguran dengan sejumlah ramuan tradisional. Ada juga teknik lain yang dikenal dengan istilah “walik dadah” atau memutar kandungan. Teknik itu konon bisa membuat sang ibu tidak bisa mengandung lagi.

Lalu bagaimana dengan Temu? Adalah benar ia pernah hamil. Adalah benar Temu adalah seorang penari. Adalah fakta juga bahwa ia pernah kehilangan janin dalam rahimnya. Apakah janin itu benar-benar dicuri makhluk sejenis Genderuwo, atau karena faktor lainnya?

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Srinthil

Apa Reaksi Anda?