• News

  • Sisi Lain

Tengah Malam, Patung di Balai Pustaka Berjalan Sendiri

Dua pengunjung melihat patug di depan Gedung Balai Pustaka, Jakarta.
NNC/Taat Ujianto
Dua pengunjung melihat patug di depan Gedung Balai Pustaka, Jakarta.

JAKARTA, NNC - “Sekitar dua bulan lalu, saat mau menutup warung kopi, saya melihat patung ibu dan dua anak di depan Kafe Balai Pustaka berjalan sendiri, lalu masuk ke arah gedung utama,” tutur Johan, seorang pemilik warung kopi yang berlokasi sekitar 50 meter dari lokasi yang dimaksud.

Gedung yang dimaksud adalah Kompleks Balai Pustaka (BP) yang berada di Jalan Bunga Nomor 8, Matraman, Jakarta Timur.

“Setelah patung itu tidak terlihat, sayup-sayup saya dengar alunan musik gamelan dari arah dalam gedung. Saya yakin, bunyi itu bukan dari suara televisi atau radio,” kata Johan menambahkan.

Setiap hari Johan menutup warungnya pada dini hari. Para pelanggannya yang mayoritas terdiri dari penarik ojek daring (online) dan penarik bajaj. Biasanya ia baru pulang sekitar pukul 1.00 WIB. Setiap akan menutup warungnya, ia sempatkan menengok kanan dan ke kiri warung.

Ia sebenarnya sudah sering mendengar cerita warga sekitar bahwa patung berwarna kuning keemasan di depan Gedung BP, saat malam hari, sering bergerak sendiri. Ia juga sering mendengar bahwa Gedung BP itu angker. Di lantai tiga, ada gamelan yang sering bunyi sendiri.

Johan sebelumnya tidak percaya, namun kali ini ia melihat dan mendengarnya sendiri. “Kala itu, saya tidak merasa takut, biasa saja. Namun heran saja, kok bisa seperti itu,” tutur Johan.

Sambungnya, “Awalnya, saya tidak ada niat mengejar atau mendekatinya. Saya kemudian masuk ke warung dan menutup pintu. Saya mau Salat Tahajud. Namun, setelah salat saya jadi kepikiran dan penasaran.”

Kemudian, ia putuskan keluar lagi untuk melihat patung di depan Gedung BP. Saat tiba di depan gedung, ia melihat patung itu sudah berada pada posisinya semula.

“Patung ternyata tidak berubah posisi, juga tidak hilang. Padahal jelas sekali sebelumnya, saya melihatnya berjalan sendiri,” katanya

Pernyataan Johan bisa dipahami. Bila diperhatikan, jarak antara patung dengan warungnya memang tidak terlalu jauh. “Masak mata saya salah lihat?” gumam Johan heran dengan pengalamannya.

Johan tidak tahu mengapa patung itu bergerak. Ia juga tidak bisa menduga ataupun meramalkan arti di balik penampakan aneh yang ia jumpai. Menurutnya, “Itu tandanya, Gedung Balai Pustaka itu angker. Gitu doang, Mas.”     

Balai Pustaka bangkit kembali
“Balai Pustaka hampir ditutup. Keberadaanya sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sempat tidak diharapkan lagi,” kata Direktur Utama BP Achmad Fachrodji di hadapan sejumlah penulis dan editor buku di ruang rapat BP, Selasa (23/10/2018).

Pada 2011, segenap manajemen BP nyaris putus asa setelah sekian lama mengalami kerugian berturut-turut. Ketika BP sempat akan berlayar melalui tender buku pelajaran Kurikulum 2013, tiba-tiba kurikulum dibatalkan oleh Menteri Pendidikan kala itu, Anies Baswedan.

Hutang BP pun semakin membengkak. Kala itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan juga sempat menyetujui wacana penutupan BP. Ia memberi waktu tiga bulan bagi BP untuk diakuisisi oleh PT Telkom. BP benar-benar di ujung tanduk.

Lembaga yang terkenal sebagai penyokong lahirnya sastra Indonesia, baik di era Hindia-Belanda maupun kemerdekaan ini, benar-benar mengalami masa-masa sulit. Namun, para karyawannya tidak mau menyerah. Gebrakan-gebrakan baru terus dilakukan.

“Dan tahun 2018, BP mampu bangkit dari keterpurukan. BP tidak jadi ditutup. BP tidak jadi diakuisisi PT Telkom. BP berhasil hidup terus,” kata Achmad Fachrodji menambahkan.

Melalui sektor penerbitan dan kerja sama yang erat dengan BUMN lainnya, seperti PT Pelni, ASDP, dan Pos Indonesia, BP berhasil meraih pemasukan. BP kembali dipercaya menangani perbukuan oleh BUMN lain. Dengan dana yang berhasil digalang, BP mampu melakukan investasi baru.

Gedung pun dapat direnovasi, perpustakaan baru dibangun, buku sastra dibuatkan versi digital, membangun Kafe Sastra, memproduksi poster tentang tokoh-tokoh sastra, dan lain-lain. Kini, hampir setiap hari Balai Pustaka selalu dikunjungi siswa-siswi melalui program literasi kaum milenial.

Keangkeran Balai Pustaka
Di tengah pemaparan tentang kondisi Balai Pustaka akhir-akhir ini, tiba-tiba Achmad Fachrodji membelokkan perbincangan ke persoalan yang benar-benar tak diduga.

“Tahukah teman-teman bahwa Gedung Balai Pustaka itu angker? Kini, Balai Pustaka juga dikenal dengan kisah keangkerannya,” katanya sambil menyungging senyuman.

Tentu saja, pernyataan Achmad Fachrodji membuat peserta diskusi terkesima. Ia kembali meyakinkan bahwa ia tidak bercanda.

“Saya itu diberitahu sopir saya berulangkali bahwa patung di depan BP itu kalau malam jalan sendiri. Bahkan, di lantai tiga, gamelan kalau malam juga bunyi sendiri,” ungkapnya.

Ternyata, Dirut BP juga menggarisbawahi kisah Johan, pemilik warung kopi yang sudah diceritakan di awal. Informasi tentang keangkeran Gedung BP, kini justru disampaikan oleh orang nomor satu di lembaga tersebut.

“Sopir saya itu punya indera ketujuh. Dia bisa melihat bahwa di Gedung BP banyak roh halusnya. Ada pohon beringin di dalam, itu juga ada penunggunya. Namun, semua makhluk halus di BP tergolong jenis yang tidak jahat,” kata Achmad.

Rupanya, Achmad Fachrodji tidak kawatir apabila kisah tentang keangkeran Gedung BP tersebar ke masyarakat luas. Sepanjang perjalanan sejarah Nusantara, mitologi, dan fenomena berbau mistis bisa dikatakan sudah mendarah daging dan menjadi satu dalam ke-Indonesia-an.

Lagi pula, dalam kisah sastra, mitologi dan kisah mistis juga selalu hadir laksana bumbu kehidupan. Di sisi lain, kisah mistis ternyata sering pula berada di balik kesuksesan seseorang, kemegahan suatu gedung, hingga kesuksesan suatu lembaga.

Siapa tahu, fenomena patung di depan BP yang berjalan sendiri dan musik gamelan yang berbunyi sendiri merupakan pertanda baik bagi BP. Apabila sebelumnya laksana jalan di tempat atau berjalan kurang maksimal laksana “patung”, kini “patung” itu siap berjalan dan berlari sambil diiringi musik gamelan.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?