• News

  • Sisi Lain

Fitrah Muncul di Jakarta saat Tubuhnya Hilang Digulung Tsunami

Deorama peristiwa tsunami Aceh di Museum Tsunami, Aceh.
Soulaction
Deorama peristiwa tsunami Aceh di Museum Tsunami, Aceh.

JAKARTA, NNC - Hujan mengguyur Jakarta sejak sore. Cut Sofia (39), seorang ibu berdarah campuran Aceh-Manado, seorang diri di rumahnya yang berlokasi di kawasan Kayu Manis, Matraman, Jakarta Timur. Suami, dan anaknya sedang berlibur ke rumah neneknya di Bandung, Jawa Barat.

Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul 11.30 WIB, Sofia masih asyik dengan hobinya, membaca novel misteri. Sambil menyandarkan tangan kirinya di sofa berbantal dan tangan kanan memegang buku, imajinasinya dihanyutkan dalam kisah horor berjudul “House of Leaves” karya Mark Z Danielewski.

Tiba-tiba, konsentrasinya terpecah oleh ketukan pintu depan rumahnya. Dengan enggan ia bangkit, lalu meletakkan buku di almari. Bunyi seseorang mengetuk pintu kembali terdengar, disusul bunyi, “Praang!”

Bunyi itu berasal dari dalam kamar tidurnya. Bingung antara memilih membuka pintu atau menuju ke kamar, kaki Sofia ternyata lebih dulu melangkah ke arah ruang tamu.

Sofia merasakan ada sesuatu yang aneh, malam belum begitu larut tapi udara terasa lembab dan berbeda dari hari-hari biasanya. Bohlam lampu di ruang tamu berkedip-kedip seolah-olah mau putus. Entah karena pengaruh novel yang sedang ia baca atau bukan, namun tiba-tiba bulu halus di tengkuknya berdiri.

Mendekati pintu rumahnya, angin terasa menyusup dari sela pintu, membawa butiran halus air dari percikan gerimis di luar rumah. Rambut Sofia berderai. Begitu pintu terbuka, sesosok perempuan bergaun biru muda telah berdiri di depan Sofia. Ia terkejut dan berteriak gembira, “Fitraaah, keumuen (keponakan, red)!” Sofia segera memeluk perempuan itu.

Perempuan yang dipanggil Fitrah balas memeluk dengan lemah. Sofia mengecup kedua pipi Fitrah sebagai tanda sayang. Dalam rangkulan rindu, Sofia merasakan tubuh Fitrah terasa begitu dingin, mungkin akibat terkena hujan gerimis. Untung gaunnya tidak basah. Sofia segera menarik Fitrah masuk ke dalam rumahnya.

Bohlam lampu kembali berkedip-kedip. Sofia dengan segala kehangatannya berusaha memberikan yang terbaik bagi keponakannya yang baru berusia 24 tahun itu. Fitrah yang yatim piatu, sempat mengenyam bangku kuliah, namun terhenti akibat konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia.

Fitrah yang masih duduk di semester enam, sempat menjadi buronan tentara akibat keaktifannya dalam organisasi prodemokrasi di Aceh. Ia keluar-masuk Aceh dan kadang bersembunyi di rumah Sofia, di Jakarta, untuk menghindari operasi penangkapan orang-orang yang dituduh sebagai pendukung GAM.

Suatu ketika, Fitrah jatuh cinta dengan seorang pemuda dari Kota Meulaboh, Aceh. Mereka kemudian menikah di Meulaboh pada 10 Desember 2004. Sayang, Sofia tidak bisa menghadiri pernikahan mereka. Namun, saat mendengar kabar pernikahan tersebut, hatinya ikut gembira dan selalu mendoakan agar menjadi keluarga yang sakinah.

Dua minggu kemudian, Sabtu (25/12/2004), Fitrah tiba-tiba datang ke rumahnya. Hati Sofia senang karena ternyata keponakannya masih menganggapnya. Buktinya, walau pengantin baru, Fitrah berkenan meluangkan waktu datang ke rumahnya. Namun, tiba-tiba sebersit pertanyaan muncul dan disusul berondongan pertanyaan lain di kepala Sofia.

Mengapa ia datang seorang diri malam-malam begini? Di mana suaminya? Mengapa ia datang tanpa membawa apa pun? Mengapa tubuhnya begitu dingin? Mengapa raut mukanya pucat dan begitu aneh? Berbagai pertanyaan lain muncul dan membuat Sofia sempat lupa apa yang akan dilakukannya. Ia baru ingat, ingin mengambil handuk ketika matanya menubruk jemuran handuk.

Buru-buru ia sambar sehelai handuk kering untuk mengelap tubuh Fitrah yang tampak kedinginan. Saat membalikkan badan, Sofia sempat melirik ruangan kamarnya. Ia melihat foto keluarga besarnya jatuh di lantai. Kaca dan bingkai foto berhamburan.

Sambil tetap berjalan menuju ke ruang tamu, ia bergumam dalam hati, “Bukankah dalam foto itu terdapat Fitrah yang masih SMP kala itu?”

Lamunanya tiba-tiba terhenti. Belum sampai di ruang tamu, Sofia melihat Fitrah sedang berdiri di samping meja rias.

“Ah, kamu Fitrah, mengagetkan tante saja. Ini handuk buat mengeringkan tubuhmu. Lalu nanti, ganti pakaian tante yang kering saja. Tante buatkan minum teh panas dulu ya, biar kamu tidak kedinginan,” kata Sofia kepada Fitrah yang tiba-tiba berdiri seolah sedang berkaca di meja riasnya.

Sofia membalikkan badan menuju dapur. Ia baru sadar, mengapa di kaca meja riasnya tidak ada bayangan Fitrah? Pertanyaan itu segera dibuangnya jauh-jauh. Ia ingin segera memberikan sambutan yang terbaik untuk keponakan kesayangannya. Ia pasti membutuhkan minuman hangat.

Sofia segera menyambar gelas, teh celup, dan gula secukupnya. Ia bergerak menuju dispenser dan mengisi gelas itu dengan air panas. Dari ruang tengah terdengar suara Fitrah lemah, “Tante, aku kedinginan. Pinjam selimut tante ya.”

Sofia mengiyakan dan meminta Fitrah agar mengambilnya di kamar.

Sementara ia memegang gelas dan mengaduk teh, Sofia mendengar suara kaca beling seperti berhamburan terinjak kaki di kamarnya. Segera ia mengingatkan Fitrah, “Hati-hati kakimu Fitrah, di kamar Tante ada banyak pecahan kaca. Tadi tiba-tiba bingkai foto keluarga jatuh.”

Sofia berjalan menuju kamarnya untuk menyusul Fitrah. Tangannya membawa segelas teh panas untuk Fitrah. Sebelum sampai ke kamarnya, tiba-tiba ada suara ember dan air tumpah di kamar mandi. Seingatnya di kamar mandi tak ada ember berisi air. “Ada-ada saja,” kata Sofia dalam hati.

Sofia berusaha tidak menghiraukan suara itu. Ia tetap berusaha fokus menuju ke kamarnya. Di kamar tidurnya, ia melihat tubuh Fitrah seperti sedang kedinginan di balik selimut. Sebenarnya Sofia heran, belum pernah Fitrah berani naik ke kamar tidurnya.

Biasanya, bila menginap di rumahnya, Fitrah selalu tidur di kamar sebelah yang memang khusus untuk tamu atau saudara lain yang menginap di rumahnya. Namun, karena suaminya sedang pergi, Sofia merasa tidak keberatan. Lagi pula, di hatinya muncul rasa penyesalan mengapa saat Fitrah menikah, ia tidak bisa menghadirinya.

Sofia kemudian duduk di pinggir tempat tidur sambil membelai kepala Fitrah dengan penuh kasih sayang. Gelas teh manisnya ia sodorkan. Fitrah menerimanya dengan lemah. Fitrah berusaha duduk di atas kasur kemudian berusaha minum air teh itu.

Namun, tiba-tiba Fitrah tersedak. Air teh justru disemburkan ke lantai di samping pecahan kaca dan bingkai foto yang jatuh itu. Segera Sofia bangkit, membenahi air yang tumpah dan pecahan beling, sambil meminta Fitrah agar pelan-pelan minum. Namun Fitrah menggelengkan kepala, tak mau meminumnya lagi.

Ditaruhnya gelas di meja kamar dan Sofia semakin heran. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kondisi Fitrah seperti kepayahan. Namun, Sofia tidak tega menanyakannya secara langsung kepada keponakannya.

Ia berpikir, biarlah ia istirahat dulu. Besuk pagi, setelah istirahat, barulah Sofia akan menanyakan dan mengajak Fitrah bercakap-cakap. Sofia merasa iba melihat kondisi Fitrah.

Seperti tahu akan apa yang dipikirkan Sofia, bibir Fitrah yang kebiruan menahan dingin, tiba-tiba bergerak, “Izinkan Fitrah tidur dulu ya, Tante. Fitrah tidak apa-apa. Fitrah hanya lelah sekali, rasanya sulit bernafas dan kepala pusing sekali. Besok pagi Fitrah beritahu semuanya.”

Sofia mengiyakan sambil sekali lagi membelai kepala Fitrah yang sepertinya semakin dingin. Ia kecup keningnya dan memintanya agar istirahat. Ia benarkan pososi selimut agar benar-benar menutupi tubuh Fitrah. Sofia kemudian meninggalkan Fitrah sendirian di kamarnya agar bisa istirahat.

Tiba di ruang tengah, Sofia merebahkan tubuhnya di sofa. Ia tak lagi berminat melanjutkan buku yang ia baca. Isi kepalanya campur aduk. Tiba-tiba, lampu kembali berkedip-kedip. Telinganya sempat mendengar ada suara seperti perempuan menangis.

Sofia berusaha mencari sumber suara itu. Namun, rasa lelahnya terlanjur menjalar ke tubuhnya. Ia terlelap setelah melihat sekelilingnya tiba-tiba menjadi gelap gulita. Semua lampu rumahnya padam.

Sofia bangun ketika terdengar deringan telepon rumahnya. Rupanya aliran listrik telah normal kembali. Ia bangkit sambil mengusir sisa ngantuknya. Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 9.00 WIB. Ia angkat gagang telpon.

Dari jauh ia mendengar suara suaminya, “Ma, Ayah dalam perjalanan pulang, nih. Coba cari tahu kondisi semua saudara di Aceh. Barusan, gempa 9,1 SR melanda Aceh dan tsunami menerjang seluruh pantai di Aceh.” Sofia mengiyakan dan berharap Abi (suaminya) agar segera sampai rumah.

Ia belum sempat bercerita bahwa di rumahnya ada Fitrah. Ia ingin segera mencari berita. Sofia cepat-cepat menyalakan televisi. Semua stasiun memberitahukan tentang bencana dahsyat di Aceh itu.

Perhatian Sofia beralih ke Fitrah. Ia berlari ke ruang kamarnya. Ia tak mendapatkan Fitrah di kamarnya. Sofia berlari ke dapur, kamar mandi, ruang tamu, Fitrah tidak ditemukan. Ia kembali ke kamarnya. Selimut berada di posisi semula seolah tak pernah digunakan.

Mata Sofia tiba-tiba tertuju ke foto keluarga besarnya. Di dinding kamarnya, foto yang tadi malam ia lihat terjatuh, terlihat tetap utuh menempel di dinding kamar. Mata Sofia tiba-tiba berkunang-kunang, ia terjatuh, persis di pinggir tempat tidur di kamarnya.

Saat suami Sofia tiba di rumahnya, Sofia ditemukan masih tak sadarkan diri. Setelah benar-benar sadar, Sofia harus menelan berita tragis yang menimpa saudara-saudaranya di Aceh. Bapak-ibunya, kakak, adiknya, dan Fitrah keponakannya, telah menjadi korban gempa bumi dan tsunami.

Satu bulan berikutnya, ia mendapat kabar dari beberapa saksi mata yang sempat selamat. Saat gempa dan tsunami terjadi, Fitrah sedang berbulan madu di Pantai Meulaboh. Ia dan suaminya kemudian hilang dan tak pernah ditemukan hingga kini.

Rupanya, kedatangan Fitrah malam itu merupakan perjumpaan yang terakhir kali, walaupun semua serba bersifat supranatural. Apa yang ia alami, sengaja ia simpan rapat-rapat. Sofia sadar dan yakin bahwa ada banyak orang yang mengalami nasib serupa seperti dirinya.

Kisah ini dituturkan Cut Sofia kepada NNC pada Minggu (21/10/2018). Sesuai permintaan Sofia, ada beberapa bagian kisah yang terjadi pada malam itu tidak boleh disampaikan.

Ia mengaku, baru kali ini bersedia menceritakan kepada orang lain. Ia berpikir, pengalamannya bisa meneguhkan para korban gempa. “Kehidupan terkadang sangat pahit dan keras diberikan kepada kita. Tuhan yang memberi dan hanya kepada Tuhanlah kita akan kembali,” demikian pesan Sofia.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?