• News

  • Sisi Lain

Kisah Arwah Penulis ‘Maut Datang, Siapa yang Tahu’ di Gunung Merbabu

Kondisi puncak Gunung  Merbabu, Jawa Tengah, di musim kemarau
panorlens
Kondisi puncak Gunung Merbabu, Jawa Tengah, di musim kemarau

BOYOLALI, NNC - Renald (28) selesai berbenah. Seluruh perbekalan pendakian telah menyatu dalam ransel gunung yang ia gendong. Ia melirik Riyan, teman karibnya yang sedang mengikat sepatu gunungnya. Mereka telah siap menyusuri malam menuju puncak Gunung Merbabu

Sesuai rencana, pukul 20.00 WIB, Renald dan Riyan akan bertolak dari Basecamp Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Malam itu, jumlah pendaki tidak banyak. Namun, sebelum Renald dan Riyan, ada dua pendaki dari Yogyakarta yang telah berangkat lebih dulu.

Renald dan Riyan kini telah memunggungi kerlap-kerlip lampu perumahan di Kecamatan Selo yang tampak semakin menjauh.

Renald yang sehari-hari menghabiskan waktu dalam kesibukan kerja di Jakarta, kini merasakan benar-benar telah meninggalkan hiruk-pikuk keramaian ibukota dan bergerak menuju kesunyian yang ia rindukan. 

Sejak SMA, Renald sudah jatuh cinta terhadap dinginnya puncak gunung yang menusuk tulang. Petualangan, persahabatan dengan alam, rasa lelah, dan kepuasan menikmati “negeri di atas awan” selalu memberikan energi baru.

Mendaki gunung memberikan obat penawar bagi racun keangkuhan dalam dirinya.

Dengan lampu senter di atas kepala, Renald sesekali melihat hamparan kebun sayur milik para petani di Kecamatan Selo. Sayuran itu biasanya dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat Surakarta. Dari situ, para petani memperoleh berkah kehidupan yang mengalir dari Gunung Merbabu.   

Menjelang Pos 2 menuju Sabana I, jalan yang sebelumnya relatif landai mulai berubah curam. Renald dan Riyan berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terperosok ke jurang.

Sesekali mereka berhenti untuk menenggak air. Mereka harus menghemat persediaan air sebab semua gunung di Jawa Tengah terkenal tidak menyediakan air.

Tiupan angin menderu meninggalkan suara siulan panjang. Hempasan angin bercampur debu sesekali menampar muka mereka. Beberapa minggu hujan tidak mengguyur dan membuat gunung kering dan berdebu.   

Setelah sekitar lima jam berjalan, sampailah mereka di Sabana I, Renald dan Riyan memutuskan membangun tenda untuk istirahat. Dari situ, mereka akan melanjutkan perjalanan, sehingga tiba di Puncak Kenteng Songo sebelum matahari terbit.

Riyan bertugas memasang tenda dan Renald menyiapkan makan dan susu panas. Saat merebus air dan memasak kornet, tiba-tiba Renald merasakan sesuatu keanehan.

Sayup-sayup ia mendengar alunan musik gamelan. Disusul kemudian aroma bunga melati menyengat hidungnya. 

Apa yang didengar dan dicium Renald ternyata dirasakan juga oleh Riyan. Mereka saling berpandangan heran. Renald tak bisa menolak ketika perasaan merinding datang tanpa permisi. Rasa itu berhasil menggerayangi tubuhnya. Ia menggigil.

Bunyi alunan musik gamelan dan aroma bunga melati kemudian menghilang bersamaan dengan kornet dan susu panas yang siap disantap.

Niat mereka terhenti ketika tiba-tiba dari jalur pendakian, muncul sesosok perempuan menggendong ransel gunung dan membelokkan langkahnya, mendekati mereka.

Renald berusaha menyembunyikan rasa kagetnya ketika perempuan itu memberi salam lalu mengatakan, “Hai guys, boleh gabung nggak?”

Renald dan Riyan serempak mempersilakan walau dalam hati mereka geleng-geleng kepala. “Berani benar perempuan ini, seorang diri mendaki gunung tengah malam begini?” gumam Renald dalam hati.

Setelah duduk di samping tenda, perempuan pemberani itu mengaku bernama Nita. Ia sudah biasa mendaki Gunung Merbabu seorang diri. Kali ini, ia tidak membawa tenda. Rencananya, setelah sampai puncak, ia akan langsung turun lagi.

Di hati, Renald berdecak kagum. Sementara itu, mulutnya menawarkan kornet dan susu panas yang belum sempat ia santap.

Rupanya perempuan itu tidak menolak tawaran Renald. Ia tampak lapar dan langsung menyantap kornet dengan lahap sambil mengatakan, “Wah makasih nih, jadi merepotkan dan harus masak lagi dong.”  

Renald tidak keberatan dan justru merasa senang bisa memberikan jatah makanannya kepada perempuan itu. Namun, ia harus memasak lagi satu porsi kornet dan susu panas untuknya.

Segera Renald menyalakan kembali kompor gas mininya. Sambil memasak, mata Renald melirik penuh selidik ke perempuan yang sedang bercakap-cakap tentang keindahan Merbabu bersama Riyan.

Di atas alisnya terdapat tahi lalat. Rambutnya diikat dan ditutup kain biru muda yang terlihat kumal. Dengan penerangan lampu tenda, wajah perempuan itu terlihat cukup cantik.

Namun mata Renald terhenti ketika melihat celana panjang dan sepatu gunung yang dikenakan tampak seperti bekas tercabik.

Renald tidak sampai hati menanyakan itu semua. Ia khawatir malah menyinggung perasaannya. “Mungkin itu sepatu dan celana jins kesayangan yang ia kenakan,” hiburnya dalam hati.

Setelah matang, Renald segera menyantap jatah makan malamnya. Sementara itu, Riyan dan perempuan itu sudah selesai menyantap jatah mereka.

Ketika Renald akan berniat nimbrung dalam percakapan mereka, perempuan itu mendadak berkata, “Oke guys, sorry nih, aku mau lanjut jalan duluan agar segera sampai di Puncak Kenteng Songo. Makasih atas kornet dan susu panasnya, ya!”

Walau sempat dihalangi dan diajak agar berkenan bersama, namun perempuan itu bersikukuh untuk melanjutkan perjalanannya.

Dengan hati berat, mata Renald melepas bayangan perempuan dengan ransel gunung di punggungnya itu hilang di balik kegelapan malam.

Renald dan Riyan kemudian melanjutkan istirahatnya. Mereka mengeluarkan sleeping bag.

Saat badan mereka rebah di dalam tenda, sekali lagi, Renald dan Riyan selama beberapa saat mendengar alunan musik gamelan dan disusul aroma bunga melati yang kembali menusuk hidung mereka.

Walau badan terasa sangat lelah, Renald tidak bisa memejamkan mata. Isi kepalanya berputar-putar, memikirkan suara gamelan, aroma melati, dan sosok perempuan misterius itu.

Gue nggak bisa tidur, Coy! Kita lanjut aja, yuk!” kata Riyan yang ternyata juga merasakan hal yang sama.

Mereka berdua membenahi semua perlengkapan. Sekitar pukul 2.05 WIB, mereka telah siap kembali melanjutkan pendakian.

Saat akan meninggalkan lokasi tenda, kaki Renald tersandung sebuah dompet berwarna coklat dan tampak usang. Di dalamnya hanya terdapat selembar kertas dan selembar foto.

Sambil melanjutkan langkahnya, Renald membuka lembaran kertas dan foto itu. “Coba lihat ini Bro, ini kan foto perempuan tadi?” kata Renald sambil menunjukkan foto berwarna yang tampak sudah buram kepada Riyan.

Setelah mengamati, Riyan mengiyakan dan berkata, “Bawa ajantar kita kasihkan ke dia di Puncak.”

Renald masih penasaran. Ia membuka kertas lipatan. Di kertas itu hanya tertera satu catatan yang bunyinya, “Maut datang, siapa yang tahu?”

Renald kemudian melipat kembali kertas itu dan memasukkan bersama foto ke dalam dompet. Hatinya semakin bimbang.

Dorongan untuk menyusul dan menemui perempuan misterius berhasil membuat Riyan dan Renald bertambah semangat. Energinya terasa berganda.

Maka, setelah melewati Sabana II menjelang matahari terbit di ufuk Timur, Riyan dan Renald sampai di Puncak Kenteng Songo.

Di Puncak Merbabu dengan ketinggian 3.142 meter dari permukaan air laut itu, ternyata sudah ada dua orang pendaki dari Yogyakarta yang sempat mereka jumpai saat berada di Basecamp Selo.

Setelah bertegur sapa, Renald menanyakan ke mereka apakah mereka menjumpai seorang pendaki perempuan.

Kedua lelaki pendaki dari Yogyakarta itu menggelengkan kepala sambil berkata “Tidak!” Mereka jaga mengaku tidak menjumpai seorang pun pendaki lain. Renald hanya bisa menelan rasa herannya.

Setelah berfoto, menyaksikan indahnya panorama puncak Merbabu dan setelah menyantap sarapan, Riyan bersama Renald memutuskan segera turun untuk kembali ke Basecamp Selo.

Kabut tipis mulai datang, saat mereka kembali menyusuri rute jalan yang sama.

Selama di perjalanan, mereka sempat bertemu dengan beberapa pendaki yang baru akan menuju ke puncak. Namun, hingga sampai di Basecamp Selo, Renald dan Riyan tidak pernah menjumpai pendaki yang mengaku bernama Nita itu.

Saat sampai di Basecamp Selo, Renald segera menemui pengelola basecamp. Kepada mereka, Renald menceritakan semua kejadian dan menunjukkan foto yang ada dalam dompet.

Salah seorang yang mengaku bernama Bejo menanggapi sosok foto dalam dompet itu, katanya, “Kok mirip sosok perempuan yang ditemukan tewas diterkam harimau di kawasan Hutan Suroloyo, ya?” Beberapa warga yang ada di situ juga mengatakan hal yang sama.

Menurut warga Selo, pada 16 November 2008, seorang  perempuan muda ditemukan tanpa identitas dengan kondisi kaki tinggal tulang. Diduga ia diterkam harimau yang menghuni wilayah hutan di Gunung Merbabu.

Sekali lagi, Renald teringat dan terbayang perempuan yang ia jumpai pada dini hari itu. Ia melihat celana dan sepatunya yang terkoyak seperti bekas tercabik binatang buas. 

Tiba-tiba kepala Renald berdenyut. Sebelum pandangannya berubah menjadi gelap, kupingnya mendengar suara perempuan berbisik, "Maut datang, siapa yang tahu?" Renald pun pingsan.

Renald kembali ke Jakarta setelah sempat dirawat di Puskesmas Kecamatan Selo selama dua hari. Pada Rabu (14/11/2018), ia mengisahkan pengalaman misteriusnya itu kepada NNC.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?