• News

  • Sisi Lain

Kisah Penampakan Sosok Tanpa Tubuh Sedang Mengapit Sebatang Rokok

Pulau Morotai yang indah dan memiliki kisah misteri
welcomemytraveling
Pulau Morotai yang indah dan memiliki kisah misteri

TERNATE, NNC - Indonesia bukan saja kaya dengan beragam Suku. Namun ternyata juga memiliki mitologi yang tak terbilang jumlahnya. Kisah berbau supranatural tersebar di setiap penjuru.

Di daerah Maluku, tepatnya di Pulau Morotai, terdapat satu suku yang telah "menghilang" secara misterius.

Ajaibnya, suku tersebut diyakini masyarakat setempat sebenarnya masih tetap berada di Morotai, namun wujudnya tidak kasat mata. Suku itu adalah suku Moro. Namun, perlu diingat, suku ini berbeda dengan suku Moro yang tinggal di Filipina.

Suku Moro dipercaya merupakan penduduk asli Pulau Morotai, satu pulau yang berada diujung Halmahera Utara. Pulau ini sekaligus berada di paling Utara gugusan kepulauan Indonesia.

Konon, hingga abad ke-15, di daerah itu terdapat kerajaan kecil di bawah pemerintahan Kerajaan Jailolo dengan mayoritas penduduknya adalah suku Moro. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana.

Kemudian datanglah bangsa Portugis mengadudomba, memecah belah, dan merampas rempah-rempah secara semena-mena. Terjadilah pergolakan dan perang saudara.

Karena perpecahan tersebut, Raja Jailolo memerintahkan warganya masuk menuju hutan dan menjauhkan dari benturan politik. Sejak itu, keberadaan mereka “menghilang” dan tidak diketahui keberadaannya.

“Menghilang” di sini artinya bahwa suku Moro bukanlah kemudian menjadi layaknya suku terasing yang hidup di dalam hutan seperti suku Togutil yang juga hidup di dalam hutan Halmahera. Suku Moro sebenarnya masih hidup tetapi tidak kelihatan alias masuk dalam dunia gaib (beda dimensi).

Menurut penuturan para pemangku adat di Halmahera, keberadaan suku Moro yang misterius itu dapat dibuktikan melalui berbagai peristiwa misterius di Morotai.

Ada warga mengaku sering menjumpai penampakan sosok tanpa tubuh di tengah hutan sedang memegang dan menghisap sebatang rokok. Saat didekati, sosok itu kemudian berlari dan menghindar.

Sementara warga lainnya mengaku pernah berjumpa dengan dua ekor ular lalu membunuhnya. Namun, setelah membunuh ular, warga itu tak sadarkan diri. Saat tersadar, tiba-tiba ia berada di sebuah rumah kepala kampung.

Rupanya, ular yang ia bunuh merupakan penjelmaan warga suku Moro. Ketika menyadari akan apa yang telah diperbuat, warga itu kemudian meminta maaf dan memohon agar kepala suku itu berkenan mengembalikannya ke dunia nyata.

Permintaannya dikabulkan dengan syarat harus membawa buah pinang dan wajib membasuh mukanya di sebuah telaga. Setelah syarat dipenuhi, warga Morotai itu benar-benar kembali ke dunia nyata.

Namun, saat berada di tempat tinggalnya, ia terkejut. Rupanya, keluarganya sedang melakukan ritual doa tujuh hari kematiannya. Karena keberadaannya tidak ditemukan, keluarganya mengira sudah meninggal.

Maka, diceritakanlah pengalaman yang ia alami kepada keluarganya. Dan ketika ia menunjukkan buah pinang pemberian kepala suku Moro, buah itu berubah menjadi perak berbentuk buah pinang.

Pengalaman warga Morotai itu kemudian tersebar dari mulut ke mulut dan menjadi cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Peristiwa itu juga melahirkan tradisi yang melarang masyarakat Morotai untuk berburu dan menebang hutan secara semena-mena di hutan Halmahera.

Mereka yakin, apabila larangan itu dilanggar, maka apa yang dibunuh dan ditebang akan menjelma menjadi roh suku Moro. Artinya, pohon dan hewan di hutan Halmahera diyakini merupakan penjelmaan anggota suku Moro.

Jelas sudah. Tradisi itu merupakan kearifan lokal yang penuh dengan pesan bagi setiap generasi untuk menjaga dan melindungi hutan dari tindakan yang tidak baik. Bila tidak ingin celaka, maka turutilah tradisi tersebut.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?