• News

  • Sisi Lain

Sosok Ibu Menggendong Bayi Melayang di Atap Rumah Ini

Di atap rumah kosong ini, Dadang melihat penampakan perempuan menggendong bayi
NNC/Taat Ujianto
Di atap rumah kosong ini, Dadang melihat penampakan perempuan menggendong bayi

BOGOR, NNC - Azan Magrib baru saja terdengar. Dadang (54) belum beranjak dari sawah yang ia garap. “Masih nanggung, sebentar lagi selesai menebar bibit kangkung,” katanya menjelaskan alasan mengapa belum pulang kepada NNC pada Kamis (7/3/2019).

Ia tahu, ada larangan tak tertulis dari para leluhurnya agar segera pulang bila sudah terdengar bunyi azan. “Istilahnya di sini pamali,” terang Dadang.

“Mungkin karena saya melanggar tradisi itu, akibatnya saya mengalami kejadian yang seumur-umur belum pernah saya alami dan membuat saya trauma,” sesal Dadang.

Ia kemudian mengisahkan masa hidupnya. Ia lahir dari keluarga petani padi, jambu merah, dan ragam sayuran. Profesi orang tuanya, ia lanjutkan. Ia mendapat jatah lahan garapan di daerah yang terkenal berlumpur dalam dan biasa disebut “balong”.

“Waktu saya kecil, sekitar tahun 1968, daerah ini masih banyak rawa-rawa yang belum diolah menjadi sawah,” papar Dadang mengisahkan sejarah persawahan yang berada di wilayah Desa Waringin Jaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Ketika sedang gencar-gencarnya ada pembangunan gedung inpres, di era Pak Harto, dibangunlah saluran dan penataan di sepanjang Kali Pesanggrahan ini. Dan jadilah sawah yang sisanya tinggal ini,” sambung Dadang sambil menunjuk area yang ia garap.

Memang persawahan tampak semakin sempit karena banyak lahan sudah berubah menjadi perumahan. Lahan yang digarap Dadang adalah salah satu yang tersisa menjadi lahan pertanian untuk padi dan ragam sayuran.

“Dahulu saya sering melihat penampakan-penampakan aneh di daerah ini. Ada banyak. Misalnya melihat ikan gabus sebesar orok bayi. Ikan itu bukan ikan sungguhan. Tidak boleh ditangkap karena bisa membawa sial,” kata Dadang berapi-api.

Konon, pernah suatu ketika seorang pemancing mendapat ikan gabus sebesar anak bayi saat memancing di rawa, tak jauh dari lahan pertanian yang digarap oleh Dadang. Orang itu sudah diberitahu agar melepas kembali dan jangan dibawa pulang.

Namun, lelaki itu tidak menghiraukan saran itu. Akibatnya, belum sampai rumahnya, lelaki itu kejang-kejang dan kesurupan. Saat seorang warga lain datang untuk menolongnya, ia melihat sebuah karung yang berisi ikan gabus. Tiba-tiba ikan itu berkedip.

Karena warga yang menolong itu tahu apa sesungguhnya di balik perwujudan ikan gabus itu, ia segera mengembalikan dan melepas ikan gabus ke rawa. Setelah dilepas, pemancing yang mengalami kesurupan itu pun sembuh.

“Ikan gabus besar itu adalah siluman penunggu rawa-rawa di sini,” jelas Dadang.

Selain ikan gabus, Dadang juga mengaku pernah melihat buaya putih sedang berbaring di pinggir Kali Pesanggrahan yang mengalir di samping lahan pertaniannya. Warga sekitar Bojonggede percaya bahwa buaya itu juga merupakan siluman penunggu kali.

Pada malam hari, Dadang juga sering mengontrol ladang timun siap panen. Beberapa kali panenannya  dicuri orang yang tak bertanggung jawab. Dan saat mengontrol itu, ia sering mendengar suara-suara aneh mulai dari suara ringkikan kuda hingga suara perempuan cekikikan.

Gubug milik Dadang di tengah lahan yang ia garap

“Namun dari semua penampakan mistis itu, masih  kalah menakutkan  dengan penampakan yang saya alami, sekitar satu tahun lalu. Penampakan yang satu ini begitu jelas, tak hanya sekali,” tutur Dadang memulai cerita traumatisnya.

Di sore itu, Dadang merasakan tiba-tiba semua terlihat gelap. Ia tidak jadi menabur bibit kangkung dan bermaksud untuk pulang. Ia menuju gubug di tengah lahan yang ia garap, untuk mengemas perbekalan dan alat pertanian yang ia bawa.

Namun saat mata menatap gubug, mendadak muncul sesosok perempuan sedang menggendong bayi, seolah sedang menyusui.

Masyaalllah, saya benar-benar terkejut karena, maaf ya, sebelumnya, payudaranya menjuntai. Pokoknya tidak wajar,” tutur Dadang agak ragu karena malu menyebutkan organ vital perempuan itu.

Dan belum sembuh dari kagetnya, perempuan itu kemudian menatap tajam ke arah Dadang tanpa mengucap sepatah kata pun. “Wajahnya pucat, mata dan mulutnya hitam berlubang seperti membusuk, dan rambutnya awut-awutan.”

Dadang ketakutan. Ia ragu mau permisi untuk mengambil perbekalan di belakang sosok itu. Namun, seperti tahu yang dipikirkan Dadang, sosok perempuan itu kemudian berdiri, berbalik ke kanan membelakangi Dadang.

“Sosok itu kemudian melayang dalam kegelapan ke arah rumah kosong di perumahan seberang lahan yang saya garap.”

Buru-buru Dadang mengambil perbekalan dan berjalan secepat-cepatnya untuk pulang. Sampai di rumahnya, ia mengalami demam. Dan malam itu ia kembali didatangi sosok perempuan menyeramkan itu dalam tidurnya.

Dalam mimpinya, Dadang merasa sedang mencangkul sawahnya di sore hari menjelang Magrib. Tiba-tiba ia melihat sosok perempuan yang menggendong bayi  itu sedang berdiri di atap rumah kosong itu.

Perempuan itu menatap Dadang dari kejauhan dan seolah melambaikan tangan mengajaknya mendekat. Karena Dadang tidak menanggapi, perempuan itu terlihat melayang ke bawah menuju ke arah Dadang.

Dadang gemetaran. Namun ia kemudian terbangun dari mimpinya ketika istrinya mengguncang-guncangkan badannya. Kata istrinya, Dadang mengigau dan berteriak seolah sedang mengusir sesorang yang tidak jelas.

Karena kejadian beruntun itu, Dadang memutuskan menemui Pak Haji, seorang yang dituakan di kampungnya. Oleh Pak Haji, Dadang diminta berpuasa selama tiga hari. Setelah itu, ia akan dijelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Selama tiga hari, Dadang tidak pergi ke sawah. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdoa di masjid di dekat rumah Pak Haji. Dan pada puasa hari ketiga, Pak Haji membawa Dadang ke gubug tempat penampakan sosok perempuan menyeramkan itu.

Di gubug itu Pak Haji berdoa cukup lama. Dan akhirnya ia berkata, “Kerja tak mengenal waktu, jangan diulangi lagi! Sebelum Azan Magrib tiba, kamu harus pulang. Ini buktinya di saat itu roh halus sering datang mengganggu,” kata Dadang menirukan Pak Haji.

Menurut Pak Haji, yang telah meninggal sekitar tiga bulan lalu, sosok roh halus itu berasal dari arwah seorang perempuan muda yang mati bunuh diri terjun ke kali saat air kali Pesanggarahn meluap. Saat bunuh diri, ia tengah mengandung.

Konon, arwah perempuan itu kemudian menghuni rumah besar di samping Kali Pesanggrahan.

Rumah besar dan bertingkat itu, sudah cukup lama dibiarkan kosong. Sebelumnya,  penghuninya dilanda percekcokan. Dadang tidak tahu apakah percekcokan itu ada hubungannya dengan penampakan roh perempuan yang dilihat Dadang.

Sayangnya, pihak keluarga pemilik rumah kosong itu tidak bisa dihubungi. Sementara kata Dadang, “Saya mohon agar nama perumahan, lokasi rumah kosong itu, tidak disebutkan. Mohon pengertiannya.” Dan permintaan itu penulis penuhi.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?