• News

  • Sisi Lain

Yadi Heran, Mengapa Banyak Roh Perempuan Mengeroyok Arwah Kakeknya?

Di samping jalan berkelok ini, kakek Yadi dieksekusi
NNC/Taat Ujianto
Di samping jalan berkelok ini, kakek Yadi dieksekusi

PURWOREJO, NNC - Hujan gerimis mengguyur daerah perbatasan Desa Sokowaten dan Desa Candingasingan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Hawa dingin memeluk malam. Hati Yadi (45), seorang petani setempat semakin mengerut.

Motor yang ia kendarai mendadak mati tanpa sebab. Malam begitu pekat. “Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 11.30,” kata Yadi mengawali kisahnya yang berbalut misteri  dan sulit ia lupakan.

Ia merasa  motor barunya tidak mungkin bermasalah. Sementara suara hatinya menggiring otak dan perhatiannya bahwa di sebelah jalan ada sesuatu yang sengaja menunggunya. “Ya, harus saya akui, saya punya ikatan sejarah dengan lokasi ini,” sambung Yadi kepada NNC.

Yadi memiliki seorang kakek buyut yang tewas terbunuh di lokasi tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Di samping jalan berkelok terdapat kali pengairan yang berasal dari Bendungan Kedung Putri, Kabupaten Purworejo. Di pinggir kali itulah sekitar tahun 1950, kekeknya ditembak mati oleh polisi militer.

Revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkecamuk memaksa kakeknya ikut terlibat dalam perang di sudut kota Purworejo. Sepahit apapun, kisah itu adalah bagian dari sejarah hidup leluhur Yadi.

Dan lembaran sejarah itu rupanya tidaklah semanis kisah para pahlawan yang heroik memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Yadi tak pernah memungkiri, kakeknya adalah seorang mantan kriminil, walau ia juga pernah ikut berjuang melawan Belanda.

Seperti dituturkan oleh  ibunya, saat Jepang kalah, Indonesia mereka, dan kakeknya berhasil memiliki sepucuk pistol hasil rampasan tentara Jepang, sifatnya berubah menjadi bengis, gelap mata, seolah tak mengenal  lagi nilai-nilai agama.

Ia berulang kali memang ikut perang gerilya melawan tentara Belanda di perbatasan kota Purworejo dan Yogyakarta ketika terjadi Agresi Militer Belanda I dan II. Dan perjuangan itu patut dihargai.

Namun, di luar masa gerilya, kakeknya dianggap sebagai salah satu anggota komplotan perampok dan begal yang beroperasi di sekitar Purworejo. Tak sedikit korbannya.

Menurut cerita orang-orang, komplotan itu tak segan membunuh dan melecehkan para perempuan yang menjadi target operasinya.

Hingga tibalah masa penertiban. Pasca  berlangsungnya Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, ada operasi pengamanan di wilayah Purworejo. Kejahatan Kakek Yadi tercium intelejen angkatan darat. Singkat kata, ada perintah untuk mengeksekusi mati kakeknya.

Di suatu sore, suara berondongan senapan bergemuruh membuat kakeknya terkapar di pinggir kali. Menurut cerita, eksekusi pembunuhan itu terjadi saat kekeknya tengah buang air besar di kali tersebut.

Dan kini, Yadi berada tepat di sekitar lokasi kejadian penembakan kakeknya. Ia berusaha mendorong sepeda motornya untuk segera menjauh dari tempat itu. Namun motornya terasa semakin berat.

Gerimis masih turun dan sesekali terlihat kilatan petir membelah angkasa yang disusul suara gemuruh. Cahaya petir itu menjadi alat penerang satu-satunya selain lampu senter dari gaway di tangan Yadi.

Dan rupanya, suara hatinya yang mengatakan ada sesuatu yang aneh tak jauh dari ia berada, terbukti benar. Rupanya, Yadi memang sedang ditunggu kedatangannya oleh suatu kekuatan yang entah apa namanya.

 “Beberapa kali, mata saya gosok-gosok untuk meyakinkan diri,” kata Yadi tak percaya dengan apa yang ia lihat. Yadi kemudian menyandarkan sepeda motornya. Ia mendekati kerumunan sosok-sosok aneh di pinggir kali, sementara kerumunan itu seolah tak melihat dan tidak mempedulikannya.

“Tak kurang dari 12 orang perempuan berbaju putih mengerubungi seorang lelaki terkulai dengan bersimbah darah. Kulihat secara seksama dengan penerangan ala kadarnya, lelaki itu mengerang sementara sosok-sosok perempuan itu seolah mencakar dan memukul lelaki itu,” sambung Yadi.

Yadi terkesiap, ia kenal betul dengan sosok itu. Ada tahi lalat besar di atas bibir sebelah kanannya dengan brewok lebat. Bayangan foto kekeknya yang pernah ditunjukkan ibunya segera melintas di kepalanya.

“Ya, saya yakin. Saya sedang menyaksikan arwah kakek saya.” Dalam lubuk hatinya, ia bertanya-tanya, mengapa arwah kakeknya  dikerubungi sosok-sosok perempuan?

Pertanyaan itu tak bisa ia jawab. “Saya kemudian berusaha lapang dada untuk menerima semua penampakan itu,” katanya sambil mengatakan bahwa kala itu, badannya terasa begitu gemetar ketakutan.

Ia ingin berdamai dengan masa lalunya. Ia ingin menerima apa adanya semua masa lalu leluhurnya. Dan ketika kesadaran itu menguasai tubuhnya, tiba tiba hujan turun dengan derasnya. Sekujur tubuh Yadi basah dan matanya terasa perih karena air hujan.

Ketika membuka matanya, ia sudah tidak lagi melihat penampakan kerumunan itu. Sekali lagi ia tebarkan pandangannya. Hanya sepi dan suara hujan deras yang menyahutnya.

Kilatan cahaya petir semakin meyakinkan bahwa penampakan sosok-sosok misterius itu sudah tidak ada. Dengan badan menggigil, ia kembali mendorong sepedan motornya.

Namun, saat ia menekan tombol starter, motornya ternyata kembali menyala. Segera, Yadi tarik kencang motor itu menembus deras hujan dengan hati  takut, sedih, lelah, bercampur aduk.

Sampai di rumah, ia hanya berganti pakaian dan segera merebahkan dirinya untuk tidur.

Esok paginya ia mengadu kepada ibunya. Dan dengan berlinang air mata, ibunya menceritakan semua pesan rahasia  yang selama ini ia simpan. Katanya, “Yadi, kamu sudah saatnya tahu. Kakekmu sebenarnya memiliki sisa hasil kejahatannya.”

Ternyata memang benar. Kekeknya adalah pejuang sekaligus seorang perampok. Tak kurang dari sepuluh keluarga pernah menjadi korban kebengisannya. Dan tak kurang dari sepuluh perempuan tak bersalah menjadi korban perkosaan yang ia lakukan bersama komplotannya.

Ibunya kemudian mengambil sebuah kantong hitam yang ia simpan di almari ibunya. Kantong itu berisi sekitar sepuluh cincin emas. Yadi tak tahu berapa berat dan nilai emas itu.

Kata ibunya, “Dengan diam-diam, sumbangkanlah emas ini kepada panitia pembangunan tempat ibadah (****, Red). Bilang tidak usah disebut nama penyumbangnya,” perintah   ibunya.

Ternyata, ibu Yadi juga sering mengalami mimpi tentang kakek buyut Yadi. Dan dalam mimpi itu, kakeknya selalu berpesan agar emas peninggalannya dikembalikan ke yang berhak.

Ibu Yadi sempat berusaha mencari tahu siapa sesungguhnya para korban kebiadaban kakeknya. Namun bertahun-tahun tak berhasil. Sementara ia sebenarnya sudah tidak tahan dengan mimpi-mimpi itu yang semakin mengganggu.

Dan  ketika Yadi, anaknya semata wayang, ternyata juga mengalami penampakan misterius, ibu Yadi menjadi yakin sudah waktunya untuk bertindak.

Ia memutuskan menyerahkan emas wasiat itu untuk kemaslahatan masyarakat. Dan untuk pembangunan tempat ibadah, menurutnya adalah cara paling tepat.

“Sejak emas itu saya sumbangkan sekitar lima tahun lalu, hingga kini saya tidak pernah menjumpai penampakan almarhum kakek saya. Ibu saya pun tak pernah bermimpi lagi,” kata Yadi.

Dengan penuh harap, Yadi berdoa semoga  kakeknya dimaafkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?