• News

  • Sisi Lain

Tak Tahan dengan Roh Penghuni Kamar, Roni Check Out Lebih Awal

Hotel yang dikabarkan angker itu pernah menjadi surganya plesiran
istimewa
Hotel yang dikabarkan angker itu pernah menjadi surganya plesiran

JAKARTA, NNC - Cerita tentang hotel yang dihuni oleh makhluk-makhluk tak kasat mata, bukanlah cerita yang asing. Namun menjadi suatu kisah yang mahal harganya, apabila kisah itu diperoleh dari narasumber langsung yang pernah mengalami kejadian mistis saat menginap di hotel mewah.

Nama panggilannya Roni (41). Ia merupakan seorang pengusaha muda yang menggeluti bidang kuliner Nusantara  dan tinggal menetap di kota Yogyakarta. Pada hari Senin (11/3/2019), ia datang ke Jakarta untuk memenuhi undangan resepsi pernikahan salah satu temannya di wilayah Jakarta Utara.

Tak sengaja NNC bisa berjumpa dan berbincang-bincang dengannya. Banyak hal dibahas, namun yang paling unik adalah obrolan tentang pengalaman mistis yang pernah ia alami, saat menginap di sebuah hotel bintang 5 di Jakarta.

Pada tahun 2015, Roni menginap di hotel tersebut karena diminta menjadi fasilitator acara pelatihan calon-calon pengusaha muda, yang akan merintis usaha di bidang kuliner. Menurut rencana, ia akan menginap selama dua hari.

Di hari pertama, Roni memandu acara pelatihan dengan penuh semangat hingga sekitar pukul 22.00. Setelah pemberesan administrasi dan sedikit  koordinasi dengan panitia, ia memutuskan segera masuk kamar untuk istirahat.

“Sejak saya masuk kamar, saya langsung merasakan  ada sesuatu yang aneh. Biasanya, saya tak pernah takut atau berpikir yang bukan-bukan. Tapi malam itu, badan saya langsung bergidik saat masuk dan menutup pintu kamar,” kenang Roni memulai kesaksiannya.

Namun karena lelah, Roni berusaha mengabaikan firasat itu. Ia kemudian duduk di sofa kamar dan mulai melepas sepatu, meletakkan tas ranselnya, dan berganti pakaian.

“Baru saja mau melepas kaos kaki, tiba-tiba, horden jendela kamar tersibak dan membiarkan pemandangan susasana malam di kota Jakarta terlihat sekilas,” kata Roni.

Kembali lagi hati Roni terkesiap. Di kamar tidak ada kipas angin. Roni sejenak bertanya-tanya, apakah mungkin ada kucing di hotel semegah ini? Tak ada apa-apa di sekitar jendela.

Roni kembali melanjutkan membenahi perlengkapan pribadinya untuk mandi. Ia benar-benar merasa lelah dan ingin segera istirahat.

Di kamar mandi, kembali terjadi peristiwa aneh. “Saat saya mandi, dinding kamar seperti digedor-gedor. Disusul suara gaduh yang bersumber dari kamar sebelah,”  kata Roni.

Roni masih tetap berusaha mengabaikan keanehan itu. Di kepalanya, ia harus segera istirahat. Namun, ternyata harapannya tidak kesampaian. Suatu kekuatan yang tak bisa didefinisikan kembali mengganggunya.

“Usai mandi, saya mendengar suara musik bercampur dengan suara perempuan berteriak, juga suara orang entah  kejar-kejaran, atau pukul-pukulan. Yang pasti suaranya sangat gaduh dan berisik,” kata Roni dengan mukanya yang jengkel.

Kali ini, Roni tak tahan. Ia merasa benar-benar terusik. Hatinya merasa tidak nyaman. Dengan kondisi seperti itu, ia tak mungkin bisa istirahat. Di kepalanya juga mulai datang pemikiran bahwa ternyata layanan di hotel mewah ini, tidak memuaskan.  

Ia putuskan melakukan komplain kepada pihak hotel. Dengan fasilitas komunikasi yang ada di kamar itu, Roni menghubungi  nomor layanan pengaduan hotel. Ia meminta bantuan agar penghuni kamar sebelah mengurangi suara berisiknya.

Suara perempuan dari nomor pengaduan kemudian meminta waktu untuk memastikan siapa yang memesan kamar sebelah Roni. Satu menit kemudian petugas itu memberitahu bahwa semua kamar di sebelah ruangan Roni ternyata kosong atau tidak ada yang memesan.

“Saya minta petugas itu memastikan dan sekali lagi jawabannya sama,” kata Roni mengenang saat rasa marah bercampur takut mulai menjalar sekujur tubuhnya.

Roni meminta agar petugas datang ke kamarnya. Ia ingin memastikan setiap kamar sebelah. Roni kemudian diminta menunggu sebentar, karena pihak pelayan hotel akan datang.

Baru saja Roni meletakkan gagang telpon, ia terperanjat. “Di sudut kamar, tiba-tiba muncul sesosok bayangan perempuan berbaju putih dengan rambut panjang berderai menutupi mukanya,” kata Roni.

Saking terkejut  dan saking takutnya, secara spontan dari mulut Roni terlontar lafal-lafal semua doa yang pernah dipelajarinya untuk mengusir setan, sementara mata ia pejamkan karena tak tahan dengan penampakan di depannya.

Entah karena doa yang ia ucapkan atau karena ketukan pintu kamar, ketika Roni membuka kedua matanya kembali, sosok bayangan perempuan itu menghilang.

Roni segera membuka pintu. Dua orang lelaki pelayan hotel yang ada di depan pintu berusaha memenuhi semua permintaan Roni. Mereka bingung ketika melihat Roni seperti orang ketakutan dan memaksa pelayan itu untuk membantu membenahi  semua barang milik Roni.

Roni memutuskan untuk check out saat itu juga. Ia merasa tidak mungkin lagi melanjutkan istirahat di kamar hotel itu.

Dua lelaki pelayan hotel yang semula ingin menunjukkan kondisi kamar sebelah, kini bertugas membantu Roni berkemas untuk check out. Mereka berdua berusaha menyembunyikan wajah bingungnya, karena tidak tahu apa yang terjadi.

Setelah menyelesaikan semua administrasi, malam itu Roni tetap tidak bisa istirahat. “Walaupun saya telah pindah ke kamar hotel lain, hingga pagi, tidak bisa memejamkan mata. Bayangan sosok perempuan berambut panjang, belum hilang di pelupuk mata saya,” kenang Roni.

Walaupun begitu, karena menjaga profesionalisme, tugas di hari kedua sebagai fasilitator pelatihan tetap ia lanjutkan. Begitu acara selesai, Roni memutuskan segera kembali ke Yogyakarta.

Hari berikunya, Roni telah berada di rumahnya dan berkumpul dengan istri dan anak-anaknya. Barulah ia merasa lega dan bisa benar-benar istirahat.

Ia baru tahu bahwa rumor tentang hotel mewah itu angker, ternyata benar. Pengalaman yang ia alami telah membuktikan cerita itu bukan omong kosong.

Ketika Roni mendengar berita gonjang-ganjing tentang keberadaan hotel itu, ia sudah tidak heran. Puncaknya, pada 21 Maret 2018, hotel yang berada di Jl. R.E. Martadinata No. 1, Ancol, Jakarta Utara, itu benar-benar ditutup.

Setelah sempat bertransformasi dari Hotel Ancol kemudian menjadi Hotel Alexis, izin usahanya berakhir karena diduga telah menyelenggarakan usaha prostitusi. Konon, selain prostitiusi, banyak pula transaksi narkoba.

Dan yang tak kalah kontroversinya adalah banyaknya roh halus yang menghuni hotel sejak awal berdiri. Dan kali ini, Roni menjadi saksi atas rumor itu.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?