• News

  • Sisi Lain

Anak Gadisnya Diminta Genderuwo, Setiyo Menolak Uang Sekoper

Ilustrasi sesaji untuk mendapatkan pesugihan
istimewa
Ilustrasi sesaji untuk mendapatkan pesugihan

PURWOREJO, NETRALNEWS - Kembali, suatu anugrah diperoleh tim Netralnews karena berhasil berkomunikasi dan mendapatkan cerita tentang pengalaman seorang narasumber yang pernah berusaha mencari pesugihan.

Ia adalah Setiyo (52), lelaki yang tinggal di Dukuh Demangan, Desa Condongsari, Kecamatan Banyuurip,  Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Kesaksiannya cukup memukau untuk kita simak.

“Sejak kecil saya sudah hidup terpisah dengan orang tua. Saya dibesarkan oleh kakek nenak saya, dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas,” tutur Setiyo kepada NNC pada Senin (18/3/2019).

Kakek Setiyo ternyata berprofesi sebagai kusir delman atau dokar. Dan memang, hingga kini, delman masih dipertahankan sebagai alat transportasi di beberapa ruas jalan di Kabupaten Purworejo.

Bukan karena pemerintah daerah Kabupaten Purworejo berpikiran kuno, namun kerena delman memang dipertahankan sebagai salah satu warisan dan tradisi masa lalu.

Delman adalah jejak peradaban masa lampau dan menjadi salah satu kekhasan kota Purworejo.

Hanya saja, para kusir delman memang hidup serba pas-pasan. Pelanggannya didominasi oleh orang yang menghargai sejarah. Sementara orang yang diburu oleh waktu, lebih banyak menggunakan angkutan umum atau ojek.

Akibatnya, pendapatan para kusir delman tidak berlimpah. Pendapatan itu hanya cukup untuk membeli makanan kuda peliharaan yang menjadi satu-satunya tenaga penarik delman. Dan sisanya, akan habis untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya sehari-hari.

Untuk menabung atau membiayai pendidikan anak cucunya hingga bangku kuliah, tak akan mungkin mencukupi. Dan kalaupun anak atau cucunya harus kuliah, biasanya harus menjual tanah. Itu pun bagi kusir delman yang memiliki lahan tanah.

Bila tidak memiliki tanah untuk dijual, maka anak dan cucunya hanya mengenyam bangku sekolah hingga tamat SMP atau SMK. Setelah itu, harus mencari kerja. Dan kalau tidak terserap di pasar tenaga kerja, maka akan menjadi petani dengan lahan ala kadarnya.

Singkat cerita, Setiyo menyaksikan bahwa hidup terasa begitu keras. Ia yang hanya tamat hingga bangku SMP, memutuskan bekerja di perusahan penggergajian.

Ia sebenarnya pantas bersyukur. Walaupun hanya tamat SMP, ia bisa menguasai teknik pengelasan dan mengasah mesin gergaji secara otodidak.

Hari demi hari, bulan, dan tahun pun berlalu. Selama bekerja keras di perusahaan kayu itu, secara ekonomi ia merasakan tak ada perubahan. Ia sejak kecil hidup susah dan hingga beranak dua, tetap saja hidup serba pas-pasan.

Ia menginginkan perubahan. Hingga ia memiliki kesadaran, bahwa perubahan hanya bisa terjadi bila ia memiliki banyak uang. Dengan uang banyak, ia bisa membuka usaha sendiri, membeli lahan pertanian, menyewakan toko, dan lain sebagainya.

Ia mendengar kabar bahwa ada suatu cara khusus untuk bisa mendapatkan harta kekayaan atau uang dengan cepat. Kekayaan bisa diperoleh dengan menempuh sejumlah ritual bersifat supranatural.

“Mulannya, hati saya sudah sangat mantap. Saya besedia menyediakan seluruh syarat agar bisa memperoleh kekayaan atau pesugihan sehingga bisa keluar dari kemiskinan,” kata Setiyo menjelaskan alasannya mengambil pesugihan.

Atas bimbingan seorang dukun, dan ditemani sahabat karibnya, Setiyo menyanggupi untuk memenuhi seluruh persyaratan. Bila dihitung, total nominal dari syarat pesugihan, ternyata tidak sedikit.

“Saya pinjam uang sana sini, dan total menghabiskan dana sekitar sepuluh juta, dari mulai untuk proses awal hingga akhir ritual pesugihan,” kata Setiyo.

Dana itu meliputi jasa untuk dukun dan pembelihan bahan-bahan aneka rupa sesaji. Ada yang berupa ayam cemani atau ayam hitam sepasang, aneka rupa makanan, aneka rupa kembang, aneka rupa perkakas, dan sebagainya.

Dan setelah syarat dipenuhi, sang dukun atau perantara Setiyo kemudian membacakan mantra khusus dari petang hingga tengah malam.

Sang dukun juga telah melakukan rangkaian tirakat atau puasa agar roh yang bisa memberikan pesugihan benar-benar datang dan mau diajak membuat suatu perjanjian.

Ritual memanggil pesugihan itu dilaksanakan di sebuah rumah kosong, tidak jauh dari rumah kakeknya. Namun orang sekitar tak menyadari apa yang sedang Setiyo Lakukan.

“Roh yang dipanggil dukun untuk diajak melakukan perjanjian adalah sebangsa jin. Dan kala itu yang datang adalah berjenis gederuwo atau gandarwa, yang menghuni pohon asam tidak jauh dari rumah kosong,” papar Setiyo.

Maka tibalah tengah malam yang ditunggu. Genderuwo yang ditunggu-tunggu benar-benar datang berkat ritual doa sang dukun. Sementara sang dukun terus membakar dupa dan berdoa, Setiyo diminta melakukan tawar-menawar denga jin tersebut.

“Jadi, sesaji yang saya berikan sudah diterima oleh genderuwo itu. Makanya ia mau datang,” kata Setiyo menirukan pernyataan genderuwo itu. Menurutnya, sosok genderuwo yang menemuinya adalah tinggi, besar, berambut lebat, dan mulutnya bertaring dengan mata merah.

Dan ternyata, maksud dan tujuan Setiyo sudah diketahui oleh genderuwo itu. Setiyo membutuhkan kekayaan agar bisa keluar dari kemiskinan. Dengan sesaji itu, Setiyo memohon bantuan bisa diberikan kekayaan yang cukup untuk merubah nasibnya.

“Ternyata genderuwo itu mengatakan bahwa sesaji saja tidak cukup. Sesaji hanya untuk syarat agar ia bisa menampakkan dirinya dan bisa melakukan percakapan layaknya manusia. Ia meminta syarat lain,” tutur Setiyo.

Dan tak tanggung-tanggung, genderuwo itu ternyata juga sudah membawa uang yang disiapkan untuk diberikan kepada Setiyo, jika kesepakatan bisa dicapai.

“Di hadapan saya, genderuwo menyodorkan uang sekoper penuh, berisi lembaran ratusan ribu rupiah. Banyak sekali. Katanya, jumlahnya sampai sekitar dua milyar rupiah. Dan uang itu juga dilihat oleh rekan saya. Jadi, itu bukan mimpi, tapi benar-benar lembaran uang rupiah,” kata Setiyo meyakinkan.

Setiyo pun menyatakan mau menerima uang itu dan menanyakan syarat lain yang diminta genderuwo. “Genderuwo itu menggeram, lalu bilang, ia meminta tumbal nyawa anak gadis saya,” kata Setiyo yang mengaku kemudian terasa lunglai sekujur tubuhnya.

Ia sadar hanya memiliki dua anak, lelaki dan perempuan. Anak gadisnya adalah anak perempuan satu-satunya yang ia cintai. Dan ia mencari pesugihan, salah satunya adalah agar anaknya gadisnya bisa merasakan hidup senang dan tidak merasakan susah seperti yang ia alami selama ini.

Lalu untuk apa jika karena uang itu, lantas anak gadisnya mati sebagai tumbal? Nalar Setiyo berfungsi. Ia melakukan penawaran.

“Saya sempat menawar agar tumbalnya adalah nyawa saya sendiri. Namun ternyata, penawaran saya ditolak. Genderuwo tetep kekeuh hanya mau memberikan uangnya, kalau saya memberikan tumbal anak gadis saya,” kata Setiyo.

Di batas waktu yang telah diberikan dukun, pertemuan antara Setiyo dan genderuwo ternyata tidak diraih kesepakatan. Dan menjelang subuh, terlihat asap tebal membumbung tinggi dari rumah kosong itu. Genderuwo pergi dengan membawa uang pesugihan dan meninggalkan Setiyo karena tidak diraih kesepakatan.

Bengkel kusen dan mebel kayu milik Setiyo di Purworejo

Sejak kejadian itu, Setiyo merasa sadar bahwa anak dan keluarganya jauh lebih berharga dibanding uang milyaran rupiah. Ia lebih menghargai hidup sederhana, asalkan selalu bersama dengan anak dan istrinya.

Tahun 2010, Setiyo memiliki sedikit dana yang ia sisihkan dari kerja kerasnya. Ia merintis membuka bengkel kusen jendela, kusen pintu, aneka mebel kayu seperti meja kursi, almari, dan sebagainya.

Ia juga tekun mengikuti kegiatan keagamaan. Katanya, “Pertobatan saya sungguh mahal harganya. Tetapi Puji Tuhan, saya pernah merasakan hari-hari buruk yang hampir melupakan jalan Tuhan,” kata Setiyo yang kini aktif dalam hidup komunitas gereja di Purworejo.

Walau hari-harinya masih diliputi dengan keterbatasan, namun ia merasa jalan hidupnya sudah tidak menyimpang lagi. Ia kini bisa bersyukur karena dahulu tidak jadi menyepakati perjanjian untuk mendapat pesugihan dari genderuwo.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?