• News

  • Sisi Lain

Ketahuilah! Roh Halus Ini Ternyata Menjadi Penentu Kemenangan Pemilu

Pemilihan kepala desa di Lumajang, 1948
Het Nationaal Archief
Pemilihan kepala desa di Lumajang, 1948

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hajat demokrasi (pemilu) tahun 2019 yang digelar bangsa Indonesia segera tiba. Sekitar 7 bulan, berbagai aksi kenduri menarik simpati massa telah berakhir. Sementara menunggu pelaksanaan pemilu tanggal 17 April 2019, semua sedang diajak menenangkan diri (masa tenang).

Unik bila kita menengok tradisi suku Jawa saat menghadapi detik-detik pelaksanaan pemilu. Selain kampanye, pemasangan gambar calon pemimpin yang akan dipilih, ada juga ritual yang dinanti-nanti semua orang Jawa.

Pada malam hari sebelum pemilu, konon akan datang kekuatan gaib yang melayang di langit lepas. Bentuknya seperti cahaya bulan berwana putih meluncur menuju kediaman calon pemimpin yang akan terpilih atau yang akan beruntung dan memenangi pemilu.

Cahaya misterius itu biasa juga disebut “pulung”. Ada juga yang menyebutnya “daru”. Ia  sebenarnya sejenis roh halus. Dan setiap kali pemilu (daerah maupun pusat) digelar, penampakannya, akan ditunggu-tunggu oleh orang Jawa.

Orang yang tidak dihinggapi pulung pada malam menjelang pelaksanaan pemilu, dipastikan tidak akan memperoleh keberuntungan dan kemenangan. Mari kita telusuri sosok pulung secara lebih jauh.

Pulung sebagai roh halus

Menelusuri asal usul pulung akan membawa kita kepada sistem kepercayaan kuno suku Jawa. Bisa jadi, kepercayaan ini sudah ada sebelum agama Hindu tersebar di Pulau Jawa. Sebab, ada unsur animisme yang kemudian mendapat pengaruh budaya Hindu.

Pulung dipercaya merupakan wujud lain dari roh halus bernama “Danyang”. Sebenarnya, Danyang itu seperti apakah?

Mengutip kajian Capt RP Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa (2009: 120), Danyang (juga sering ditulis Dhanyang) atau Baureksa, yakni roh pendiri, pembuka desa, atau leluhur yang telah meninggal.

Roh halus itu bisa menampakkan diri kepada manusia yang masih hidup untuk menyampaikan suatu pesan tertentu. Keberadaannya tidak menyakiti dan tidak mengganggu (tidak merugikan) manusia yang masih hidup.

Danyang dipercaya tinggal di lokasi tertentu. Ia bisa menghuni pohon besar atau bangunan tertentu yang dianggap keramat oleh warga desa. Dan karena ia betah dan menyukai tempat itu, maka ia juga ikut menjaga dan melindungi semua entitas yang ada di sekitarnya.

Danyang dipercaya bisa membantu orang-orang desa agar terhindar dari malapetaka. Danyang bisa juga memberi firasat jika akan ada bencana atau bahaya seperti wabah penyakit, serangan hama, banjir, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, Danyang tidak boleh diperlakukan secara tidak sopan atau tidak hormat. Sebab, jika ia marah, maka akan meninggalkan kediamannya sehingga warga desa tidak lagi dilindungi lagi.

Orang Jawa akan memberikan penghormatan kepada Danyang melalui pemberian sesaji di tempat-tempat keramat yang dipercaya menjadi tempat yang dihuni para Danyang.

Kadang, ada juga upacara adat (ritual selametan) yang khusus diselenggarakan warga desa untuk menghormati Danyang. Upacara itu juga ditujukan sebagai ungkapan terima kasih dan permohonan keselamatan.

Upacara adat selametan biasanya diadakan pada bulan Sura dan Ruwah menurut penanggalan Jawa.  Selain memohon berkah keselamatan, upacara ini juga menjadi media menghubungkan alam nyata dengan dunia roh leluhur, terutama roh Danyang desa.

Dahulu menjadi pemimpin lokal

Dahulu kala, Pulau Jawa dipenuhi hutan belantara. Datanglah seseorang yang membabat hutan dan mendirikan permukiman, lalu beranak-pinak di tempat itu.

Daerah itu kemudian berkembang menjadi kampung. Dari kampung, kemudian berkembang menjadi desa. Orang itu kemudian menjadi sesepuh atau yang dituakan dan bertugas memimpin warga yang tinggal di permukiman tersebut.

Sebagai pemimpin, ia memiliki wewenang mengatur, membagikan lahan, membagi hasil bumi, membuat aturan adat, mengarahkan warga, dan sebagainya. Inilah cikal bakal lurah atau kepala desa yang paling awal.

Akhirnya, orang itu meninggal. Oleh warga yang ditinggalkan, jasadnya akan dikubur di lokasi tertentu yang kelak akan menjadi pusat supranatural warga desa. Biasanya disebut “punden”.

Di makam pendiri desa itu, kadang juga ditanam pohon yang kelak akan menjadi pohon-pohon besar dan tidak boleh ditebang. Dan walaupun sudah mati, warga akan rutin datang ke makamnya untuk memberi penghormatan dan memberikan sesaji.

Pulung yang dinantikan

Beranak-pinak dan semakin besarlah penduduk desa tersebut. Lalu, munculah sistem pemilihan pemimpin kampung atau pemimpin desa, yang kemudian disebut “lurah”. Orang Jawa percaya, menjelang pemilihan lurah, Danyang atau roh leluhur itu akan menampakkan diri.

Penampakan pulung adalah wujud restu atau berkah bagi seseorang yang dipercaya Danyang bisa memimpin warga desa. Jadi, walaupun akan ada pemilu dan penghitungan suara para pemilih calon pemimpin, keberadaan pulung dipercaya jauh lebih menentukan.

Sebab, ketika pulung hinggap di salah satu calon pemimpin, orang Jawa percaya, maka ia yang dipastikan akan terpilih menjadi pemimpin.

Ketika pemimpih terpilih atau penerima pulung berakhir masa jabatannya atau meninggal dunia, maka roh pulung yang diterimanya juga akan ikut pergi. Pulung kemudian akan muncul lagi di malam pemilihan calon penggantinya (pemilu) berikutnya. Demikianlah seterusnya.

Para pemimpin desa yang telah meninggal, yang selama memimpin terbukti mengayomi warga dengan adil dan bijaksana, maka rohnya akan bersatu dengan Danyang.  Namun jika saat memimpin ternyata melakukakan angkara murka, maka rohnya akan ditolak bersatu.

Mereka inilah yang biasa disebut sebagai anak-anak Danyang. Dan anak-anak Danyang akan tunduk kepada Danyang yang tertua atau Danyang pendiri desa.

Kumpulan Danyang itulah yang akan menjaga keberadaan desa dari segala gangguan. Sebab, warga desa tak lain dan tak bukan adalah keluarga besar yang dicintai oleh para Danyang.

Jadi, ketika bangsa Indonesia melaksanakan pemilu hari Rabu 17 April 2019, bisa jadi, orang Jawa yang masih menganut sistem kepercayaan ini, akan melakukan puasa khusus agar bisa melihat penampakan sosok-sosok Danyang hinggap di kediaman para caleg legislatif dan capres-cawapres.

Mungkin Anda salah satu yang tertarik mengikuti ritual tersebut?

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?