• News

  • Rukun Suku Nusantara

Ini Perbedaan Suku Baduy dan Suku Dayak

Ilustrasi Suku Baduy
Hipwee
Ilustrasi Suku Baduy

JAKARTA, NNC - Indonesia sungguh terkenal dengan bangsa yang super majemuk dan memiliki beragam suku. Masing-masing suku atau etnis itu memiliki beragam cara dalam mengatur kehidupan dengan landasan adat istiadat yang unik.

Sudah banyak suku dengan masyarakat yang mengelola kehidupan mereka berdasarkan ajaran-ajaran agama modern, seperti Islam, Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, serta Budha.

Namun, masih banyak suku, terutama suku-suku primitif di daerah-daerah pedalaman yang menjalankan kehidupan mereka berdasarkan pada tradisi leluhur, seperti dalam hal kepercayaan, misalnya tentang relasi mereka dengan alam sekitarnya.

Meskipun pada suku-suku ini sudah menganut agama seperti yang disebutkan di atas, namun banyak dari mereka belum juga lepas dari tradisi-tradisi dengan kepercayaan yang diturunkan oleh para leluhur mereka. 

Suku Baduy dan Suku Dayak adalah contohnya. Sejauh mana persamaan dan perbedaan kedua suku ini dalam menjalankan kehidupan mereka? Menarik untuk ditelusuri dan disimak.

Suku Baduy
Orang Baduy atau Suku Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 jiwa. Mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan tradisi hidup dengan mengisolasikan diri dari dunia luar yang sudah dipintal modernitas.

Selain itu, mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto. Baduy merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut. Berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden).

Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai Urang Kanekes atau "Orang Kanekes", sesuai dengan nama wilayah mereka yang disebut wilayah Kanekes. Orang Kanekes masih memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Hal yang membedakannya adalah kepercayaan dan cara hidup mereka.

Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka terhadap pengaruh asing dan mayoritas memeluk atau menganut agama Islam.

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Tangtu, Panamping, dan Dangka.

Kelompok Tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat memegang teguh adat istiadat leluhur. Mereka tinggal di tiga kampung, yakni Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik.

Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua, serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing (non-WNI).

Sebagian peraturan yang dianut oleh Orang Kanekes Dalam antara lain, tidak diperkenankan menggunakan teknologi, kendaraan untuk sarana transportasi, tidak diperkenankan menggunakan alas kaki. Pintu rumah harus menghadap ke Utara atau Selatan.

Kelompok masyarakat kedua yang disebut Panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar). Mereka tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya.

Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.

Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar, antara lain karena melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam, berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam, dan menikah dengan anggota Kanekes Luar.

Kelompok yang ketiga adalah Kanekes Dangka. Berbeda dengan Kanekes Dalam dan Kanekes Luar yang tinggal di wilayah Kanekes, maka Kanekes Dangka justru tinggal di luar wilayah Kanekes. Saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar.

Suku Dayak (Tanah Nusantara)

Suku Dayak
Lalu, bagaimana dengan Suku Dayak. Suku yang mayoritas tinggal di Kalimantan ini adalah kumpulan berbagai subetnis Austronesia yang dianggap sebagai penduduk asli yang mendiami Pulau Kalimantan. Lebih tepat lagi adalah yang memiliki budaya sungai di masa sekarang, yaitu setelah berkembangnya Agama Islam di Borneo.
 
Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok dan tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan.

Ada literaur yang mengatakan bahwa Suku Dayak itu berasal dari Tiongkok sekira ribuan tahun lalu. Kulit kuning langsat adalah salah satu indikasinya. Namun, hal ini tidak disorot secara khusus dalam tulisan singkat ini.

Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya tidak terlalu suka memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani dan tidak kenal menyerah atau pantang mundur.

Penduduk Dayak memiliki dasar kepercayaan Kaharingan. Istilah Kaharingan diambil dari kata Danum Kaharingan yang berarti air kehidupan. Suku Dayak sangat menghormati alam, tetapi tidak seketat Suku Baduy seperti diuraikan di atas.

Orang Dayak percaya bahwa di dunia ini banyak terdapat roh-roh halus. Mereka percaya akan Sangiang (roh yang tinggal di tanah dan udara), Timang (roh yang tinggal di batu keramat), Tondoi (roh yang tinggal di bunga), Kujang (roh yang tinggal di pohon), dan Longit (roh yang tinggal di mandau-mandau).

Roh nenek moyang Suku Dayak sangat berpengaruh pada kehidupan. Ini tentu memiliki kesamaan dengan Suku Baduy, bahkan juga banyak suku di Nusantara yang kental dengan ritual adat dalam menghormati leluhur.

Suku Dayak tidak memiliki pembagian masyarakat, misalnya Dayak Dalam dan Dayak Luar seperti Suku Baduy.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?