• News

  • Wisata

Isen Mulang, Budaya Dayak Penuh Magis, Pantang Pulang Sebelum Menang

Isen Mulan merupakan budaya yang memperlihatkan keberanian orang Dayak.
Genpi
Isen Mulan merupakan budaya yang memperlihatkan keberanian orang Dayak.

JAKARTA, NNC - Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) menjadi daya tarik dan kekuatan tersendiri. Acara ini akan digelar di Kota Palangkaraya pada 18-24 Mei 2019.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Guntur Talajan menjelaskan, Kalteng tahun ini memiliki 167 event tingkat daerah, provinsi, nasional, dan internasional. Sementara FBIM 2019 merupakan satu-satunya event yang masuk dalam 100 Calender of Event Wonderful Indonesia (CoE WI).

"FBIM 2019 akan dijadikan sebagai momentum untuk mempromosikan potensi wisata budaya serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kalteng yang tahun ini ditargetkan mencapai 553.000 wisatawan,” kata Guntur Talajan, Selasa (19/3/2019).

Apa makna dibalik cerita budaya ini? Bagaimana dengan slogan Isen Mulang? Apakah terjemahan Isen Mulang menjadi Maju Tak Gentar, Pantang Menyerah, itu rasuk dengan ide aslinya sebagaimana yang terdapat dalam budaya Dayak?

Dilansir dari JurnalToddopoli, dijelaskan Isen Mulang sebagai sebuah diskursus atau wacana mengandung pengertian tidak pulang kalau tidak menang. Artinya sekali orang Dayak memutuskan turun ke medan laga, sangat memalukan jika ia pulang tanpa membawa kemenangan. Karena itu lebih baik pulang nama dari pada pulang menating kekalahan.

Bagi yang pulang kalah, yang bersangkutan tidak akan mempunyai tempat menaruh muka di depan masyarakat. Ia tidak dipandang sebelah mata lagi. Daripada pulang tidak lagi dipandang oleh masyarakat kampungnya, pertanda bahwa ia bukan seseorang yang ‘’mamut-menteng, pintar-harati, mameh-ureh, andal dia batimpal’’ (gagah-berani, cerdik-berbudi, urakan dan tekun, hebat tiada bertara), maka  dari pada hidup menanggung malu, lebih baik bertarung habis-habisan merebut kemenangan.

Kalaupun mati dalam pertarungan ini, hidup, harkat dan martabatnya telah ia bela dengan semestinya sebagai seorang Dayak. Secara lambang, pandangan dan sikap Isen Mulang ini diungkapkan dengan ‘lawung bahandang’’ (ikat kepala merah), malahap atau manakir petak (menumiti bumi). Sekali Uluh Itah mengenakan lawung bahandang, memasang mangkok merah, malahap atau manakir pétak, artinya ia siap turun berlaga dengan motif seperti di atas.

Sesuai diskursus demikian maka Utus Itah menyebut diri sebagai Utus Panarung, wajah dari manusia ideal atau idaman. Isen Mulang sebagai bagian dari tatanan nilai tentang manusia idaman, dinyatakan pula dengan pandangan rendah terhadap seorang pendusta, yang kata dan perbuatannya berbeda, pada pengkhianat, pencuri.

Isen Mulang merupakan bagian tak terpisahkan dari filosofi hidup-mati Manusia Dayak yang mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, termasuk ke dalam sastra-seni. Karena itu mengindonesiakan Usen Mulang dengan Maju Tak Gentar atau Pantang Menyerah, barangkali sangat tidak memadai, untuk mengatakan sangat tidak rasuk. Maju Tak Gentar dan atau Pantang Menyerah tidak mampu menampung keluasan dan kedalaman diskursus Manusia Dayak dahulu tentang hidup-mati.

Tapi kiranya diskursus Isen Mulang sebagai bagian tak terpisahkan dari filosofi Dayak termasuk diskursus yang masih sangat tanggap zaman untuk diejawantahkan, perlu dikhayati.

Barangkali diskursus Isen Mulang lebih menyeluruh. Jelas juga bahwa Isen Mulang sebagai dikursus jauh berbeda dari wacana “mampir ngumbé’’ Orang Jawa. 

Boleh jadi, kajian terhadap wacana Utus Panarung dengan Isen Mulang-nya bisa  memberi sumbangan yang pantas dilirik oleh ilmu sosial dunia. Sayangnya di Kalteng, untuk menghargai diri sendiri saja agaknya masih sesuatu masalah yang tidak sederhana.

Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?