• News

  • Rukun Suku Nusantara

Menyelami Sunda Cianjuran, Jiwa Bisa Hanyut dan Bergetar

Seni mamaos suku Sunda Cianjuran
dicianjur.com
Seni mamaos suku Sunda Cianjuran

CIANJUR, NNC - Dapat dipastikan bahwa tidak ada suku Nusantara yang tidak memiliki tradisi yang diturunkan dari para leluhurnya masing-masing. Tradisi-tradisi itu terus berkembang dengan kemasan-kemasan baru.

Coba ditelusuri dari Merauke hingga Sabang dan dari Sangir Talaut hingga Rote di titik Nol Selatan Indonesia. Semua suku itu masih hidup dalam balutan tradisi-tradisi itu, meskipun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah merasuk dalam tata kehidupan suku-suku tersebut.

Apabila dipotret, dikerling, dan disimak secara lebih runtut dan saksama terhadap kehidupan masyarakat yang dibaluti tradisi adat dan budayanya, sebenarnya sangat indah dan mengagumkan.

Contohnya adalah dalam tradisi perkawinan di berbagai suku di Nusantara. Mulai dari proses lamaran atau pertunangan hingga tradisi malam pengantin, memiliki keunikannya masing-masing.

Bisa juga kita simak tentang adat dan budaya dari suku-suku itu dalam kesenian, nyanyian, atau tembang, dan tarian-tariannya.

Apalagi bila kita tahu arti, makna, dan filosofi dari setiap ritual adat dan budaya yang dijalankan oleh masyarakat dari suku-suku di Nusantara itu. Semua itu bisa membawa jiwa hanyut dalam keindahan yang menggetarkan.

Salah satu tradisi budaya agung itu adalah filosofi masyarakat adat Sunda Cianjuran, di Provinsi Jawa Barat, yang terkenal dengan nama ngaos, mamaos, dan maenpo.

Ngaos adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana dan nuansa Cianjur dengan masyarakat yang dilekati dengan keberagamaan.

Citra sebagai daerah agamis ini konon sudah terintis sejak Cianjur lahir sekitar tahun 1677 di mana wilayah Cianjur ini dibangun oleh para ulama dan santri tempo dulu yang gencar mengembangkan syiar Islam.

Itulah sebabnya Cianjur yang merupakan gudang santri dan kyai itu mendapat julukan sebagai Kota Santri.

Apabila dikerling sekilas tentang sejarah perjuangan di tatar Cianjur jauh sebelum masa perang kemerdekaan, ternyata kekuatan perjuangan kemerdekaan pada masa itu, tumbuh dan bergolak pula di pondok-pondok pesantren.

Maenpo, adalah seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan.  Maenpo juga memotretkan ketangguhan hidup masyarakat Cianjur dalam menjalankan hakekat kehidupannya, dari kedisiplinan dan kerja keras dalam menjalani hidup.

Aliran pencak silat ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan. Dalam maenpo dikenal ilmu liliwatan (penghindaran) dan peupeuhan (pukulan).

Dengan kerja keras sebagai implementasi dari filosofi maenpo, masyarakat Cianjur selalu menunjukan semangat keberdayaan yang tinggi dalam meningkatkan mutu kehidupan.

Liliwatan, tidak semata-mata permainan beladiri dalam pencak silat, tetapi juga ditafsirkan sebagai sikap untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang maksiat. Sedangkan peupeuhan atau pukulan ditafsirkan sebagai kekuatan di dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.

Sedangkan mamaos (melantumkan syair) adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup.

Seni mamaos Tembang Sunda Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa, yang apabila dipraktekkan dan dihayati, sungguh menggetarkan jiwa.

Mamaos adalah seni suara suku Sunda Cianjuran yang dinyanyikan dengan tujuan agar kita bisa berhubungan dengan tiga hal, yaitu manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan Sang Pencipta.

Lagu-lagu mamaos terdiri dari jenis tembang dengan pola Kinanti Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula, serta ada di antaranya lagu dari pupuh lainnya.

Lagu-lagu dalam wanda papantunan di antaranya Papatat, Rajamantri, Mupu Kembang, Randegan, Randegan Kendor, Keloan, Manyeuseup, Balangenyat, Putri Layar, Pangapungan, Rajah, Gelang Gading dan Candrawulan.

Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (kecapi besar dan kecapi rincik atau kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaan-Nya.

Pada masa awal penciptaannya, mamaos Cianjuran merupakan revitalisasi dari seni pantun. Kecapi dan teknik memainkannya masih jelas dari seni pantun. Begitu juga lagu-lagunya hampir semua berupa sajian seni pantun.

Pada awalnya juga, mamaos  berfungsi sebagai musik hiburan alat silaturahmi di antara kaum menak. Tetapi sekarang lebih diarahkan pada seni hiburan khas Cianjuran untuk mendapatkan profit. Oleh para seninam, mamaos  biasanya diadakan pada saat hajatan perkawinan atau acara pamer budaya.

Apabila filosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan simbol rasa keber-agama-an, kebudayaan, dan kerja keras.

Dengan keber-agama-an, sasaran yang ingin dicapai adalah terciptanya keimanan dan ketakwaan masyarakat melalui pembangunan akhlak yang mulia.

Dengan kebudayaan, masyarakat Cianjur ingin mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki adab, tatakrama, dan sopan santun dalam tata pergaulan hidup.

Itulah seni budaya Sunda Cianjuran yang memotretkan filosofi kehidupan masyarakatnya yang indah dan mengagumkan.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?