• News

  • Rukun Suku Nusantara

Filosofi Jawa Tentang Lawan Politik: ‘Bisa Dipelihara, Bisa Juga Menggigit’

Seorang kakek dari suku Jawa sedang bercengkerama dengan dua cucunya
atmago.com
Seorang kakek dari suku Jawa sedang bercengkerama dengan dua cucunya

YOGYAKARTA, NNC - Budaya Jawa itu unik maka orang Jawa pun memiliki karakter unik. Mereka sulit ditebak. Seolah lembek tetapi kuat, dikira keras tetapi lembut.

Dari sekian banyak jenis budaya dan karakteristik orang Jawa, ada satu filosofi yang cukup menarik untuk dibahas, terkait dengan masa menjelang pesta demokrasi yang sebentar lagi akan digelar bangsa Indonesia.

Filosofi itu adalah tentang prinsip-prinsip bertetangga. Disarikan dari buku karya Sri Wintala Achmad dalam buku Asal-Usul dan Sejarah Orang Jawa (2017), ada beberapa kalimat mutiara yang mencerminkan bagaimana filosofi kehidupan bertetangga dianut oleh orang Jawa.

Filosofi hidup bertetangga ini juga bisa menjadi tolok ukur bagaimana pola pikir orang Jawa dalam menyikapi lawan politik dalam Pemilu Tahun 2019. Bukankah dalam menjelang pemilu tahun ini antar kubu saling menyebut “tetangga sebelah”?

Artinya, bila ingin mengetahui budaya kubu lawan politik yang berasal dari Jawa, tak ada salahnya mencermati beberapa poin filosofi berikut.

1.  Sama dengan bapak dan ibu

Pepatah  orang Jawa menyebutkan, “Tonggo iku podho karo bapak biyung.” Artinya, “Tetanggga itu sama dengan bapak dan ibu. Mereka adalah pasangan interaksi hidup kita yang hendaknya diliputi oleh ikatan kasih sayang.

Hidup bertetangga itu sakral seperti ikatan bapak dan ibu. Hubungan itu pada mulanya  dan hakikatnya suci namun rentan ternodai.

Bapak itu berbeda dengan ibu. Bapak tidak sama dengan ibu. Namun karena dilandasi satu tujuan, yaitu meraih kebahagian bersama, maka keduanya bisa berjalan seiring ke arah yang sama. Bila arahnya bertentangan, bukanlah hidup bertetangga.

Dalam konteks keindonesiaan, bila sama-sama masih ingin menegakkan UUD 1945 dan Pancasila, maka semua kubu adalah jelas merupakan tetangga yang masih satu tujuan. Namun bila ada kubu yang ingin mengganti idiologi UUD 1945 dan Pancasila, maka ia bukan lagi tetangga.

2.  Suka bertetangga pertanda orang baik

Pepatah orang berikutnya  mengatakan, “Sing sopo ora seneng tetanggan kelebu wong kang ora becik.” Artinya, “Barang siapa tidak suka hidup bertetangga, ia tergolong orang yang tidak baik.”

Orang Jawa menghargai pentingnya berinteraksi, bersilaturahmi, anjangsana, dan berkomunikasi dengan tetangga (kubu lawan  politik). Bila ia tidak mau bergaul dengan tetangga dengan semestinya, justru menjauhi kemuliaan hidup.

3.  Tidak usah didekati, tapi jangan dimusuhi

Pepatah Jawa salanjutnya mengatakan, “Tonggo kang ora becik atine ojo dicedhaki, nanging ojo dimusuhi.” Artinya, “Tetangga yang tidak baik hatinya, jangan di dekati, tetapi jangan pula di musuhi.”

Apabila tetangga (kubu politik sebelah) memang tidak berniat baik menjalin relasi yang semestinya, tidak perlu memaksakan diri untuk mendekati mereka.  Namun, jangan pula memancing keributan seolah mereka adalah musuh. Lawan politik bukan berarti musuh.

4.  Jauhi bila memiliki sifat tidak pantas

Filosofi selanjutnya  menyebutkan, “Tonggo iku singkirono lamun darbe sipat kang kurang prayogo.”
Artinya, “Jauhi tetangga yang mempunyai sifat tidak sepantasnya.”

Dalam hal prinsip, tetangga (kubu politik sebelah) terpaksa harus dijauhi. Misalnya jelas mengetahui ada tetangga yang suka mengonsumsi narkoba atau menikmati praktik prostitusi, maka daripada terjebak dengan masalah itu, lebih baik segera menjauh.

Sebab, bila tetangga itu berurusan dengan aparat keamanan, justru bisa serba salah. Bila tidak ikut menikmati, akan dituduh sebagai pihak yang melaporkan ke polisi. Namun bila ikut menikmati, alamat kita terperosok dalam lumpur kehidupan baik di dunia maupun akhirat.

5.  Bisa dipelihara, bisa pula menggigit

Pepatah Jawa berikutnya, “Tetangga iku kadyo ulo umpamane, keno diingu nanging yo gelem nyokot.” Artinya, “Tetangga itu seumpama ular, bisa dipelihara tapi juga mau menggigit.”

Filosofi ini ada sedikit hubunganya dengan filosofi sebelum-sebelumnya. Bertetangga atau berinteraksi dengan kubu lawan politik, tetap dilandasi kasih, walau berbeda tetapi berjalan ke tujuan yang sama (menyejahterakan masyarakat).

Selama satu sejalan, maka relasinya bersifat produktif. Akan tetapi bila berbeda tujuan, walaupun ditutup-tutupi, suatu ketika ketahuan juga, maka hati-hatilah. Suatu saat, ia akan menelikung dan menghancurkan.

6.  Baik akan tetap baik dan sebaliknya

Filosofi Jawa terakhir adalah “Tonggo sing gelem tetulung iku titenono. Yen mangku arep iku bakal ketoro. Nanging yen sarana bebarengan urip bakal dadi konco selawase.”

Artinya, “Perhatikan tetangga yang suka menolong. Kalau punya pamrih pasti lekas terlihat. Tetapi kalau bertetangga menjadi sarana untuk senantiasa hidup bersama (damai), akan menjadi teman selamanya.”

Tetangga (kubu lawan politik) yang baik, pada akhirnya akan tetap baik. Walaupun terjadi debat sengit, namun tidak benci. Namun bila sebaliknya, keburukannya juga akan terlihat pada waktunya.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?