• News

  • Rukun Suku Nusantara

Menikmati Malam Pertama Bukan di Ranjang Hotel, Seharusnya di Sini!

Ilustrasi ranjang di kamar krobongan dalam rumah Jawa
deskgram.net
Ilustrasi ranjang di kamar krobongan dalam rumah Jawa

YOGYAKARTA, NNC - Seiring kemajuan zaman dan maraknya hedonisme, budaya suku Jawa yang satu ini sering dilupakan.  Budaya yang dimaksud adalah bagaimana tradisi Jawa mengatur tentang ritual pengantin menikmati malam pertama.

Bagi kalian yang akan menikah dengan orang Jawa, sebaiknya mengetahui dan mencermati budaya yang satu ini. Ketahuilah, para leluhur Jawa ternyata sudah memberikan arahan khusus agar pasangan pengantin tidak menikmati  malam pertama di ranjang hotel atau jenis penginapan lainnya.

Jadi, perlu diingat-ingat oleh generasi muda, bahwa di hotel saja tidak disarankan, apalagi di tempat lain yang tidak pantas dan semestinya. Bukankah malam pertama adalah saat yang sakral dan dinantikan?

Dan tentu saja, atas nama moralitas, kesucian, dan agama menikmati malam pertama (hubungan suami istri) hanya boleh dilakukan oleh lelaki dan perempuan yang telah melangsungkan pernikahan dan sah secara hukum sipil maupun agama.  

Lalu di manakah seharusnya pasangan pengantin suku Jawa boleh menikmati malam pertama?  Disarikan dari buku berjudul Asal-Usul dan Sejarah Orang Jawa (2017), Sri Wintala Achmad menyatakan kamar khusus bagi pengantin itu disebut krobongan. Berikut penjelasannya.

Filsafat rumah Jawa

Leluhur orang Jawa memberikan petuah kepada setiap generasi bahwa rumah sebagai tempat tinggal baru bisa disebut rumah yang baik apabila memenuhi syarat tertentu.

Dalam bahasa jawa, rumah disebut sebagai “omah” yang berasal dari kata “om” (angkasa atau bapa) dan “mah” (ibu atau pertiwi). Jadi, rumah adalah persatuan mikrokosmis dan makrokosmis.

Sementara rumah dalam sebutan “griya” berarti sebagai tempat berlindung sementara di dunia. Rumah hanya untuk singgah selama lahir hingga mati, sementara sesudah mati, tempat tinggalnya tidak lagi berda di “griya”.

Dan bangunan yang bisa disebut sebagai rumah yang baik menurut adat Jawa yaitu apabila memiliki ruang-ruang tertentu yang masing-masing ruang memiliki maknanya sendiri-sendiri. Ruang-ruang  itu adalah: pendhapa, pringgitan, dalem ageng, senthong, gandhok, dan pawon.

Pendhapa terletak di bagian depan rumah yang biasanya berupa ruang terbuka untuk menyambut dan menerima tamu. Ruang terbuka mengandung arti bahwa orang Jawa memiliki sifat terbuka terhadap siapa pun yang datang.  

Pringgitan merupakan ruang peralihan dari pendhapa menuju dalem ageng. Ruangan in biasanya digunakan untuk acara pageralaran wayang. Ada artinya, yaitu di sinilah orang Jawa memperlihatkan diri sebagai wayang(bayang-bayang).

Artinya, manusia hanyalah semata wayang yang hidupnya bergantung dan ditentukan oleh Sang Dalang, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.  

Dalem ageng merupakan bagian terpenting. Biasanya dikelilingi dinding atau tembok. Di dalam dalem ageng terdapat tiga ruang sethong (kamar), yaitu senthong tengen (kamar sebelah kanan), senthong tengah, dan senthong kiwo (kamar sebelah kiri).

Senthong tengen berfungsi sebagai tempat tidur anggota keluarga perempuan. Senthong kiwo berfungsi sebagai tempat tidur keluarga laki-laki. Lalu untuk apa senthong tengah atau kamar tengah?

Senthong tengah disebut juga krobongan. Ruangan inilah yang dianggap sangat sakral sebab di sini menjadi pusat penyimpanan harta pusaka dan pemujaan terhadap Dewi Sri (lihat: sub bab terakhir).  

Gandhok dan pawon adalah ruangan bagian belakang, di mana terdapat pawon atau ruang dapur dan toilet. Namun perlu dicatat, ruangan-ruangan bagian belakang itu terpisah dengan ruang utama (pringgitan dan dalem ageng).

Jadi, rumah orang Jawa, strukturnya dimulai dari ruang publik menuju area privat (area sakral). Pembagian ruangan biasanya simetris yang berhenti atau berpusat pada senthong tengah.

Ruang paling sakral

Seperti disinggung di atas, krobongan adalah bagian terpenting di dalem ageng.

Krobongan, paling tidak memiliki tiga fungsi. Pertama, sebagai ruang menyimpan harta pusaka. Kedua, sebagai ruangan menyimpan hasil panen pertama kalinya. Dan ketiga, difungsikan sebagai kamar malam pertama bagi pasangan pengantin baru.

Jadi, tempat bagi pasangan pengantin menikmati malam pertama adalah ruangan yang menjadi tempat menyimpan pusaka keluarga seperti tombak, keris, dan harta leluhur lainnya yang dianggap keramat.

Ranjang pengantin yang berada ruang krobongan adalah simbol kosmis penyatuan Dewa Kamajaya dengan Dewi Kama Ratih. Hubungan suami-istri  bagi pengantin untuk pertama kalinya adalah perwujudan ritual pemujaan suci hubungan kasih antara Dewa Kamajaya dan Dewi Kama Ratih.

Untuk benda-benda pusaka yang dianggap suci dan keramat yang disimpan di krobongan, jenisnya berbeda-beda  tergantung latar belakang dan status sosial pemiliknya.

Jenis pusaka seorang petani akan berbeda dengan seorang bangsawan. Untuk petani, biasanya berupa simbol-simbol untuk pemujaan kepada Dewi Sri . Dewi Sri dipercaya orang Jawa sebagai simbol kesuburan dan kebahagiaan dalam hidup berumah tangga.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?