• News

  • Rukun Suku Nusantara

Bayi Rewel dan Meronta-Ronta Pertanda Sedang Digoda ‘Roh Plasenta’

Ilustrasi bayi yang baru lahir
istimewa
Ilustrasi bayi yang baru lahir

GORONTALO, NETRALNEWS - Dalam sistem kepercayaan asli beberapa suku di Nusantara, plasenta atau ari-ari dipercaya merupakan “saudara kembar” si bayi. Oleh sebab itu, plasenta biasanya diperlakukan dengan sebaik-baiknya, layaknya seorang anak.

Kisah tentang bagaimana suku asli di Nusantara dalam memperlakukan plasenta bayi, dapat kita tengok dalam catatan seorang antropolog Perancis yang bernama François-Robert Zacot berjudul Orang Bajo, Suku Pengembara Laut (2008: 289-290).

Selama sekitar 30 tahun, François melakukan penelitian kehidupan suku Bajo yang tinggal di dua desa di Pulai Nain (Utara Manado) dan Desa Torosiaje, Gorontalo. Ia tinggal bersama orang Bajo dan mencatat semua peristiwa yang ia jumpai.

Suatu ketika, ia menjumpai kisah cukup unik tentang bagaimana kepercayaan suku Bajo memperlakukan plasenta atau ari-ari. Kala itu, François sedang berkunjung ke rumah seorang warga Bajo yang bernama Ua Si Nuhung.

Di rumah itu sudah ada Mbo Me yang merupakan seorang dongkaka atau dukun perantara antara dunia manusia dengan dunia roh. Keberadaan dongkaka dalam suku Bajo sangat penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bajo.

Suku ini memang hingga kini tetap mempertahankan budaya aslinya yang kental dengan penghormatan terhadap roh-roh yang dipercaya menghuni setiap sudut dan penjuru dunia.

Begitu melihat Mbo Me, François  tahu bahwa sebentar lagi akan diadakan suatu ritual. Ternyata, Ua Si Nuhung, hari itu memanggil Mbo Me untuk memimpin ritual tiba kakak, yaitu ritual yang ditujukan untuk menghormati “roh” plasenta atau ari-ari.

Ari-ari dalam adat Bajo, dipercaya merupakan “saudara tua” dari bayi yang baru dilahirkan. Bayi adalah Ndi atau adik dari si ari-ari. Dan layaknya dua saudara kembar, keduanya dipercaya memiliki hubungan khusus.

Hubungan khusus itu dirasakan oleh keluarga Ua Si Nuhung karena beberapa hari terakhir, ia memergoki anaknya sedang tersenyum, meronta, dan menangis sendiri dalam tidurnya. Sementara di sampingnya, tak ada seorang pun yang mengganggu.

Ua Si Nuhung dan istrinya yakin bahwa hal itu adalah akibat ulah “si kakak”, yaitu ari-ari yang sedang berkunjung dan mengganggu si Ndi, adiknya. Dan supaya “si kakak” tidak mengganggu lagi, maka “si kakak” harus diberi “makan” melalui ritual tiba kakak atau tiba tamuni.

Orang Bajo sadar bahwa setiap bayi, di awal bulan kelahiran, akan mengalami sedikit demam. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Demam itu merupakan hubungan antara si bayi dengan roh si ari-ari yang tinggal di dasar samudera.

Namun, ritual tiba kakak tetap penting dilakukan sebagai antisipasi agar demam si bayi tidak berlangsung lama. Sebab bila demam berlangsung lama, bisa berdampak buruk bagi si bayi. 

Sejumlah anak Suku Bajo di Konawe, Sulawesi Tenggara sedang berangkat ke sekolah (Foto: wego.co)

Dan tibalah saat dimana ritual itu dimulai. Mbo Me bersila di dalam kamar bersama Ua Si Nuhung dan istrinya.

Sesajen dalam kalongko (batok kelapa tanpa daging) sudah disiapkan. Di dalam kalongko ada tiga batang rokok sigaret, tiga butir kepalan nasi, potongan buah pinang dan kelapa, tembakau, dan garam.

Di pinggir kalongko dipasang lilin karena sesajen ini akan diberikan kepada roh ari-ari saat hari telah petang. Dengan demikian, nyala api lilin sekaligus digunakan untuk menerangi “si kakak” selama ia sedang “makan”.

Petang pun tiba. Mbo Me mengambil kalongko dan memutarnya tiga kali di atas asap kemenyan, dilanjutkan di atas kepala si bayi. Mbo Me kemudian berdiri dan berjalan menuju ke serambi sambil membawa kalongko yang lilinya sudah dinyalakan.   

Mbo Me turun ke anak tangga, kemudian meletakkan batok itu ke atas permukaan air. Perlu diingat, rumah-rumah suku Bajo selalu dibangun di atas permukaan air laut, bukan di wilayah daratan.

Kalongko berputar-putar seperti menari-nari dengan iringan kerlap-kerlip api lilin. Adegan itu seolah memberi tanda agar “si kakak” segera datang dan menyantap “makanan” yang telah disajikan untuknya.

Tak lama kemudian kalongka berhenti berputar dan perlahan-lahan tenggelam. Dengan demikian, “si kakak” dipercaya telah menyantap “makanan” yang disajikan sehingga diyakini tidak akan lagi mengganggu si bayi.

Demikianlah sistem kepercayaan Orang Bajo dalam memperlakukan ari-ari atau plasenta bayi, melalui ritual tiba kakak.  Sistem kepercayaan dan ritual tersebut adalah salah satu ciri khas suku Bajo yang harus kita hormati sebagai kekayaan budaya negeri ini.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?