• News

  • Rukun Suku Nusantara

Bukan Sekedar Adu Jago, Ini Soal Politik Siapa Tersakti dan Terhormat

Para lelaki tempo dulu dengan ayam aduan yang mereka pelihara
istimewa
Para lelaki tempo dulu dengan ayam aduan yang mereka pelihara

JAKARTA, NETRALNEWS - Tradisi mengadu jago atau sabung ayam sudah ada sejak dahulu kala dan telah menjadi tradisi masyarakat di berbagai suku di Nusantara. Namun pernahkah kita menengok keberadaan tersebut secara lebih seksama?

Sabung ayam bukanlah sekedar permainan tradisional dengan memamerkan taji yang terkadang dibungkus dengan logam. Tradisi ini pernah menjadi alat politik. Sabung ayam juga sarat dengan pesan tentang kehidupan sosial dan budaya masyarakat tertentu.

Zaman Kerajaan Jenggala

Dalam tradisi lisan masyarakat Jawa, ada cerita yang mengisahkan kehidupan zaman Kerajaan Jenggala pada abad ke-9. Kala itu, adu ayam pernah menjadi permainan elite politik.

Raden Putra dan pemuda bernama Cindelaras suatu ketika saling mengadu ayam jago kesayangan mereka dengan taruhan besar.

Tak tanggung-tanggung, Cindelaras bersedia dipenggal kepalanya jika ayam jagonya terbukti kalah. Sementara bila ayam jago Raden Putra kalah, maka setengah kekayaan Raden Putra akan diberikan kepada Cindelaras.

Pertarungan pun dimulai. Sorak sorai penonton begitu riuh. Ayam jago saling menanduk. Dan di akhir permainan, ayam jago Cindelaras yang terkenal sakti mandraguna itu, berhasil membuat ayam Jago  Raden Putra tak berdaya.

Mungkin, karena  merasa dipermalukan, Raden Putra tiba-tiba kemudian menyadari bahwa Cindelaras ternyata adalah darah dagingnya sendiri.

Di hadapan rakyatnya, ia mengaku bahwa dirinya adalah ayah dari Cindelaras yang lahir dari istri permaisurinya, dan pernah dibuang karena ia terhasut oleh iri dengki para selir.

Benar tidaknya tentang sosok anak dan permaisuri keraton Jenggala yang pernah diusir dan bisa kembali diterima hidup di keraton berkat sabung ayam, tentu bisa diperdebatkan melalui kajian sejarah.

Namun di sini, yang terpenting adalah bahwa sabung ayam, terbukti bukanlah sekeder permainan. Dalam sejarah masa lampu, sabung ayam adalah alat pertarungan politik untuk menunjukkan siapa yang lebih sakti dan siapa yang lebih terhormat.

Zaman Kerajaan Singasari

Kisah lain yang tak kalah serunya adalah sabung ayam yang terjadi pada era Kerajaan Singasari pada abad ke-13.  Alkisah, Kota raja sedang ramai. Ada pertunjukkan sabung ayam yang dihadiri raja mereka, yaitu  Prabu Anusapati.

Di kala itu, bila permainan di gelar, maka pemilik ayam jago maupun penonton dilarang membawa senjata tajam seperti keris dan pedang. 

Anusapati yang sedang tergila-gila dengan permaianan adu jago, lupa bahwa ia pernah diingatkan ibunya (Ken Dedes) agar ke manapun pergi, jangan pernah melepaskan pusakanya. Dan ternyata Prabu Anusapati lupa akan pesan itu, karena didesak oleh saudara mudanya, Tohjaya. 

Ternyata, saat sabung ayam berlangsung, terjadi kerusuhan. Dan di tengah kerusuhan itu, Prabu Anusapati ditemukan tewas karena tertusuk keris pusakanya sendiri.  

Usut punya usut, ternyata pembunuhnya adalah adiknya sendiri yaitu Tohjaya yang memang sengaja mencelakakan saudaranya untuk merebut tahta kerajaan Singasari.

Untuk kisah ini, kita bisa melihat bagaimana sabung ayam pernah menjadi permainan yang sangat disukai rakyat Jawa. Mungkin bisa dianalogikan sebagai pertunjukan tinju. Ada yang bertaruh. Ada yang menjual tiket pertunjukkan. Ada promotornya, dan sebagainya.

Sabung ayam di Bali

Barikutnya, marilah kita intip permainan sabung ayam yang menjadi tradisi dan budaya masyarakat di Bali. Masyarakat Bali yang mayoritas menganut agama Hindu, menamakan sabung ayam dengan sebutan Tajen.

Istilah ini berasal dari tabuh rah, yaitu salah satu yadnya (upacara) penting dalam ajaran Hindu. Tradisi ini memiliki pesan spiritual mendalam yaitu untuk mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan Bhuana Agung.

Upacara tersebut memang menggunakan binatang kurban, seperti babi, kerbau, ayam, dan binatang peliharaan lainnya. Binatang ini dijadikan sarana layaknya persembahan bagi Yang Maha Kuasa.

Sebagai kurban, hewan akan disembelih dengan disertai ritual dan mantera khusus. Ritual sebelum penyembelihan pun cukup rumit, lengkap pula dengan berbagai sesaji .

Nama ritual sebelum penyembelihan adalah perang sata. Dalam perang sata, dilangsungkan pertarungan ayam dalam tiga partai atau telung perahatan sebagai lambang penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia.

Apa arti semua itu? Masyarakat Bali menganggap hidup ini adalah perjuangan manusia untuk menjadi sempurna.  Dan perang sata adalah salah satu simbol bagaimana manusia berjuang.

Konon, tradisi sabung Ayam di Bali sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit . Di masa itu, istilah yang digunakan adalah menetak gulu ayam.

Sabung ayam di Bugis

Sekitar abad ke-16, ada peristiwa penting terjadi di Kerajaan Gowa. Raja Gowa X, yaitu I Mariogau Daeng Bonto mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone. Kedatangannya itu disambut meriah oleh Raja Bone, yaitu La Tenrirawe Bongkange.

Salah satu acara sambutan itu adalah upacara massaung manu. Dalam tradisi itu, ada permainan sabung ayam. Dan saat sabung ayam berlangsung, Raja Gowa mengajak Raja Bone bertaruh.

Raja Gowa mengeluarkan 100 katie emas. Konon, Raja Bone tidak mempertaruhkan emas tetapi mengatakan bahwa jika ia kalah, ia akan menyerahkan semua orang panyula (satu kampong).

Seluruh rakyat yang menghadiri upacara itu pun menjadi senyap. Mereka sadar bahwa  sabung ayam kali ini bukan sekedar permaian biasa. Dua raja itu sedang mengadu kesaktian. Siapa yang menang, ia adalah orang yang memiliki kharisma lebih hebat.

Dan di akhir pertarungan tersebut,  ayam jago milik Raja Gowa Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa) mati karena berhasil dikalahkan ayam jago milik Raja Bone (Manu Bakkana Bone).

Peristiwa itu menjadi simbol bahwa Raja Gowa kalah kharismannya dengan Raja Bone. Dan kisah ini kemudian berdampak pada psikologis rakyat di sekitar Bone.

Kerajaan kecil di sekitar Bone  kemudian merasa segan terhadap Raja Bone dan menyatakan diri untuk tunduk dan bergabung menjadi kerajaan taklukkan.

Maka, penaklukkan Raja Bone kepada kerajaan kecil di sekitar Bone bisa berlangsung tanpa dengan menggunakan kekuatan militer. Kerajaan kecil yang bersedia bergabung antara lain Ajang Ale, Awo, Teko, dan Tellu Limpoe.

Jadi, bila kita simak bersama, sabung ayam ternyata bisa menjadi alat untuk mencegah terjadinya tindak kekerasaan seperti perang. Mungkinkah model seperti ini dihidupkan lagi? Kira-kira akan menarik atau malah akan ditertawakan dunia?

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?