• News

  • Rukun Suku Nusantara

Ternyata, Jin Memang Bisa Ditaklukkan oleh Orang Minang, Inilah Buktinya!

Lukah Gilo, salah satu kesenian suku Minangkabau
youtube
Lukah Gilo, salah satu kesenian suku Minangkabau

SAWAHLUNTO, NETRALNEWS.COM - Siapapun yang belum pernah melihat tradisi masyarakat Minangkabau yang satu ini, pasti akan tercengang. Bagaimana tidak? Sosok yang tampak menyerupai boneka setengah badan manusia itu bisa bergerak sendiri dan beraksi sehingga membuat kerepotan para pemegangnya.

Dan uniknya, boneka yang menyerupai badan manusia dan bisa bergerak sendiri itu, bukan membuat orang takut, namun justru menjadi tontonan dan hiburan masyarakat.

Tradisi unik itu biasa disebut lukah gilo dan merupakan salah satu kekayaan budaya suku Minangkabau. Budaya ini sudah begitu akrab, khususnya bagi warga Desa Taratak Bancah, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat.

Boneka lukah gilo, sebenarnya berasal dari anyaman bambu yang dahulu digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan  atau “lukah”.

Bentuk lukah menyerupai kerucut panjang. Namun, lukah untuk atraksi lukah gilo, tidak dapat digunakan untuk menangkap ikan. Sebab, lukah dibalut kain dua warna dan pada bagian tertentu memang khusus digunakan untuk menunjang atraksi layaknya boneka manusia.

Selain bambu, bahan dasar pembuatan lukah adalah dengan menggunakan mamban dan rotan yang bisa diperoleh dari dalam hutan. Panjang rotan yang bisa digunakan adalah rotan yang memiliki ruas sekitar setengah meter sampai satu meter.

Rotan dikupas kulitnya, bagian dalam yang lunak dibuang. Sedangkan kulitnya digunakan sebagai pengikat yang melingkari badan lukah.

Sedangkan dinamakan “gilo” karena lukah bisa bergerak dan “menggila” atau menyerupai orang “gila”, yaitu setelah dirasuki oleh roh halus.

Bila diamati sekilas, konsep lukah gilo bisa dikatakan mirip dengan tradisi jalangkung di Jawa. Pada bagian atas lukah akan dipasang buah labu atau batok kelapa (agar menyerupai kepala manusia). Kemudian ada kayu melintang dan menyerupai tangan.

Sama halnya dengan jalangkung, di awal pertunjukkan, lukah dipegangi hanya oleh dua orang. Namun, bila tenaga lukah semakin “menggila” maka harus ditambah dua atau tiga orang.

Walaupun menyerupai jalangkung, orang Minang memiliki pemahaman sedikit berbeda. Menurut mereka, tradisi jalangkung seringkali membahayakan manusia. Sementara lukah gilo, tak pernah mencelakakan manusia.

Memang, keduanya adalah tradisi yang mengandalkan kekuatan supranatural untuk menggerakkan, mengarahkan, dan mengendalikan roh halus, jin, atau jenis makhluk halus lainnya. Maka, dalam hal ini, peranan dukun atau pawang roh halus, sangatlah menentukan.

Dalam tradisi jalangkung, roh halus itu tidak hanya merasuki boneka jalangkung, namun tak jarang, juga mau menyusup atau merasuki manusia. Dan ini bisa membahayakan manusia.

Sementara dalam lukah gilo, roh halus itu dikendalikan khulifa atau pawang roh halus (dukun) sehingga benar-benar hanya merasuki boneka anyaman bambu yang telah dibalut kain tersebut.

Dalam tradisi lukah gilo, atraksi akan dimulai ketika Sang Pawang sudah hadir di tengah acara. Ia akan membacakan mantra-mantra khusus seperti membisikkan sesuatu pada boneka.

Bacaan mantra dukun itu biasanya diakhiri dengan menjentikkan jarinya di atas boneka. Dan sejurus kemudian atraksi dimulai. Boneka mulai bergerak sendiri dengan diiringi lantunan syair-syiar berbahasa Minang dengan irama khas suku Minang.

Tak bisa dimungkiri, aroma magis sangat terasa apalagi ketika alunan syair berpadu dengan suara alat musik talempong dan gendang mulai ditabuh.

Dua orang yang memegang boneka lukah gilo ikut bergerak mengikuti arah gerak boneka, bergoyang ke kiri dan ke kanan. Dan lama-kelamaan, boneka itu mampu bergerak dengan hentakan dan tarikan yang sangat kuat.

Bila sudah demikian, orang yang memegangi boneka tidak akan cukup hanya dua orang. Sebab, boneka itu memang bisa memiliki tenaga sangat kuat. Dan tenaga itu berasal dari jin atau roh halus yang merasuk dalam boneka itu.

Dalam titik tertentu, tenaga roh halus memang benar-benar tak terkendali karena mengeluarkan tenaga yang bisa membuat jari pemegangnya terluka. Bila sudah demikian, maka Sang Pawang akan turun tangan dan membuatnya kembali tenang.

Bagi masyarakat Minang, tradisi ini menjadi salah satu pertunjukkan tradisional yang digemari dan dianggap paling seru. Para penonton tidak hanya terdiri dari kalangan anak-anak, tetapi juga meliputi orang dewasa dan orang tua.

Oleh sebab itu, lukah gilo tidak hanya disebut sebagai tradisi, namun bisa juga disebut sebagai kesenian tradisional. Di dalamnya ada perpaduan tembang, syair, musik, dan ritual atau mantra-mantra supranatural atau mistis.

Dahulu kala, kesenian ini diadakan untuk meramaikan perayaan adat pemberian gelar datuk kepada seseorang. Tak jarang juga diadakan untuk meramaikan acara pesta pernikahan.

Dan di zaman penyebaran agama Islam di Minang, lukah gilo juga sering digunakan sebagai alat syiar yang fungsinya untuk menarik atau mengundang massa. Setelah massa berkumpul, barulah dakwah dilakukan sehingga orang-orang bersimpati dan mau memeluk ajaran Islam.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?