Netral English Netral Mandarin
00:13wib
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan keputusan pemerintah untuk menggelontorkan dana triliunan rupiah ke perusahaan-perusahaan produsen minyak goreng dinilai sudah sangat tepat. Komisi Pemberantasan Korupsi mengembangkan kasus korupsi proyek infrastruktur di Kabupaten Buru Selatan 2011-2016.
5 Hal yang Harus Anda Ketahui Soal Wisata Lawang Sewu

Kamis, 09-December-2021 14:15

Lawang Sewu
Foto : Istimewa
Lawang Sewu
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Rasanya belum ke Semarang, kalau belum ke Lawang Sewu. Ya, wisata Lawang Sewu merupakan salah satu destinasi yang paling populer da favorit di Semarang, Jawa Tegah. 

Di saat Pandemi Covid-19, para wisatawan yang datang tentu harus mematuhi Protokol Kesehatan (Prokes). Jangan lupa untuk mengenakan masker Anda, saling menjaga jarak antar pengunjung, mencuci tangan di fasilias yang disediakan atau membawa hand sanitizer dimanapun Anda berada. 

Tetapi sebelum Anda meluncur dan menjelajah wisata Lawang Sewu, nampaknya ada lima hal yang harus Anda ketahui. Kiranya informasi ini bisa bermanfaat bagi Anda yang akan datang ke Lawang Sewu.

Alamat, Jam Operasional dan Tiket 

Apabila tertarik dengan wisata Lawang Sewu, Anda bisa datang ke Jalan Pemuda, Sekayu, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah. Jangan takut kesasar, lokasi ini amat mudah diakses dan Anda bisa dibantu dengan aplikasi penunjuk arah.

Buka setiap hari, jadi Anda bisa datang kapan saja, dari Senin sampai Minggu. Anda bisa datang dari pukul 7 pagi sampai dengan pukul 21 malam, untuk merasakan sensasi menjelajah wisata Lawang Sewu yang berbeda. 

Harga tiket masuknya juga tidak akan membuat kantong Anda jebol. Anda hanya perlu menyiapkan Rp 5 Ribu untuk anak dan Rp 10 Ribu untuk dewasa. Anda bisa langsung membeli tiket di lokasi Lawang Sewu. 

Sejarah 

Wisata Lawang Sewu dikenal sebagai gedung bersejarah milik PT Kereta Api Indonesia. Awalnya gedung ini digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatchappij (NISM). Bangunannya dirancang oleh arsitek dari Amsterdam, Prof Jakob F Klinkhamer dan BJ Ouendag. 

Sebelum jadi museum, wisata Lawang Sewu pernah menjadi kantor pusat administrasi pada Juli 1907, kemudian menjadi Kantor Jawatan Transportasi Jepang pada 1942-1945, dan di 1946 menjadi markas tentara Belanda.

Tidak sampai disitu saja, wisata Lawang Sewu pada 1949 digunakan Kodam IV Diponegoro dan pada 1994 diserahkan kembali pada PT Kereta Api Indonesia. Di 2009, dilakukan restorasi oleh PT Kereta Api Indonesia, hingga pada 5 Juli 2011 dilakukan peresmian Purna Pugar Cagar Budaya Gedung A Lawang Sewu.

Keunikan 

Keunikan wisata Lawang Sewu bisa dilihat pada desain bangunan yang menyerupai huruf L. Bangunan Lawang Sewu memiliki jumlah jendela sebagai sirkulasi udara yang banyak, bagai pintu yang dalam Bahasa Jawa disebut lawang. 

Sangking banyaknya sirkulasi udara, masyarakat menganggap ada ribuan lawang. Maka dari itu masyarakat menyebut lokasi itu sebagai lawang sewu. 

Selain itu, Anda juga bisa melihat ornamen tembikar pada bidang lengkung di atas balkon, kubah kecil di puncak menara air yang dilapisi tembaga, hingga puncak menara yang dihiasi oleh perunggu. Sedangkan di dalam, Anda bisa melihat desain interior kuno yang Instagramable. 

Misteri 

Menjadi saksi bisu sejarah, wisata Lawang Sewu mengandung banyak misteri yang menyelimuti. Konon, ada hantu lorong bawah tanah, rintihan orang Belanda dari sebuah sumur tua, serta adanya prajurit Belanda yang menjaga gedung Lawang Sewu. 

Nah, apakah Anda percaya dengan misteri wisata Lawang tersebut? Silahkan buktikan sendiri dengan meluncur langsung ke wisata Lawang Sewu bersama keluarga atau kerabat Anda. 

Fasilitas

Selain belajar sejarah dan membuktikan isu misteri di wisata Lawang Sewu, Anda juga bisa menikmati berwisata dengan fasilitas lengkap yang tersedia. Anda tidak perlu khawatir soal lahan parkir, toilet dan ketersediaan mushola. 

Apabila Anda sedang menyusui, Anda juga tidak perlu khawatir karena disediakan pula ruang laktasi. Ada juga ruang P3K, pojok kuliner, hingga smoking area. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati

Berita Terkait

Berita Rekomendasi