Netral English Netral Mandarin
23:01 wib
Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto menggugat pemerintah Indonesia membayar ganti rugi sebesar Rp56 miliar terkait penggusuran dalam proyek pembangunan Tol Depok-Antasari di Jakarta Selatan. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengonfirmasi bahwa Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo akan dilantik Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) jadi Kapolri pada Rabu (27/1).
Kisruh 6 Laskar FPI Tewas, BS: Hukumlah Panglimanya, Jangan Mengencingi Musuh yang Sudah Mati...

Kamis, 17-December-2020 08:01

Soal Kisruh 6 Laskar FPI Tewas, Birgaldo sebut Hukumlah Panglimanya, Jangan Mengencingi Musuh yang Sudah Mati...
Foto : Istimewa
Soal Kisruh 6 Laskar FPI Tewas, Birgaldo sebut Hukumlah Panglimanya, Jangan Mengencingi Musuh yang Sudah Mati...
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hingga hari ini, polemik tewasnya 6 anggota FPI masih menyisakan banyak pertanyaan. Pihak Komnas HAM dan pihak Kepolisian sama-sama melakukan penyidikan yang terlihat berbeda temuan.

Pegiat kemanusiaan Birgaldo Sinaga, Kamis (17/12/20) melalui akun FB-nya memberikan tanggapan setelah ia ditanya bagaimana pandangannya tentang anggota FPI yang tewas itu.

Birgaldo menjawab: "Begini. Kebenaran dan keadilan adalah nilai tertinggi dari semua yang ada di kolong langit ini. Untuk mencari kebenaran dan keadilan itu proses hukum sedang berjalan. Kita boleh bertanya2."

"Tapi sebagai negara hukum, Kita berikan kepercayaan pada institusi aparat negara menyelesaikannya," lanjut Birgaldo.

"Bagi  saya yang bisa saya jaga adalah jangan pernah mengencingi atau meludahi musuh yang sudah mati. Sebenci2nya kita pada musuh, hormati kematiannya sebagai tanda rasa kemanusiaan kita masih berdiri tegak. Salam perjuangan penuh cinta," tegas Birgaldo.

Sebelumnya dilansir BBC.com, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan berhasil menemukan sejumlah bukti yang dinilai "memperjelas" insiden bentrok yang menewaskan enam anggota Front Pembela Islam (FPI).

Komnas HAM menegaskan akan tetap melakukan pemeriksaan dan penelusuran secara independen tanpa berafiliasi dengan pihak manapun, meski kepolisian telah melakukan rekonstruksi terkait tewasnya enam anggota FPI, yang mengawal perjalanan pemimpin FPI, Rizieq Shihab.

Sebelumnya, tim gabungan dari Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya menggelar rekonstruksi kontak tembak antara polisi dan Laskar FPI di empat titik di Karawang, Jawa Barat.

Polri menegaskan rekonstruksi ini sebagai "bentuk transparansi polisi". Namun FPI memandang adanya kejanggalan dalam rekonstruksi yang dilakukan polisi.

FPI mengatakan kejanggalan ini karena dalam keterangan sebelumnya polisi menyebut anggota FPI tewas dalam baku tembak dengan polisi. Namun, hasil rekonstruksi mengungkap bahwa keempat anggota FPI tewas di tangan polisi karena disebut merebut senjata polisi ketika ditangkap.

Pengamat kepolisian menyebut rekonstruksi itu menuai pertanyaan publik sebab dalam rekonstruksi terungkap bahwa "polisi tidak melakukan langkah preventif" dan "bertindak tidak sesuai SOP" (standard operation procedure), serta mendesak dibentuknya tim independen pencari fakta.

Bentrokan antara polisi dan Laskar FPI terjadi Tol Jakarta - Cikampek pada Senin (07/12) dini hari. Dalam insiden tersebut, enam anggota FPI tewas ditembak oleh aparat kepolisian.

Versi polisi menyebut enam anggota FPI itu ditembak mati karena berusaha menyerang petugas kepolisian yang membuntutinya. Namun versi FPI menyebut mereka diserang terlebih dulu.

Penyelidikan Komnas HAM

Komnas HAM yang melakukan penyelidikan di lapangan dan mengklaim telah memiliki bukti insiden penembakan anggota FPI, yang disebut bisa memperjelas peristiwa tersebut.

Komnas HAM melakukan pemeriksaan terhadap Kapolda Metro Jaya dan Direktur Utama PT Jasa Marga pada Senin (07/12) terkait tewasnya enam anggota FPI di Tol Jakarta - Cikampek.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara menjelaskan Dirut Jasa Marga Subakti Syukur memberikan keterangan tambahan terkait rekaman CCTV, sedangkan Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran menerangkan kronologi kejadian mulai dari sebelum peristiwa hingga setelah peristiwa meninggalnya keenam anggota FPI.

"Ada bukti baru, keterangan tambahannya juga semakin memperjelas peristiwa yang terjadi dan juga soal temuan-temuan lain. Artinya, ini melengkapi puzzle-puzzle yang ada sehingga tinggal kami analisa," ujar Beka Ulung.

Ketika ditanya apa bukti-bukti yang memperjelas insiden itu, Beka Ulung menjelaskan: "Pertanyaan mendasar kan begini, apakah kemudian memang terjadi baku tembak atau tidak. Atau kemudian saksi-saksi mendengar tembakan, ini kan membedakan antara mendengar tembakan dan melihat baku tembak kan beda."

Kendati begitu, ia menjelaskan ada beberapa yang memerlukan pendalaman lebih lanjut.

"Terkait misalnya bagaimana kondisi fisik mobil, baik mobil petugas maupun dari FPI. Yang kedua, soal uji balistik dan juga forensik, ini perlu pendalaman karena kami harus juga melihat secara fisik," jelas Beka.

Beka menjelaskan Komnas HAM menargetkan penyelidikan akan usai dalam waktu satu bulan mendatang.

Baca Juga :


Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto