Netral English Netral Mandarin
20:17 wib
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapatkan vaksinasi COVID-19 kedua kalinya masih dengan vaksin Sinovac yang dilaksanakan di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu (27/1/2021). Komjen Listyo Sigit Prabowo resmi dilantik sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang baru. Pelantikan ini dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara.
6 Pengawal HRS Tewas Ditembak, Pengamat Puji Tindakan Tegas Polisi

Selasa, 08-December-2020 15:16

 Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran, penembakan itu dilakukan anggotanya karena diserang.
Foto : PJM
Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran, penembakan itu dilakukan anggotanya karena diserang.
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Enam laskar khusus Front Pembela Islam (FPI) yang mengawal Habib Rizieq Shihab (HRS), tewas ditembak polisi di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 pada Senin (7/12/2020) sekitar pukul 00.30 WIB.

Berdasarkan keterangan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran, penembakan itu dilakukan anggotanya karena diserang oleh pengikut Habib Rizieq dengan menggunakan senjata api dan senjata tajam. 

Mengomentari hal itu, pengamat kepolisian dari Universitas Krisnadwipayana, Sahat Dio, memuji tindakan tegas aparat Polda Metro Jaya. Menurutnya, siapa pun yang melakukan penyerangan hingga membahayakan keselamatan penegak hukum, tindakan tegas dan terukur menjadi solusinya. 



"Ini bukan soal siapa mereka, tapi apa yang mereka lakukan. Menteri sekalipun, kalau dia melakukan tindak pidana, ya pasti akan ditindak, sesuai kesalahannya," kata Sahat dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/12/2020). 

"Kalau yang dilakukan mereka hanya berdiskusi atau cekcok mulut dengan petugas, misalnya, tak mungkin ada tindakan dan peristiwa itu saya kira. Pasti ada insiden serius," sambungnya. 

Sahat mengatakan, kecil kemungkinan jika aparat main tembak hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, tanpa ada alasan atau latar belakang yang kuat. Mengingat banyak risiko yang akan mereka terima di kemudian hari, jika melakukan tindakan demikian. 

"Saya kira polisi pasti memiliki perhitungan yang tak main-main. Pertama, mereka pasti memperhitungkan apakah tindakan pelaku benar-benar membahayakan nyawa polisi. Kedua jika ditindak secara serampangan atau tanpa prosedur yang jelas, misalnya, tentunya sangat berisiko bagi petugas, mengingat orang-orang yang meninggal terafiliasi dengan kelompok/organisasi besar dan memiliki pengaruh di negara ini," ujarnya. 

Terlebih, kata dia sekarang era keterbukaan, dimana media sosial dengan para netizennya, ada di mana-mana guna memberikan informasi ke masyarakat, tanpa ditutup-tutupi. 

Sehingga sekecil apa pun rahasia yang disimpan, pasti kelak akan terkuak. "Di era sekarang, apabila ada rekayasa atau kebohongan pun, saya kira nantinya akan terbongkar dengan sendirinya," jelas Sahat. 

Jika akhirnya tetap diragukan, Sahat meminta polisi memperkuat bukti-bukti lainnya. Misalnya menghadirkan rekaman CCTV di jalan tol saat kejadian atau mungkin rekaman video amatir melalui ponsel. 

Bukti-bukti ini penting dimunculkan sejak dini atau sebelum persidangan, sebagai antisipasi upaya-upaya penggiringan opini publik ke arah yang negatif. Sehingga pula, keraguan masyarakat dan pihak-pihak yang skeptis lainnya, sirna seketika. 

"Juga bisa dengan cara penelusuran atau pembuktian bahwa laskar khusus tersebut memang memiliki senjata api itu. Ini juga menjawab pertanyaan publik apa mungkin mereka memiliki senjata api, mungkin kalau senjata tajam masih masuk akal," paparnya. 

"Bisa juga polisi membuktikan jika memang kendaraannya benar ditabrak atau dipepet, itu kan bukti penyerangan juga. Kalau soal menguntit itu hal biasa, penegak hukum diberikan kewenangan untuk itu. Sehingga akhirnya seluruh pertanyaan publik bisa terjawab dan apa yang dilakukan petugas bisa dipertanggungjawabkan," pungkas Sahat.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sulha Handayani