Netral English Netral Mandarin
16:52wib
Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai presiden terpilih Iran setelah penghitungan suara pada Sabtu (19/6/2021). Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito terkonfirmasi positif Covid-19 menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir ini.
6 Tradisi Unik Sambut Hari Paskah yang Hanya Ada di Indonesia

Jumat, 02-April-2021 09:30

Paias Kuburan-Mangarihiti berarti membersihkan makam anggota keluarga.
Foto : Realits
Paias Kuburan-Mangarihiti berarti membersihkan makam anggota keluarga.
35

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Paskah merupakan perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Jemaat Kristen percaya bahwa Yesus disalibkan, mati, dikuburkan dan bangkit pada hari ketiga dari antara orang mati. 

Sebagai hari yang istimewa, ternyata ada beragam tradisi unik yang dilakukan untuk menyambut Hari Paskah ini bagi sebagian orang. Beragam tradisi itu dilakukan oleh masyarakat yang tersebar di Indonesia dengan melakukan berbagai ritual. 

Berikut ini enam tradisi unik menyambut Hari Paskah yang ada di Indonesia: 

  • Paias Kuburan di Tarutung
  • Paias Kuburan-Mangarihiti berarti membersihkan makam anggota keluarga. Ini merupakan sebuah tradisi bagi umat kristiani di bumi Bonapasogit.

    Baca Juga :

    Aktivitas ini biasanya dilakukan pada Sabtu, karena pada Minggu subuh atau disebut dengan istilah buha-buha ijuk, ada banyak rangkaian acara. Acara yang dimaksud tentu berkaitan dengan mengenang kebangkitan Isa Almasih atau disebut dengan istilah Ari Haheheon Tuhan Jesus dari kubur.

    2. Ziarah Gua Maria Sendangsono di Kulon Progo

    Tradisi yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang, yaitu berziarah di Gua Maria Sedangsono yang ada di Kulon Progo, Yogyakarta. Biasanya para peziarah akan datang membawa lilin dan bunga untuk diletakan di hadapan goa.

    Sebagai salah satu destinasi wisata religi, tidak heran apabila Gua Maria Sedangsono dijadikan sebagai salah satu tujuan untuk berdoa. Tetapi saat memasuki Pekan Suci yakni rangkaian menuju Hari Paskah, biasanya para peziarah yang datang akan lebih banyak daripada hari biasanya. 

    3. Memento Mori di Kalimantan Tengah

    Apakah Anda sudah pernah mendengar istilah Memento Mori? Diketahui itu merupakan kata yang berasal dari Bahasa Latin yang artinya “ingatlah akan kematian”. 

    Untuk itu masyarakat Kalimantan Tengah biasanya melakukan ziarah ke makam saudara dan kerabat. Itu dilakukan sejak Sabtu Suci hingga Minggu dini hari yang dilakukan bersama keluarga. Selanjutnya pergi ke Gereja untuk kebaktian Paskah.

    4. Kure di Nusa Tenggara Timur

    Tidak hanya Memento Mori, Kure juga ternyata berasal dari Bahasa Latin yang artinya berdoa sambil mengunjungi sanak keluarga. Uniknya, masyarakat NTT biasanya akan melakukan bersih-bersih pada patung Yesus dan patung Maria yang biasanya dipajang di dalam gereja. 

    Sebelumnya mereka yang melakukan tradisi turun menurun ini juga akan membawa persembahan berupa makanan dan minuman. Makanan dan minuman juga untuk selanjutnya akan dinikmati bersama oleh mereka yang usai melakukan bersih-bersih. 

    5. Semana Santa di Flores 

    Tidak hanya tradisi Kure, di Kota Larantuka di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur juga memiliki tradisi unik menjelang Hari Paskah, namanya adalah Semana Santa. Semana Santa diketahui merupakan Pekan Suci, yang terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci dan Minggu Paskah.

    Pada Kamis Putih, Patung Bunda Maria yang disebut dengan istilah Tuan Ma akan dibersihkan dan dikenakan kain hitam. Sepanjang jalan juga akan dihiasi oleh lilin. Puncaknya pada Jumat Agung, patung Yesus akan dilarung. 

    6. Jalan Salib di Wonogiri

    Ada lagi tradisi unik menjelang Hari Paskah dari Tanah Jawa, yakni jalan salib di Wonogiri. Jalan Salib sendiri merupakan bentuk doa mengenang sengsara Yesus Kristus yang memanggul salib. 

    Uniknya, ada aksi treaterikal membawa sebuah salib besar. Salib di arak oleh ribuan umat dan disertai dengan doa-doa di Gunung Gandul, Wonogiri, Jawa Tengah. 

     

    Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
    Editor : Sulha Handayani