3
Netral English Netral Mandarin
19:06 wib
Partai Demokrat memecat sejumlah kader yang dianggap terlibat dan mendukung gerakan pengambilalihan kepemimpinan partai atau kudeta. Pertumbuhan jumlah orang kaya raya atau crazy rich di Indonesia diproyeksi bakal melampaui China seiring dengan proses distribusi vaksin Covid-19 dilakukan.
Meski Dihujat, DS: Saya Tetap di Samping Permadi kecuali Dia Korupsi atau...

Sabtu, 30-January-2021 16:00

Dihujat Ramai-Ramai, Denny sebut Saya Tetap di Samping Permadi kecuali Dia Korupsi atau Perkosa Orang...
Foto : FB/Denny Siregar
Dihujat Ramai-Ramai, Denny sebut Saya Tetap di Samping Permadi kecuali Dia Korupsi atau Perkosa Orang...
1

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Abu Janda alias Permadi Arya sedang menjadi sorotan. Tak sedikit pihak yang berharap agar ia segera dijerat hukum karena dianggap rasis dan keras mengritik Islam. Beberapa hari terakhir, namanya juga menjadi trending topic.

Meski demikian, tak sedikit juga rekan-rekannya yang menyatakan diri ada di sampingnya. Salah satunya adalah sesama pegiat media sosial Denny Siregar.

Sabtu (30/1/21), secara khusus, Denny menulis sikapnya terhadap Abu Janda. Catatan itu ia unggah dengan judul "Nilai Persahabatan."

Di bagian akhir catatannya, secara tegas ia menyatakan akan tetap disamping Permadi, tak peduli apapun yang banyak orang katakan. Kecuali jika Abu Janda korupsi atau memperkosa orang, di mana Denny akan gebuki Abu Janda dengan tangannya sendiri.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

NILAI PERSAHABATAN..

Waktu itu tahun 2016..

Saya sedang launching buku perdana "Tuhan dalam secangkir kopi". Datanglah orang dengan tampang mengesalkan, dia Permadi Arya yang pake nama parodi Abu Janda, plesetan dari teroris bernama Abu Jandal.

Dia mengenalkan dirinya dan kami berteman sejak saat itu. Dengan gaya berbeda, kami bahu membahu menghajar narasi-narasi kelompok radikal di media sosial dengan resiko dipenggal. Bahkan, beberapa waktu lalu, kami diberi kabar ada seorang teroris yang ditangkap dgn misi khusus membunuh kami berdua dgn modal senjata rakitan.

Gak gampang perang di media sosial ini. Resikonya besar. Kami dibutuhkan, tapi tidak diakui. Apalagi dikelompok orang2 yang menganggap cara berpikirnya objektif. Sedangkan pihak lawan sangat solid. Gak perduli salah, mereka selalu membela temannya.Tapi saya dan Permadi gak perduli. Apalagi ribut jabatan Komisaris segala. Perjuangan itu harus tanpa pamrih. Yang menilai bukan manusia.

Dan adakalanya kami kepleset, kejebak ranjau di media sosial. Apa yang kami terima ? Dihujat ramai2, bukan hanya oleh lawan bahkan mereka yang mengaku kawan. Disanalah saya akhirnya mengerti perkataan Imam Ali, "Sahabatmu terlihat banyak, tapi hitunglah mereka saat kamu dalam kesulitan.."Itulah kenapa saya tetap ada disamping Permadi, apalagi dalam kondisi saat ini. Emang sih dia ngeselin ???? tapi dibalik itu saya harus akui bahwa dia punya visi bahwa kebhinekaan kita harus kembali, jangan dirampok oleh mereka yang mengaku dirinya mayoritas tapi gak punya isi.

Gayanya ya begitu. Keahliannya bikin parodi, bukan menulis dan menjelaskan situasi. Terkadang memang gak ngenakin, anggap saja hiburan, karena dalam satu sisi apa yang dia lakukan efektif untuk mengobrak abrik pertahanan lawan.

Ketika Permadi kepleset, saya menegurnya bahkan memarahinya, tapi tidak saya tunjukkan depan publik, karena pasti digoreng mereka.

Saya heran dengan banyak orang yang malah menggebukinya. Apa mereka tidak sadar bahwa selama ini Permadi ada di garis depan membela keutuhan bangsa ? Yang menggebuki Permadi sekarang, mereka dulu kemana ? Tiba2 muncul dan konpers, seolah2 mereka paling berjasa buat negara dalam menghajar kelompok intoleran.

Menilai seseorang, gak bisa dilihat sekilas saja. Lihat latar belakangnya, apa yang pernah dia kerjakan..Ah, biarlah. Perjuangan itu memang tidak ada yang mudah. Nikmati segala prosesnya.

Saya jadi teringat dialog di film Black Hawk Down.

"Untuk apa kamu ikut berperang ? Bukan untuk membela sebuah kebijakan, tapi untuk melindungi kawan disampingmu. Sehingga ketika ada kesalahan, kamu tahu ada seseorang yang bisa diandalkan. No one left behind.."

Saya tetap disamping Permadi, gak perduli apapun yang yang banyak orang katakan. Kecuali dia korupsi atau perkosa orang, saya akan gebuki dia dengan tangan saya sendiri..

Salam secangkir kopiDenny Siregar

Respons Polisi Ditunggu

Sementara itu secara terpisah, Tim Hukum Front Persaudaraan Islam (FPI) Aziz Yanuar menyatakan menunggu pihak kepolisian untuk segera menangkap Permadi Arya alias Abu Janda terkait kicauannya di media sosial yang menyebut Islam sebagai agama yang arogan.

"Kami tunggu ditangkapi [Abu Janda] saja, bukan mau tanggapi," kata Aziz, Jumat (29/1).

Menurut pihaknya, Abu Janda kerap kali memecah belah bangsa dengan pelbagai pernyataan yang kontroversial di media sosial. Termasuk, sambungnya, kicauan terbaru Abu Janda soal Islam lewat akun Twitter-nya.

"Terduga penista agama dan pemecah belah bangsa wajib ditangkap dan dihukum berat," kata Aziz.

Lebih lanjut, Aziz mengaku heran selama ini sudah banyak elemen masyarakat yang melaporkan Abu Janda ke pihak kepolisian terkait pernyataan-pernyataannya yang kontroversial, tapi tak jelas proses hukumnya.

Atas dasar itu, ia berharap sudah sepatutnya Abu Janda dihukum atas pernyataannya terbarunya soal Islam yang menuai polemik tersebut.

"Umat Islam sudah banyak laporkan dia, tapi tidak ada yang diproses hingga ia ditahan, itu fakta," kata Aziz.

Sebelumnya, Permadi Arya berkicau di akun Twitter miliknya, menyebut Islam merupakan agama yang arogan sebab tidak menghargai agama leluhur yang lebih dulu ada seperti Sunda Wiwitan atau Kaharingan.

"Islam memang agama pendatang dari Arab, Agama Asli Indonesia itu Sunda Wiwiwtan, Kaharingan dll. Dan memang arogan, mengharamkan tradisi asli, ritual orang dibubarkan pake kebaya murtad, wayang kulit diharamkan. Kalau tidak mau disebut arogan, jangan injak2 kearifan lokal @awemany," tulisnya lewat akun @permadiaktivis1, Senin (28/1).

Kicauan tersebut menuai banyak kritik. Tapi, Abu Janda mengklaim bahwa kicauannnya di Twitter sebagai bentuk autokritik. Abu Janda pun menyatakan pernyataannya merupakan respons terhadap cuitan dari eks Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain.

Atas pernyataan Abu Janda itu, Tengku Zulkarnain menyatakan polisi seharusnya segera menindak, bahkan tanpa perlu menunggu laporan. Oleh karena itu, ia menantang polisi untuk memproses kicauan Permadi tersebut.

"Sebenarnya itu menghina agama dan buat geger banyak orang. Itu bukan delik aduan. Polisi tidak perlu ada pengaduan dan langsung boleh diproses hukum," kata Zulkarnain, Kamis (28/1).

"Itu kan Pasal 156 KUHP. Itu bukan delik aduan, itu delik umum. Harusnya langsung polisi memproses ini orang," lanjutnya seperti dinukil Cnnindonesia.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto