Netral English Netral Mandarin
02:38wib
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 memutuskan hanya membuka akses enam pintu masuk kedatangan perjalanan internasional untuk WNI. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengatakan ada kemungkinan turis mancanegara bisa kembali mengunjungi Indonesia pada 2022 mendatang.
Ada yang Tak Beres dalam Peradilan RI, Terpidana Sabu 402 Kilogram Lolos dari Hukuman Mati, Muannas: Prihatin!

Senin, 28-Juni-2021 20:39

Muannas Alaidid
Foto : Suara.com
Muannas Alaidid
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Muannas Alaidid mengaku prihatin dengan berita ironis dimana sejumlah terpidana narkoba sabu seberat 402 kilogram bisa lolos dari jerat hukuman mati.

Dalam pandangannya, ada yang tidak beres dengan hukum peradilan di Indonesia.

"Prihatin, Kalo sdh dinyatakan terbukti memiliki barang sebanyak itu mestinya dihukum mati aja, memang ada masalah di dunia peradilan kita, khususnya kasus2 yg menyita perhatian publik.

Untuk diketahui,  enam terpidana pada kasus narkotika jenis sabu-sabu seberat 402 kilogram lolos dari hukuman mati. Ironi kasus ini muncul usai para terpidana mendapat keringanan hukuman di tingkat banding.

Enam terpidana yang sebelumnya diketahui mendapat vonis hukuman mati di Pengadilan Negeri Cibadak pada 6 April 2021 itu mendapat keringanan hukuman belasan tahun penjara setelah pengajuan permohonan banding yang dilakukan oleh kuasa hukum mereka diterima majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bandung.

"Banding dari tim hukum kami diterima oleh PT Bandung yang tadinya dihukum mati ternyata dikabulkan menjadi ada yang 15 tahun ada yang 18 tahun. Syukur alhamdulillah kami bekerja keras untuk bisa membuktikan peran terdakwa berbeda itu yang kami harapkan adanya keadilan berketuhanan yang maha esa," kata Dedi Setiadi mewakili kantor hukum Bahari kepada awak media, Sabtu (26/6/2021).

Enam terpidana yang sebelumnya mendapat hukuman mati yang kini putusan banding mendapat hukuman 15 tahun, yaitu Ilan, Basuki Kosasih, dan Sukendar alias Batak. Sementara yang mendapat hukuman 18 tahun penjara adalah Nandar Hidayat, Risris Risnandar, dan Yunan Citivaga.

"Kami membantu keadilan untuk 6 terdakwa narkoba jaringan internasional. Karena di situ ada peran-perannya, ada peran utama ada peran pembantu ada figuran dan lain-lain. Secara hukum tetap harus dibedakan. (Ketika) mereka diputus mati tidak bisa seperti itu harus jelas siapa yang dihukum mati, siapa yang seumur hidup siapa yang 20 tahun siapa yang 18 tahun siapa yang 15 tahun itu sudah benar menurut kami," beber Dedi.

Dedi menjelaskan, mereka yang lolos dari putusan PN Cibadak dari hukuman mati adalah masyarakat tidak mampu. Sehari-harinya berprofesi sebagai nelayan dan petani.

"Perjalanan panjang, yang kita bela orang-orang tidak mampu. Orang pinggiran berprofesi sebagai pantai yang bekerja sehari-hari di nelayan. Makanya kami merasa tertarik untuk membantu, mulai dari pendampingan di Polda Metro sampai persidangan sampai banding hari ini," bebernya dinukil detik.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati