Netral English Netral Mandarin
21:16wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Ade Armando: Universitas Indonesia Terus Memanas, Dewan Guru Besar FISIP UI Tegas Menolak PP 75/2021

Jumat, 13-Agustus-2021 09:05

Ade Armando
Foto : Kolase Netralnews
Ade Armando
52

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dosen Universitas Indonesia, Ade Armando mengabarkan bahwa situasi kampus ternama tersebut sedang memanas. Hal ini terkadi karena munculnya polemik PP 75/2021 tentang Statuta UI. 

“Universitas Indonesia terus memanas. Dewan Guru Besar FISIP UI secara tegas menolak PP 75/2021 yang memusatkan konsentrasi kekuasaan di tangan Rektor dan memberi ruang bagi masuknya kekuatan parpol ke dalam UIUI terus memanas,” kata Ade Armando, Jumat 13 Agustus 2021.

Ade Armando juga mengunggah tautan dari akun Save UI yang menyatakan:   

“Dewan Guru Besar FISIP UI meminta pemerintah membatalkan PP No 75/2021 tentang statuta UI. DGB FISIP UI menganggap PP tsb menjadikan sentralisasi kekuasaan di tangan Rektor dan memungkinkan politisasi kampus,” kata akaun Save UI.

Sebelumnya dinukil Kompas.com, Dewan Guru Besar Universitas Indonesia (DGB UI) meminta Presiden RI Joko Widodo membatalkan Statuta UI hasil revisi (PP Nomor 75 Tahun 2021). 

Sebagai gantinya, pemerintah diminta memberlakukan kembali Statuta UI lama, yaitu berdasarkan PP Nomor 68 Tahun 2013. 

"Dalam rangka menjaga martabat dan wibawa UI, DGB UI memohon kepada Presiden melalui kementerian terkait untuk tidak memberlakukan PP Nomor 75 Tahun 2021, dan kembali pada Statuta UI berdasarkan PP Nomor 68 Tahun 2013," ungkap DGB UI melalui keterangan resmi yang ditandatangani ketua dewan, Harkristuti Harkrisnowo, pada Senin (26/7/2021). 

Sebagai informasi, revisi Statuta UI sebetulnya sudah mulai dibahas setidaknya pada September 2020 lalu, ketika DGB UI diundang rapat di Kemendikbudristek, kendati Harkristuti menilai tak ada urgensi untuk merevisi Statuta UI. 

Pembahasan revisi Statuta UI hilang begitu saja, hingga tiba-tiba Statuta UI hasil revisi diteken Jokowi pada pekan lalu, menyusul serangkaian isu yang sebelumnya mencuat dan melibatkan Rektor UI saat ini, Ari Kuncoro. 

Ari diketahui sudah nyaris 1,5 tahun rangkap jabatan sebagai Wakil Komisaris Utama BRI. Saat dilantik sebagai Rektor UI pada Februari 2020 pun ia rangka jabatan sebagai Komisaris Utama BNI. 

Ironisnya, Jokowi melalui Statuta UI hasil revisi pada 2 Juli 2021, malah menghapus larangan Rektor UI rangkap jabatan sebagai pejabat di perusahaan pelat merah kecuali sebagai direksi. 

Dengan revisi itu, artinya membolehkan Ari bertahan di posisinya ketika itu. Namun, Ari justru menyatakan mundur dari BRI pada 22 Juli 2021. 

Tak hanya itu, Dewan Guru Besar UI juga mencatat sederet ketentuan bermasalah lain akibat revisi Statuta UI, di antaranya menghapus syarat nonanggota partai politik untuk masuk ke Majelis Wali Amanat (MWA) UI. 

Padahal, melalui revisi ini, MWA kemudian diserahkan wewenang penuh memilih rektor. Di luar soal pasal, penyusunan revisi statuta ini pun tak transparan. 

"DGB UI memiliki sejumlah dokumen kronologi yang pada intinya (menunjukkan bahwa) telah terjadi penyimpangan prosedur dan tidak dipenuhinya asas keterbukaan dalam penyusunan PP Nomor 75 Tahun 2021 sebagaimana diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Penyusunan Peraturan Perundang-undangan," ungkap Harkristuti. 

Maka, dalam rapat pleno 23 Juli 2021, DGB UI menyatakan bahwa Statuta UI hasil revisi mengandung cacat materiil dan cacat formil. 

"Dalam rangka menjamin good university governance, menindaklanjuti surat tertanggal 24 Juli 2021 kepada tiga organ UI, DGB UI meminta segera diadakan pertemuan bersama untuk mempersiapkan penyusunan Statuta UI yang baru," kata Harkristuti. 

"Termasuk yang akan dibahas dalam Statuta UI yang baru adalah kemungkinan pengalihan kewenangan antar organ, yang tentu harus dibicarakan secara bersama di antara empat organ UI," ia menambahkan.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P