Netral English Netral Mandarin
12:27wib
Publik dihebohkan dengan ucapan selamat hari raya dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas kepada umat Baha'i. Video itu jadi sorotan karena Baha'i bukan salah satu dari enam agama yang diakui negara. Menaker Ida Fauziyah menyatakan karyawan dengan gaji di atas Rp 3,5 juta tetap bisa mendapatkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp 1 juta.
Aksi Rusak Makam Nonmuslim Usai Diajari Guru Ngaji? Netizen: Coba kalau Kesurupan, Baru Rasa...

Rabu, 23-Juni-2021 08:40

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka
Foto : Berita Heboh
Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apakah anak-anak perusak makam nonmuslim beraksi setelah diajari guru mengajinya? Inilah pertanyaan sensitif yang sedang digali oleh pihak kepolisian Surakarta.

Di akun FB Mak Lambe Turah, Rabu 23 Juni 2021, masih banyak netizen yang terus mengkritik keras terhadap aksi vandalisme tersebut. Sementara lainnya mengapresiasi Wali Kota Solo yang dianggap tegas.

MLT: “Mas Gibran debes pokoknya.”

Kirawati Soesilo: “Masih kecil sdh berani bertindak ala vandalism, luar biasa provokatornya.”

Teras Indah: “Cek cek..smp segituny..?!..ajaran yg sy tahu ttg kebaikm adlh tdk merusak apapun itu walau beda dg kita...”

Teras Indah: “Jgn smp ckp materai sj... besar nyali merusak makam..cb kesurupan!!! baru rasa..arwah aj. d ganggu..cek cek.”

Untuk diketahui, perusakan makam nonmuslim di Mojo pasar Kliwon, Solo oleh sejumlah anak-anak di bawah umur menjadi perhatian serius Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. 

Dinukil Hops.id, Putra Jokowi itu sampai emosi geram dengan kelakuan anak-anak perusak makam nonmuslim yang belajar di sekolah informasi dekat makam.

Kepolisian Sektor Pasar Kliwon sudah bergerak menyelidiki kasus ini. Polisi sedang intens menggali keterangan dari keluarga wali anak perusak makam. Apa sih motifnya?

Mediasi sepakat damai 

Kapolsek Pasar Kliwon Solo, Iptu Prevoost mengatakan polisi langsung bergerak begitu menerima laporan perusakan makam.

Kapolsek mengatakan, tim Polsek langsung menggelar proses mediasi antara pihak dirugikan dengan pelaku serta orang tua perusak makam. 

Kapolsek menyebutkan mediasi dihadiri tokoh masyarakat setempat dan mencapai titik temu kedua kesepakatan kedua belah pihak.

“Tapi kepolisian tetap sesuai prosedur, kita kan periksa penyelidan kasus ini. Karena ini melibatkan anak di bawah umur, kita akan periksa ortu wali dan pengajar tempat anak-anak ini belajar,” ujar Kapolsek dikutip dari YouTube Berita Surakarta, dikutip Selasa 22 Juni 2021.

Kapolsek belum mengetahui apakah perusakan makam ini adalah perintah dari pengajar ngaji sekolah informal atau spontanitas. Polisi masih mendalami motifnya.

“Saat ini masih proses kami kepolisian melaksanakan mediasi, dan sudah menemukan kesepakatan dilakukan ganti rugi, namun tetap pemeriksaan untuk proses lebih lanjut,” jelas Kapolsek soal ada indikasi perintah guru ngaji atau spontanitas.

Iptu Prevoost mengatakan pula meski sudah sepakat mediasi, namun pemeriksaan proses lebih lanjut bakal dilakukan lho.

Nasib sekolah informal

Sekolah informal anak yang rusak makam di Mojo, Pasar Kliwon. Foto Youtube Berita Surakarta.

Nah mengenai nasib ke depan sekolah informal yang dimaksud, polisi sih berpegang pada ketentuan dalam Surat Edaran Wali Kota Surakarta.

“Sesuai SE Walkot belajar mengajar tatap muka belum boleh, maka dihentikan sementara karena tatap muka nggak boleh, apalagi situasi kondisi tempat sangat sempit dan padat,” jelas Kapolsek.

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka emosi atas kasus perusakan makam di Mojo Pasar Kliwon. Makin marah Gibran setelah tahu yang rusak makam ternyata adalah anak-anak. 

Gibran nggak peduli, ingin anak-anak dihukum karena merusak makam salib digeser dan lainnya.

Selain itu, putra Jokowi ini minta sekolah informal tempat anak-anak belajar itu ditutup saja. Sebab sudah tindakan anak-anak itu sudah kelewatan banget.

Gibran Rakabuming meminta kasus perusakan makam di Cemoro Kembar, Mojo, Pasar Kliwon ini dituntaskan. Hukum mesti ditegakkan dan sekolah informal tempat belajar anak-anak akan ditutup saja.

Bukan cuma anak-anak perusak makam saja yang bakal ditindak, Gibran mengatakan pun demikian dengan pengelola sekolah informal anak-anak tersebut belajar. Ternyata sekolah yang dimaksud tak kantongi izin.

“Segera kami proses, pengasuh dan anak-anak juga perlu pembinaan. Ini sudah ngawur banget, melibatkan anak-anak. Tutup saja, sudah enggak bener,” jelas Gibran soal rusak makam dikutip dari Solopos, Senin 21 Juni 2021

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto