Netral English Netral Mandarin
22:12wib
Ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto menduga bahwa varian Omicron sudah masuk Indonesia. Sebanyak 10.000 buruh akan menggelar aksi unjuk rasa di tiga tempat, yakni Istana Kepresidenan, Mahkamah Konstitusi, dan Balai Kota DKI Jakarta, hari ini.
Aku Bukan dari Tulang Rusukmu

Selasa, 23-November-2021 22:50

Ilustrasi seorang ibu menangis
Foto : Islam Pos
Ilustrasi seorang ibu menangis
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pagi itu, aku bertemu Mak Minah (Maemunah). Ia sedang menggendong beras yang baru dibelinya. 

Raut mukanya ceria sekali, meski suaminya baru meninggal beberapa minggu karena komplikasi penyakit yang sudah lama dideritanya. 

Di usia lebih dari 70 tahun, Minah yang berpostur kurus itu masih bisa berdiri tegap. 

Ia menyapaku dengan ramah. “Ini buat bahan lontong untuk dijual nanti sore. Lontong Mak enak lho. Nanti cobain, ya…,” sapanya ramah sekali. 

Minah tidak tahu percis berapa usianya. Tidak ada dokumen apapun saat kelahirannya.  Tanggal lahir di KTP itu ditentukan oleh pegawai tata usaha Sekolah Rakjat (SR) saat hendak masuk Sekolah Dasar dulu. 

Minah bercerita bahwa masa sekolahnya adalah sangat membahagiakan. Namun keceriaan itu direnggut. 

Ia berhenti sekolah karena harus membantu Ibunya berdagang. Selang 3 bulan setelah haid pertama, Minah sudah dibujuk Bapak dan kakeknya.  

“Minah, perempuan kalau sudah haid harus segera menikah. Tidak boleh nolak kalau sudah ada yang mengajak nikah, nanti jadi perawan tua lho….”

“Menjadi perempuan itu tugasnya di tiga tempat: dapur, kasur dan sumur. Jadi gak usah mikir tinggi-tinggi. Gak ada gunanya, nanti balik-baliknya ke situ juga….”

“Kata orang pinter, perempuan itu tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Dia lemah. Untuk menjadi kuat, ia harus menggantungkan hidupnya kepada laki-laki”

Pesan-pesan itu disampaikan berulang-ulang oleh Bapaknya. 

Minah memang hendak dijodohkan dengan Badrun, Pemuda tetangga desa yang sama sekali tidak dikenalnya. 

Dari sekian banyak nasihat yang diterimanya, hanya satu yang paling diingatnya, yaitu pesan ibunya.

“Minah…., Mak minta maaf ya. Sebenarnya Mak sudah merasa bersalah karena Minah harus berhenti sekolah untuk membantu jualan. Kesalahan itu semakin lengkap saat Bapak menjodohkanmu dengan si Badrun. Minah harus kuat dan berani menghadapinya nanti, maafkan Mak ya.”

Pesan itu disampaikan dengan deraian air mata dan rasa bersalah. Keduanya menangis, berpelukan kuat sekali di tengah ketidakberdayaan.

Minah tidak punya pilihan selain menerima lamaran Badrun, pemuda pilihan Bapaknya. 

Ini adalah pilihan pahit kedua dalam hidupnya. Kebahagiaan kecil masa sekolah telah direnggut paksa. Ia pasrah tak berdaya. Sekarang, Ia menerima dipersitri Badrun. 

Dia mengubur dalam-dalam cita-cita hidupnya. Pilihan pahit itu semakin menyakitkan karena telinga Minah dijejali pesan-pesan keluarga besarnya berulang-ulang. 

Badrun menikahi Minah dengan pesta kampung. Keriuhan orkes melayu dibarengi gemerincing gelas yang terisi oleh tuak kampung. 

Gelak tawa pengunjung semakin keras karena pengaruh tuak yang terus ditenggaknya. Mereka hanyut oleh lagu-lagu melayu tentang cinta dan patah hati. 

Desah manja penyanyi orkes itu membuat pengunjung larut setengah mabuk. Mereka terus mendendangkan lagu-lagu cinta dengan manja. 

Ribuan uang saweran terus ditebar dari kantong celana para pedagang pasar teman-teman Badrun. 

Mereka ikut bergoyang genit, memepet, sesekali mencium rambut para penyanyi, mulutnya meringis pertanda kegembiraan. 

Penonton berteriak riuh, sang biduan mendesah manja sambil terus memasukkan lembaran uang kertas di sela-sela BH di dadanya. 

Badrun hanya duduk tenang di kursi pelaminan. Dia selalu ingin meniru karakter Gambino yang tampil dingin, duduk manis di samping istri cantiknya. 

Dia tak henti-hentinya mengisap rokok sambil menenggak tuak. Mukanya merah menahan mabuk. 

Minah kikuk, sedikit bingung dan terus bertanya-tanya dalam batin. “Siapa suamiku ini sebenarnya…?” Rasa cemas terus berkecamuk dalam batinnya. 

Usai pesta, Badrun mabuk, berjalan sempoyongan lalu ambruk di atas kasur penganten. Dia tidur pulas, ngorok keras sekali sampai pagi. 

“Malam pertamaku hancur berantakan…. Hanya suara ngorok yang terus membuatku terjaga hingga Azan Shubuh. Inikah perkawinan indah itu?” Minah membatin. 

Setelah 20 tahun pernikahan, Minah-Badrun dikaruniai dua anak laki-laki dan satu perempuan. Anak-anaknya tumbuh sehat dan kuat. 

Hari-hari Minah dijalani dengan kesabaran ekstra dan keyakinan kuat mengikuti nasihat keluarga besarnya, bahwa perempuan itu harus nurut dan patuh demi menyelamatkan rumah tangga. 

Minah harus rela saat tidak boleh bekerja apapun selain mengurus anak dan suami. Bahkan sekedar untuk ikut acara bersama ibu-ibu PKK, Posyandu, arisan RT atau ikut pengajian di Musholla. Boleh ikut dengan izin suami, itu aturannya. 

Minah tidak tahu percis berapa penghasilan suami. Dia hanya menerima jatah bulanan yang diberikan. 

Badrun tidak pernah bertanya kepada istri, apakah jatah itu cukup, kurang, atau lebih. Minah juga tidak pernah meminta lebih, takut dianggap sebagai istri kurang ajar. 

Badrun sering pergi menemani juragan yang membuka usaha ternak ayam di Sukabumi. Ia tidak berani bertanya sejauh apa kesibukannya. Minah hanya bisa  menunggu beberapa minggu bahkan hingga bulan. 

Badrun sesekali pulang menjelang pagi, dengan muka kusut, baju kucel, rambut acak-acakan. 

Begitu masuk rumah langsung ambruk di tempat tidur tanpa sempat melepas sepatu, mulut terbuka lebar, desah nafasnya keras, sesekali tersedak dan bau alkohol menyeruak di kamar sempitnya. 

Saat bangun pagi, tanpa ada tegur sapa kepada anak-anak dan istri, Badrun pergi entah kemana. Kopi hitam, rokok kretek, dan kue lepet kesukaannya nyaris tak tersentuh. 

Badrun sudah beberapa tahun meninggalkan rumah. Ia pergi tanpa kabar, tanpa kiriman uang. 

Suatu sore, ada dua laki-laki mengantarkan Badrun dalam keadaan lumpuh. Iya Badrun terkena serangan stroke dan ingin dirawat Minah. 

Sepeninggalan Badrun, Minah sudah merintis usaha makanan. Dengan itu, ia mampu mencukupi kebutuhan makan dan sekolah ketiga anaknya. 

Diam-diam, sikap Badrun itu sangat melukai perasaan kedua anak laki-lakinya. 

Amarah dan kekecewaan mereka itu terlihat dari perilakunya yang agresif, temperamental dan sulit bergaul. 

Anak pertamanya dikeluarkan dari sekolah karena terlibat perkelahian dan pemakaian narkoba. Ia harus masuk rumah tahanan Anak-anak. Hati Minah hancur oleh kenyataan ini.

Badrun yang dulu gagah, sekarang hanya bisa duduk terkulai lemah di kursi. Separo tubuhnya kaku. 

Ia harus dibantu untuk makan, minum, juga buang hajat. Badrun membisu, mungkin itu pilihan satu-satunya sebagai ungkapan rasa bersalah kepada istri dan anak-anaknya. 

Satu tahun setelah badrun kembali ke rumah, Minah kedatangan tamu jauh yang membawa serta seorang anak kecil. 

Ia kelihatan nakal, agressif, dan tidak pernah bicara. Belakangan diketahui ternyata anak itu berkebutuhan khusus. Ia diserahkan kepada Minah begitu saja. 

Sang tamu berpesan bahwa anak itu adalah darah daging Badrun selama memperistri perempuan di Sukabumi. Kini perempuan meminta tanggung jawab Badrun untuk mengasuhnya. 

Minah menerima semua kenyataan ini dengan tegar. Suami minggat, pulang ke rumah dalam keadaan lumpuh. Sementara anak dikeluarkan dari sekolah, lalu dipenjara. 

Belum selesai penderitaan itu, ia harus menerima anak tambahan Badrun dari istri entah di mana. 

“Ya ALLAH, Engkau tahu bahwa aku kuat, hingga ENGKAU memberi cobaan ini kepadaku,” rintihannya setiap usai sholat.

Sepekan setelah Badrun wafat, Minah harus tetap bekerja dan bahagia. Bahagia bukan karena kehilangan suami. Tapi ia telah lulus menapaki jalan terjal penuh duri dengan sabar. 

Ia telah selesai menjalani sebagian ujian hidupnya dengan tetap tegak berdiri. Minah memohon ampun kepada Tuhan. 

“Ya Tuhan, aku keliru karena telah menggantungkan hidupku kepada orang lain. Aku harus tegak berdiri di atas kaki sendiri. Aku harus mampu mengalirkan sendiri energi segar dalam tubuh, batin, dan pikiranku. Aku harus mampu melawan prasangka lemah atas diriku. Aku bukan tercipta dari tulang orang lain. Cukuplah aku menggantungkan hidupku kepadaMU Tuhanku.” (AJH)

Penulis: Ahsan Jamet

Kontributor NNC

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto

Berita Terkait

Berita Rekomendasi