Netral English Netral Mandarin
16:31wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Alasan India Jadi Hotspot Virus Corona Baru Hingga Risiko Migrasi Besar-besaran

Minggu, 18-April-2021 11:00

Corona baru lebih mengkhawatirkan.
Foto : Yale University
Corona baru lebih mengkhawatirkan.
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengakui, situasi di India saat ini cukup mengkhawatirkan. Diketahui ada lonjakan besar dalam gelombang kedua Covid-19 di India. 

Lebih dari 200 ribu kasus Covid-19 dalam 10 hari terakhir, per harinya. Rumah sakit di India juga terus kehabisan tempat tidur, oksigen dan ventilator. Selain itu, angka kematian juga meningkat.

"Para ahli menyatakan bahwa negara ini telah menjadi hotspot virus korona yang baru. Berulang lagi, kota-kota di India telah memberlakukan lockdown," kata Profesor Zubairi, Minggu (19/4/2021).

Ketika kebijakan penguncian diberlakukan, para pekerja bergaji rendah pada mudik. Mereka berdesak-desakan di stasiun kereta dan terminal bus. 

Menurut dia, ini mempercepat penyebaran virus. Sementara kampung halaman mereka kekurangan fasilitas kesehatan untuk menangani Covid-19.

"India berisiko mengulangi migrasi besar-besaran seperti tahun lalu," tegas dia.

Kata Prof Zubairi, para pekerja meninggalkan kota dengan kereta, bus, truk, sepeda bahkan jalan kaki. Bukan cuma hitungan ratusan ribu pekerja, ini bicara puluhan juta orang, notabene India berpenduduk 1,3 miliar jiwa.

"Lonjakan di India ini harus menjadi peringatan bagi kita. Jangan apatis terhadap Covid-19. Tetap memakai masker dan jaga jarak," pesan dia. 

Prof Zubairi juga mengingatkan bahwa di Jakarta pun sebenarnya kasus positif Covid-19 itu sudah naik cukup signifikan dalam dua pekan terakhir. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani