Netral English Netral Mandarin
09:27wib
Pemerintah Indonesia kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang luput menyoroti kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara-negara maju. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin pada Sabtu (25/9/2021) dini hari.
Amir Hamzah Tanggapi Adanya Nama Anies Ada dalam Organisasi Pendukung The New World Order

Rabu, 04-Agustus-2021 17:30

Tangkapan Layar Akun Twitter Pangeran Perang
Foto : Istimewa
Tangkapan Layar Akun Twitter Pangeran Perang
87

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nama Gubernur DKI, Anies Baswedan tercantum dalam daftar 1.334 The Young Global Leaders (YGL), sebuah organisasi non profit yang bermarkas di Jenewa, Swiss, dan didirikan oleh Klaus Schwab, seorang insinyur yang juga seorang ekonom Jerman pendiri The World Economic Forum.

Organisasi ini disebut-sebut merupakan salah satu organisasi yang dibentuk kaum elit Yahudi dengan misinya yang terkenal, yakni menciptakan Tatanan Dunia Baru atau The New World Order.

Menanggapi hal itu, Pengamat kebijakan publik Amir Hamzah mengatakan, dirinya tak yakin Gubernur Anies Baswedan merupakan bagian dari organisasi pengusung The New World Order, meski indikasi itu ada.

"Tahun 2009, Anies menerima penghargaan The Young Global Leaders dari World Economic Forum. Jadi, saya yakin karena itu nama Anies ada di dalam daftar organisasi itu," kata Amir di Jakarta, Rabu (4/8/2021). 

Amir mengakui, dari buku-buku yang pernah dia baca, terutama buku-buku yang terkait dengan sepak terjang kaum Yahudi sejak Freemasonry terbentuk antara akhir abad ke 16 hingga awal abad 17 di Inggris, hingga hari ini, kelompok itu memang merekrut siapa saja yang mereka nilai potensial, baik secara langsung maupun tidak, untuk dimanfaatkan demi mencapai misi-misinya.

Saat ini kata Amir, Konspirasi Yahudi Internasional untuk menciptakan Tatanan Dunia Baru menginduk pada satu organisasi yang bernama Committee 300, sehingga Freemasonry, Illuminati, dan lain-lain, berada di bawahnya.

Perekrutan itu, katanya, dilakukan dengan cara bermacam-macam, seperti melalui universitas-universitas yang didirikan, seperti Universitas Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), dan juga dari pantauan mereka terhadap orang-orang yang dinilai potensial.

"Perekrutan itu terjadi di berbagai negara, terutama di Amerika dan Eropa yang menjadi basis utama keberadaan dan gerakan mereka," terang Amir

Amir menyebut, Anies pernah dua kali kuliah di Amerika, yakni di Universitas Maryland College Park pada tahun 1997-1998, dan Northern Illinois University pada tahun 1999. Amir menduga kalau selama di negara Paman Sam itu Anies telah masuk radar akibat sosoknya yang cerdas dan berprestasi.

Sebelum terbang ke Amerika, Anies sempat berkarier sebagai peneliti dan koordinator proyek di Pusat Antar-Universitas Studi Ekonomi UGM setelah meraih gelar S1, dan sebelum menamatkan kuliahnya di UGM pada 1995, dia mendapat beasiswa dari JAL Foundation pada 1993 untuk mengikuti kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo, dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia dapatkan setelah memenangkan sebuah lomba menulis mengenai lingkungan.

Anies kuliah di Universitas Maryland karena mendapatkan beasiswa Fulbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi, dan selama kuliah di Universitas Maryland, Ia dianugerahi William P. Cole III Fellow dari universitas itu.

"Anies melanjutkan kuliah ke Universitas Northern Illinois setelah tamat di Universitas Maryland, juga karena mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di bidang ilmu politik, dan di universitas itu dia kembali meraih beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow, yakni penghargaan yang hanya diberikan kepada mahasiswa yang berprestasi dalam bidang ilmu politik," lanjut Amir.

Ia mengakui, sosok Anies adalah sosok yang tak bakal dilewatkan oleh para pelaku konspirasi Yahudi Internasional, karena potensinya yang besar.

Karena itu, kata Amir, tidak mengagetkan kalau pada tahun 2009 World Economic Forum menghadiahi Anies gelar The Young Global Leaders.

"Sekarang ini kan yang perlu kita tahu, Anies aktif atau tidak di organisasi yang memberinya gelar itu? Kalau ya, aktifnya seperti apa? Kalau tidak, berarti Anies hanya memiliki komunikasi dengan mereka, karena ketika sebuah organisasi memberikan penghargaan, kan tidak berhenti hanya pada pemberian penghargaan itu, karena sudah menjadi bagian dari mereka," katanya.

Amir menegaskan, selama ia mengenal Anies sejak kampanye Pilkada Jakarta 2017, dan berkali-kali bertemu serta berbincang dengannya, ia hanya melihat sosok Anies yang cerdas, humble dan terbuka.

"Berkali-kali saya berbincang dengannya, yang melulu dibahas adalah masalah Jakarta. Anies tidak pernah bicara tentang pergaulan Internasionalnya, dan juga tentang pribadinya," ujar Amir.

Meski demikian Amir mengakui, ketika ia melihat bagaimana Anies menangani pandemi Covid-19, mulai dari permintaan lockdown kepada presiden di awal pandemi, dan lain-lain, ia bukan hanya takjub, tapi juga kaget.

Sebab, ia termasuk orang yang mencermati betul bagaimana teori konspirasi berkembang akhir-akhir ini, terutama sejak pandemi Covid-19 muncul, karena dari informasi yang didapatnya, pandemi ini sengaja dimunculkan oleh para konspirator global (elit Yahudi) untuk melakukan depopulasi demi merealisasikan Tatanan Dunia Baru.

"Anies menangani pandemi ini secara terukur, seolah dia sudah tahu pandemi ini sebenarnya apa, dan bagaimana mengatasinya. Dia seperti mendapat “bisikan,$ katanya.

Amir berharap, apapun yang dilakukan Anies untuk menangani pandemi Covid-19 di Jakarta, adalah yang terbaik bagi warga Jakarta.

Seperti diketahui, dalam daftar The Young Global Leaders, nama Anies berada di urutan 184. Tentang organisasi itu, pemilik akun @Wedhus999 dalam bahasa Inggris mengatakan begini:

“All the YGL and alumni are “active on multiple initiative responding to the Covid-19 ” according their website including promotion mask wearing, the great reset, lockdown and spreading propaganda on news publication, and telling governments what to do,”.

Artinya: Semua YGL dan alumni “aktif dalam berbagai inisiatif menanggapi Covid-19” menurut website mereka, termasuk dalam mempromosikan pemakaian masker, reset besar-besaran, lockdown dan penyebaran propaganda pada publikasi berita, dan memberi tahu pemerintah apa yang harus dilakukan".

Pemilik akun itu menyebut kalau ke-1.334 nama tersebut adalah musuh yang sesungguhnya, karena mereka lah yang berada di balik great reset, yakni penataan ulang secara besar-besaran. 

Great reset ini merupakan langkah untuk menuju Tatanan Dunia Baru, dan dengan adanya pandemi Covid-19 seperti saat ini, sangat jelas caranya, yakni melakukan depopulasi seperti yang disebut Amir, dengan menyebarkan virus yang dapat membunuh banyak orang.

Covid-19 pertama kali menyebar di Kota Wuhan, China, pada akhir 2019, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Hingga Rabu (4/8/2021) ini, menurut Worldometers, Covid-19 telah menginfeksi 200.280.632 orang di seluruh dunia, dimana 4.258.927 orang di antaranya meninggal dunia.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Wahyu Praditya P