Netral English Netral Mandarin
16:37wib
Komut PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama mengungkap selain menghapus fasilitas kartu kredit bagi direksi, komisaris, dan manajer, juga menghapus fasilitas uang representatif. Terdakwa kasus tes usap palsu RS Ummi Bogor, Rizieq Shihab, akan membacakan duplik pagi ini di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
Anak Anda Tulalit? Waspada Kekurangan Zat Besi, Bisa Fatal Akibatnya

Kamis, 01-April-2021 11:45

Ilustrasi anak sedang memikirkan sesuatu.
Foto : aifs.gov.au
Ilustrasi anak sedang memikirkan sesuatu.
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Apakah anak Anda tulalit alias telat berpikir? Jika ya, Anda perlu waspada, pasalnya itu merupakan salah satu gejala kekurangan zat besi. 

Selain itu, ada gejala ringan lain dari kekurangan zat besi, di antaranya adalah mudah lelah, gangguan kognitif dan tidak bertenaga. Ada pula gejala berat dan fatal dari anak kekurangan zat besi, seperti tidak nafsu makan, PICA atau mengkonsumsi makanan yang bukan makanan. 

“Contoh dari PICA misalnya phagophagia atau mengunyah es batu. Jadi tidak mengkonsumsi makanan yang bukan makanan,” ujar Prof Dr dr Saptawati Bardosono, MSc, Rabu (31/3/2021).

Pernyataan itu disampaikan Prof Saptawati dalam acara Festival Soya Generasi Maju dengan tema “Pentingnya Kombinasi Unik Zat Besi dan Vitamin C untuk Dukung Si Kecil yang Tidak Cocok Susu Sapi Tumbuh Maksimal”. 

Prof Sapawati katakakan bahwa, satu dari tiga anak di Indonesia yang berusia di bawah lima tahun mengalami anemia. Sebesar 50 hingga 60 persen kasus anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi. Padahal zat besi berperan penting untuk mendukung perkembangan otak dan pertumbuhan fisik. 

Pada perkembangan otak, zat besi berperan dalam pembentukan selaput saraf (mielinisasi) yang membantu proses penerimaan informasi pada otak dan meningkatkan proses belajar. Pada pertumbuhan fisik dan energi, zat besi merupakan salah satu nutrisi untuk pembentukan hemoglobin yang berperan membawa oksigen ke sel–sel tubuh agar berfungsi optimal sehingga mendukung anak untuk aktif bereksplorasi dan siap belajar. 

“Dampak dari defisiensi zat besi ini diantaranya adalah prestasi akademik yang rendah, gangguan permanen pada sistem motorik dan sensorik, mudah terangsang penyakit, hingga pertumbuhan fisik yang terhambat,” jelas Prof Sapawati.

Dijabarkan Prof Sapawati, kebutuhan zat besi pada anak usia 1–3 tahun yakni 7mg/hari. Sedangkan pada anak usia 3–5 tahun, kebutuhan zat besinya adalah 10 mg/hari. Lantas dari mana zat besi bisa didapatkan? 

Prof Saptawati jabarkan bahwa zat besi bisa diperoleh dari berbagai makanan yang kaya akan zat besi. Di antaranya makanan yang mudah diserap yang berasal dari sumber makanan hewani antara lain yaitu daging, hati, ikan dan tiram. 

Selain itu, ada juga dari makanan yang berasal dari sumber makanan nabati, diantaranya adalah kacang merah, bayam, nasi putih, dan kacang, sayuran hijau, tomat, kentang, hingga susu difortifikasi.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP