Netral English Netral Mandarin
01:50wib
Lebih dari 4.300 orang telah meninggal dunia akibat "jamur hitam" di India yang umumnya menyerang pasien-pasien Covid-19. Gojek, Grab, dan ShopeeFood membantah terlibat dalam seruan aksi demo nasinonal Jokowi End Game yang berlangsung hari ini.
Anak Perempuan Dikhitan, Perlukah?

Kamis, 10-Juni-2021 14:00

Untuk kesehatan anak peremuan disarankan disunat.
Foto : Halodoc
Untuk kesehatan anak peremuan disarankan disunat.
2

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pro-kontra terkait khitan untuk anak perempuan, ternyata apapun alasannya, yang pasti chitan sangat baik untuk kesehatan.

Sunat perempuan adalah prosedur yang melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh alat kelamin wanita bagian luar. Sunat perempuan tidak dilakukan atas alasan medis, dan justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Istilah sunat perempuan sebenarnya tidak tepat

Sunat perempuan adalah prosedur yang melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh alat kelamin wanita bagian luar. Sunat perempuan tidak dilakukan atas alasan medis, dan justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Istilah sunat perempuan sebenarnya tidak tepat.

Pandangan WHO Terhadap Khitan ada Wanita

Menurut WHO, khitan pada wanita termasuk kedalam mutilasi genital wanita atau female genital mutilation (FGM). FGM mencakup prosedur yang dengan sengaja mengubah atau menyebabkan cedera pada organ genital wanita karena alasan non-medis. 

Kegiatan ini terdiri dari prosedur yang melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh genitalia wanita eksternal atau cedera lain pada organ genital wanita karena alasan non-medis. Mutilasi genital wanita diklasifikasikan menjadi 4 tipe utama, yaitu:

Klitoridektomi, yaitu pengangkatan sebagian atau total klitoris dan dalam kasus yang sangat jarang, hanya preputium (lipatan kulit di sekitar klitoris) yang diangkat.


Eksisi, pengangkatan sebagian atau total klitoris dan labia minora (lipatan dalam vulva) dengan atau tanpa eksisi labia majora (lipatan luar kulit vulva) .


Infibulasi, yaitu penyempitan lubang vagina melalui pembuatan segel penutup. Segel ini dibentuk dengan memotong dan memposisikan ulang labia minora atau labia majora dengan atau tanpa pengangkatan klitoris (clitoridectomy).


Prosedur berbahaya lainnya untuk untuk tujuan non-medis, seperti menusuk, mengiris, mengikis dan membakar daerah genital.


Praktek ini sebagian besar dilakukan oleh penyunat tradisional yang sering memainkan peran sentral dalam masyarakat. Faktanya, WHO mendesak para profesional kesehatan untuk tidak melakukan prosedur seperti itu. Menurut WHO, khitan pada anak perempuan tidak memiliki manfaat kesehatan dan berisiko menimbulkan perdarahan hebat dan masalah buang air kecil. Wanita yang melakukan khitan juga berisiko mengidap kista, infeksi, serta komplikasi dalam persalinan dan peningkatan risiko kematian bayi baru lahir. 

FGM juga dianggap menghilangkan dan merusak jaringan genital wanita yang sehat dan normal yang tentunya berisiko mengganggu fungsi alami tubuh anak perempuan. Secara umum, risiko-risiko diatas meningkat seiring dengan tingkat keparahan prosedur. 

Diperbolehkan di Indonesia?

Kementerian Kesehatan sebenarnya telah menerbitkan Permenkes 2014. Di dalam peraturan tersebut disebutkan sunat pada perempuan yang pelaksanaannya tidak berdasarkan indikasi medis dan belum terbukti bermanfaat bagi kesehatan. 

Namun, karena secara tradisi sunat perempuan masih sering dilakukan di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengimbau agar khitan pada perempuan harus memperhatikan keselamatan dan kesehatan objek yang disunat, serta tidak melakukan mutilasi alat kelamin perempuan.

Syariat Islam

Dilansir dari Hukum Khitan, menurut Tajudin, syarat utama dalam khitan perempuan adalah hanya cukup mengiris sedikit atau kelamin tersebut (klitoris) pada definisi tersebut sampai berdarah dan tidak perlu membuangnya.

Syaikh Sayyid Sabiq mendefinisikan bahwa khitan perempuan adalah dengan memotong bagian teratas dari faraj-nya, sunat ini adalah tradisi kuno (sunnah qadimah).

Menurut Husain Muhammad, khitan perempuan fungsinya justru sangat negative dari sudut kebutuhan seksual karena akan mengurangi kenikmatan. Dan bahkan bagi sebagian perempuan dapat menimbulkan trauma psikologis yang berat. 

Sebab ujung klentit adalah organ seks perempuan yang cukup sensitive terhadap gesekan dan rangsangan yang akan membawa kenikmatan prima.

Oleh karena itu, dengan memotong organ tersebut, daerah erogen akan berpindah dari muka (clitoris) kebelakang (liang vagina), dan karena itu, rangsangan perempuan akan berkurang, gairah lemah, dan susah memperoleh kenikmatan (organisme) ketika melakukan hubungan kelamin. Lebih lagi praktek khitan yang sampai memotong bibir kecil (labia minora).

Dari definisi tersebut, dapat ditarik pemahaman bahwa syarat utama dalam khitan perempuan adalah hanya cukup dengan mengiris sedikit alat keLamin tersebut (clitoris) pada definisi tersebut di atas sampai berdarah, dan tidak perlu membuangnya.

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sesmawati