Netral English Netral Mandarin
04:23wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Anda Ingat Bona Pasogit? Jangan Lewatkan ‘Simataniari’

Minggu, 06-Juni-2021 11:47

Salah satu adegan dalam film ‘Simataniari’
Foto : Dok Trinov Fernando Sianturi
Salah satu adegan dalam film ‘Simataniari’
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Hidup terus bergerak dan manusia bakal terus berganti. Generasi tua akan diganti generasi muda demikian terus menerus. Semua bergerak dan berubah. Namun, justru di dalam proses yang tak abadi itu ada keabadian, yakni “perubahan” itu sendiri.

Di antara perubahan ada proses “estafet” pewarisan budaya dari generasi ke generasi selanjutnya. Proses estafet ini bersifat abadi alias pasti terjadi.

Dalam proses tersebut memungkinkan peradaban diwariskan dan tumbuh berkembang. Proses pewarisan mulai dari tata nilai, adat tradisi, seni, hingga norma-norma masyarakat tertentu dari generasi ke generasi tentu menjadi penting.

Di Jawa ada istilah “mikul dhuwur mendhem jero" yang artinya setiap generasi wajib menjunjung tinggi (mikul dhuwur) nilai peradaban warisan para leluhur dan harus berani pula memendam sedalam-dalamnya (mendem jero) untuk kebiadaban (lawan kata peradaban) atau hal-hal buruk yang dialami leluhur di masa lalu.

Baca Juga :

Dalam proses tersebut ada penghormatan, pelestarian budaya leluhur, tak melupakan, cinta akan asal usul, tahu tujuan kehidupan, dan tidak menjadi generasi yang arogan seolah kehebatan terjadi hanya karena kekuatan dirinya sendiri. Sebab, kesuksesan generasi yang satu tak mungkin lepas dari proses pewarisan peradaban generasi sebelumnya.

Lain lagi sebutan dalam falsafah masyarakat Batak. Mereka memiliki filosofi “Bona Pasogit”. Dalam bahasa Batak, istilah ini mengajak setiap generasi Suku Batak untuk ingat akan asal usulnya, yakni “kampung halaman”.

Suku Batak lahir dari tanah Batak yang berada di Sumatera, tepatnya Sumatera Utara. Tak sekadar itu saja, Bona Pasogit adalah identitas diri pribadi yang memberikan informasi dari mana ia berasal, siapa ia, serta mengapa ia kemudian merantau ke seluruh penjuru dunia.

Orang Batak wajib bangga memiliki Bona Pasogit. Dalam konteks semangat itu pula, orang Batak wajib membangun dan memajukan peradaban masyarakat Batak di kampung halamannya.

Bona Pasogit dan Trinov Fernando Sianturi

Lahir sebagai putra asli Medan, tepatnya di Belawan pada 3 November 1977, Trinov Fernando Sianturi tak mungkin berpaling dari semangat Bona Pasogit. Sebagai pengacara dan Ketua Yayasan Pendidikan Kemajuan Bangsa Medan, ia tak bisa berdiam diri dan pasrah menghadapi perubahan zaman.

 

Ia mencoba berkontribusi serta mengambil sikap. Ia sempat bergelut dalam sejumlah organisasi mulai menjadi anggota BPEK PDIP DPD Sumatera Utara, Ketua DPW Sumut Union Artist Indonesia, Ketua Gerakan Rakyat Cinta Indonesia (Gercin) DPDSumatera Utara, dan juga menjadi Ketua Generasi Muda (GM) Pomparan (keturunan, red) Sianturi Simataniari (Paposma) sedunia.

 

Kini, sehari-hari, Tirinov terus mengaktualisasikan semangat Bona Pasogit melalui “Yayasan Pendidikan Kemajuan Bangsa Medan” yang berdiri sejak tahun 2005. Beberapa anggota keluarga besar Sianturi Simataniari juga ikut bergotong royong membesarkan yayasan ini. Salah satu di antaranya adalah Verawaty Sembiring, yang duduk sebagai Bendahara Umum Yayasan. Beliau tak lain adalah istri dari Trinov Fernando Sianturi.

“Juga ada mamakku, Rentina Br Tobing atau Opung Theresia Boru sebagai penasehat Yayasan Pendidikan Kemajuan Bangsa Medan. Padahal ia sudah 76 tahun. Ini penting. Beliau yang sudah berusia 76 tahun saja masih semangat mengabdi, malulah kami yang muda jika loyo,” tutur Trinov.

 

Yayasan Pendidikan Kemajuan Bangsa Medan memiliki cita-cita mampu melahirkan generasi atau sumber daya manusia yang cerdas, rendah hati, dan takut akan Tuhan.

Oleh sebab itu, didirikanlah sekolah dari tingkat TK hingga SMK di bawah payung Yayasan Kemajuan Bangsa Medan yakni TK Immanuel Kids 1-2, SD dan SMP Kristen Toby Betlehem Amplas Medan, SMK Pariwisata Trinov Membangun Indonesia Medan, serta SD-SMP Kristen Luis Betlehem Namo Pecawir Deli Serdang.

 

Yayasan ini secara khusus mendidik anak-anak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah dengan menerapkan uang sekolah yang murah tapi layanan pendidikan tetap berkualitas.

Kenapa disebut murah karena biaya sekolah hanya berkisar Rp100.000 perbulan. Murah bukan? Namun soal kualitasnya jangan pernah diragukan.

Terjun ke Dunia Film

Soal kualitas yang dibangun oleh Trinov Fernando Sianturi, inilah salah satu buktinya.

Baru-baru ini, Trinov Fernando Sianturi terjun ke dunia film. Melalui Yayasan Pendidikan Kemajuan Bangsa Medan, diproduksilah film berjudul “Simataniari”. Seperti di awal catatan ini, film ini digarap tak lepas dari semangat Bona Pasogit di mana Trinov tak rela jika peradaban warisan leluhur dilupakan oleh generasi milenial.

 

Ia kemudian berusaha menjaga cerita leluhur tentang sosok Pomparan (keturunan, red) Raja Sianturi Simataniari melalui karya film agar generasi milenial mengetahui siapa Pomparan Simataniari Sianturi.

“Saya memiliki empat anak yaitu Michelle, Toby, Luis, dan Tiago. Dalam lingkup keluarga saya sendiri, saya berharap mereka mengenal tentang leluhur mereka sebagai orang Batak. Dalam konteks lebih luas, saya berharap hal sama terjadi juga pada anak-anak Batak,” terang Trinov Fernando Sianturi kepada Netralnews, Sabtu (5/6/2021).

Film ini mengambil latar belakang kehidupan di beberapa daerah yang ada di Bona Pasogit seperti di Tambok Siogung Ogung yang ada di Sosor Niapoan, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbanghas, Tambok Sitei Hoda yang ada di Desa Lobutolong Paranginan, Desa Batu Gajah Paranginan, Desa Simatupang, Desa Batu Nimbu, Desa Pulau Sibandang yang ada di Kecamatan Muara, serta Desa Simatupang yang ada di Kecamatan Laguboti.

 

“Para pemain film terdiri dari anak-anak muda dan orang tua yang ada di Bona Pasogit sebesar 80%. Sisanya, pemain dari Medan. Dan dari keseluruhan pemain, mayoritas adalah dari Pomparan Raja Simataniari Sianturi,” papar Trinov Fernando Sianturi.

“Film ini rencana akan tayang di CGV bioskop yang ada di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Dan rencana akan coba ikut kompetisi film budaya di luar negeri,” tegas Trinov Fernando Sianturi.

Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang isi film tersebut? Simak trailer di bawah ini. (ADV) 

Reporter :
Editor : YC Kurniantoro