Netral English Netral Mandarin
banner paskah
21:01wib
Indonesia Corruption Watch menilai pengelolaan internal Komisi Pemberantasan Korupsi sudah bobrok. Kapal selam KRI Nenggala-402 yang hilang kontak saat melakukan latihan di perairan Bali karam di kedalaman 600-700 meter.
Anggapan Pusat Bisnis Perlu Dipisah dari Pusat Pemerintahan, Emil Salim: Tidak Lagi Relevan! 

Jumat, 26-Februari-2021 07:52

Ekonom Senior Prof DR Emil Salim
Foto : Law justice
Ekonom Senior Prof DR Emil Salim
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ekonom Senior Prof DR Emil Salim angkat bicara terkait adanya anggapan bahwa pusat bisnis perlu dipisahkan dari pusat pemerintahan. 

Menurutnya, anggapan itu seolah lupa bahwa kemajuan teknologi digital telah hapuskan, makna jarak dan komunikasi bisa tatap-muka dengan digital.

"Sehingga pemisahan “pusat bisnis & pemerintah” tidak lagi relevan !," tegas dia, dikutip dari cuitannya, Jumat (26/2/2021).

Sebelumnya, Prof Emil juga katakan, anggapan bahwa membangun ibu-kota nasional baru di Kalimantan akan mendorong pembangunan daerah, tidak beralasan ilmiah. Ibu kota Brazilia (Brazil), Canberra (Australia) dan lain-lain, juga ibu kota provinsi-provinsi RI tidak membuktikan anggapan bagi negara kepulauan RI.

Sebelum ingin pindah ibukota RI dari Jakarta, Prof Emil mohon kaji nasib Soreang, ibukota Kabupaten Bandung; Bukit Pelangi, ibukota Kutai Timur; kota Sofifi, ibukota Maluku Utara; Pulau Dompak, Kota Tanjung Pinang, Prop. Kepulauan Riau; Bukit Pelangi, kabupaten Kutai Timur.

"Semua ibu-kota2 tersebut menderita masalah angkutan, komunikasi, jarak antara perumahan dgn kantor, fasilitas pendidikan, dll," ujar Prof Emil.

Menurutnya, sebuah ibu-kota, apalagi ibukota negara, bukan benda mati tapi hidup. Alasannya, karyawannya yang berkeluarga dengan anak yang perlu sekolah.

Kunci pembangunan suatu negara terletak dlm membangun otak, akal, fikiran SDM bangsa menguasai science, ilmu, teknologi untuk naikkan nilai tambah SDA di seluruh tanah-air. 

"BUKAN dgn bangun fisik ibu-kota Negara di pulau Kalimantan yg dirancang bantuan asing," tegas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli