Netral English Netral Mandarin
22:16wib
Ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto menduga bahwa varian Omicron sudah masuk Indonesia. Sebanyak 10.000 buruh akan menggelar aksi unjuk rasa di tiga tempat, yakni Istana Kepresidenan, Mahkamah Konstitusi, dan Balai Kota DKI Jakarta, hari ini.
Apa Benar Kerokan Cara Atasi Masuk Agin? Ini Faktanya!

Kamis, 25-November-2021 14:20

Kerokan (ilustrasi)
Foto : Istimewa
Kerokan (ilustrasi)
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apakah Anda gemar kerokan? Atau Anda sudah sering dikerok sejak kecil hingga dewasa?

Kata dr Vito Damay SpJP(K) Mkes, AIFO-K, FIHA, FICA, FasCC, harus diakui kerokan memang memberika sensasi kesembuhan. Kerokan bahkan bagaikan tradisi turun temurun di Indonesia. 

Alat kerokan pun beragam, mulai dari kayu, bawang merah, hingga koin dan lain-lain. 

Tapi tahukan Anda, kerokan memakai koin atau alat kerok bisa membuat inflamasi atau peradangan pada kulit, sehingga timbul kemerahan pada kulit. Hal itu biasanya menjadi “indikator” kerokan itu berhasil atau kalau diagnosis masuk angin itu benar. 

“Padahal sebenarnya kerokan tidak menyembuhkan,” ujar dr Vito, dikutip dari infografis yang dia bagikan, Kamis (25/11/2021). 

Efek balsem dan minyak angin yang hangat jelas memberikan efek menenagkan. Ditambah lagi kulit yang terluka karena gesekan ketika kerokan jadi terasa hangat. 

“Tapi yang jelas masuk angin tidak akan keluar anginnya melalui kulit, seperti yang dianggap sebagian orang,” tegas dr Vito.

Inflamasi dan kulit menjadi merah itu adalah reaksi dari peradangan. Respon tubuh terhadap peradangan adalah merangsang pembekuan darah. Sehingga bukan merangsang sirkulasi darah makin lancar.

Diketahui dr Vito, orang sering mengasumsikan merah dengan darah, sehingga makin merah darah maka semakin lancar. Padahal itu adalah reaksi peradangan yang justru ditimbulkan dari kerokan.

Dampaknya, kerokan membuat kulit menjadi terbuka. Padahal kulit kita termasuk pertahanan awal menghadapi virus bakteri yang mau masuk ke dalam tubuh.

“Jadi, bentengnya itu kulit. Contoh, virus SRAS-CoV2 atau HIV sekalipun tidak akan menular lewat kulit yang utuh,” ujar dr Vito. 

Justru kerokan membuat kulit yang terbuka bagaikan benteng yang runtuh dan bisa dimasuki virus atau bakteri.

“Boleh-boleh aja kerokan, tapi perlu diperhatikan alat pengerokannya harus bersih dan tidak berpindah-pindah tangan. Takutnya banyak kuman dan justru menimbulkan penyakit. Alternatif pilihannya adalah pijat,” saran dr Vito.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Wahyu Praditya P

Berita Terkait

Berita Rekomendasi