Netral English Netral Mandarin
05:54wib
Hampir seluruh negara di dunia meningkatkan pembatasan Covid-19 ketika kasus varian Delta melonjak, yang tidak sedikit orang menentangnya. Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa bahu-membahu berupaya melawan pandemi Covid-19.
Apa Benar Orang akan Meninggal 2 Tahun Setelah Menerima Vaksin Covid-19? Ini Kata Prof Zubairi

Jumat, 28-Mei-2021 10:45

Vaksinasi Covid-19 untuk lansia.
Foto : Antara
Vaksinasi Covid-19 untuk lansia.
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban mengatakan, ada pesan berantai yang isinya cukup mengerikan. 

Pesan berbunyi, orang akan meninggal dalam dua tahun setelah disuntik vaksin Covid-19. 

Pesan itu mengklaim bahwa Mike Yeadon, mantan saintis berpengaruh dari Pfizer, yang menyatakannya. 

"Informasi orang akan meninggal dalam dua tahun karena disuntik vaksin Covid-19 ya jelas hoaks (kabar bohong)," tegas Prof Zubairi, dikutip dari cuitannya, Jumat (28/5/2021).

Di luar negara, seperti India, pesan berantai hoaks itu memakai nama peraih Nobel Luc Montagnier. 

Tapi, soal Mike Yeadon yang menyatakannya atau bukan, Prof Zubairi mengaku belum tahu pasti. Dia juga masih mempertanyakan, apakah pernyataan itu disampaikan oleh Yeadon yang asli atau palsu. "Nanti biar waktu akan berbicara," sambung dia.

Prof Zubairi akui, sosok Yeadon yang kontroversial. Salah satunya karena menulis petisi soal vaksin Covid-19 yang sebabkan kemandulan.

"Yang jelas, Yeadon ini cukup kontroversial. Ia ikut menulis petisi tentang vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kemandulan, yang kemudian diketahui sebagai hoaks," jelas Prof Zubairi.

Meski begitu, diakui Prof Zubairi, Yeadon bukan ilmuwan sembarangan. Yeadon diketahui telah menghabiskan 16 tahun kariernya di Pfizer, sebagai peneliti.

"Memang banyak pertanyaan bermunculan terkait cara pandang Yeadon. Misalnya, mengapa ilmuwan sekelas Yeadon justru skeptis terhadap vaksin Covid-19. Nah ini tetap menjadi misteri," kata Prof Zubairi.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP