Netral English Netral Mandarin
00:56wib
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 optimistis target capaian program vaksinasi virus corona di Indonesia akan rampung sesuai target awal pemerintah yakni pada Desember 2021. Kasus COVID-19 meningkat drastis selama seminggu terakhir. Rumah sakit hingga Wisma Atlet melaporkan bed occupancy rate yang terus meningkat.
Apa Benar Orang dengan Hipertensi Lebih Mudah Terinfeksi Covid-19? Ini yang Harus Dilakukan

Kamis, 06-Mei-2021 13:40

Prevalensi hipertensi pada penderita Covid-19 tidak melebihi prevalensi.
Foto : My blood
Prevalensi hipertensi pada penderita Covid-19 tidak melebihi prevalensi.
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) dr Erwinanto Sp JP(K), FIHA menegaskan bahwa prevalensi hipertensi pada penderita Covid-19tidak melebihi prevalensi hipertensi pada populasi umum. Maka dari itu, dia meraguka bahwa hipertensi bisa membuat penderitanya lebih berisiko atau mudah terinfeksi Covid-19. 

Namun yang perlu diwaspadai, bahwa penyakit yang diakibatkan oleh hipertensi seperti jantung, stroke dan gagal ginjal kronik disebut mempengaruhi vatalitas dari Covid-19. 

“Semua penelitian meragukan hal itu (penderita hipertensi lebih berisiko terinfeksi Covid-19). Hipertensi tidak masuk sebagai faktor risiko terjadi beratnya Covid-19,” tegas dr Erwinanto dalam Media Briefing Hari Hipertensi Sedunia 2021 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kamis (6/5/2021). 

Lebih lanjut dr Erwinanto menegaskan agar pasien hipertensi tetap teratur minum obat, apalagi saat situasi Pandemi Covid-19. Dia juga imbau agar dosis obat hipertensi tidak dikurangi untuk mengurangi faktor risiko terjadinya jantung, stroke dan gagal ginjal kronik. 

Dia juga menyinggung obat ARB atau angiotensin II receptor blockers. Itu adalah golongan obat untuk menurunkan tekanan darah pada kondisi hipertensi. Obat ini juga digunakan dalam pengobatan gagal jantung dan pencegahan gagal ginjal pada penderita diabetes atau hipertensi.

“ARB diisukan meningkatkan kerentanan pasien terkena Covid-19. Itu tidak benar,” tegas dr Erwinanto. 

Dokter Erwinanto menegaskan bahwa semua obat anti hipertensi harus tetap dimonum oleh pasien hipertensi. Apalagi saat situasi Pandemi Covid-19, obat anti hipertensi justru harus dikonsumsi lebih baik. 

“Obat anti hipertensi harus lebih teratur diminum saat pandemi karena mampu menurunkan faktor risiko terjadinya jantung, stroke dan gagal ginjal. Ketiga penyakit itu justru bisa meningkatkan vatalitas Covid-19,” jelas dr Erwinanto. 

Pernyataan ini disampaikan karena hipertensi merupakan masalah kesehatan, tidak hanya di Indonesia melainkan global. Berbagai pesan dia sampaikan dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kejadian hipertensi. Apabila tumbuh kesadaran maka individu akan mengukur tekanan darah berkala untuk melakukan penapisan diri sendiri dengan kemungkinan hipertensi. 

Apabila terjadi hipertensi maka diharap individu memeriksakan diri ke dokter sehingga ditentukan kebutuhan obat atau tidaknya. Obat yang diberikan juga tentu berupaya untuk menurunkan tekanan darah karena hipertensi merupakan penyakit kronik yang tidak bisa disembuhkan melainkan perlu dikontrol. Apabila hipertensi terkendali maka akan terhindar dari gangguan jantung, stroke dan gagal ginjal. 

“Dari mereka (pasien hipertensi) tidak minum obat hipertensi sama sekali karena merasa sudah sehat. Padahal jangan anggap bahwa hipertensi hilang, tetapi terkontrol. Kalau dihentikan tekanan darah bisa naik lagi dan muncul risiko (jantung, stroke, gagal ginjal),” terang dia. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani