Netral English Netral Mandarin
21:29wib
Putri salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates yakni Jennifer Gates, sudah resmi menikah dengan pacarnya. Ia menikah dengan pria muslim dari Mesir bernama Nayel Nassar. Tim bulu tangkis putri China menjadi juara Piala Uber 2020 setelah mengalahkan Jepang pada final yang berlangsung di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/10/2021) dini hari WIB.
Apa Benar Orang yang Sakit Covid-19 Harus Berpuasa dan Bantu Penyembuhan?

Senin, 09-Agustus-2021 12:15

Puasa pada pasien Covid-19z
Foto : Ilustrastion.
Puasa pada pasien Covid-19z
17

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Apakah benar, orang yang sakit Covid-19 harus berpuasa? Apa benar juga bila berpuasa bisa jadi salah satu metode pengobatan bagi pasien Covid-19? 

Mengetahui informasi yang berbedar di masyrakat, Helath Educator dr RA Adaninggar SpPD menegaskan bahwa belum ada penelitian eksperimental mengenak hal itu. Pasalnya, bila pasien Covid-19 mau menjadikan puasa sebagai suatu bentuk pengobatan maka harus dilakukan uji klinis terlebih dahulu. 

Uji klinis perlu dilakukan untuk mengetahui, apakah berpuasa bagi pasien Covid-19 efektif dan aman. Menurutnya, secara teoritis hal ini harus dibuktikan. 

“Pasien Covid sangat tidak dianjurkan untuk berpuasa selama sakit karena pembatasan makanan akan berisiko kekurangan nutrisi yang penting untuk kerja sistem imun mereka,” tegas dr Adaninggar, dikutip dari infografis yang dia bagikan, Senin (9/8/2021). 

Dia juga menyertakan sebuah jurnal yang menekankan pentingnya uji lebih lanjut karena secara teori, intermitten fasting alias berpuasa bisa mencegah infeksi, bukan mengobati. Sehingga puasa yang dimaksud adalah puasa jangka panjang, bukan saat sakit. 

“Nutrisi tetap dibutuhkan saat sedang sakit infeksi untuk memberikan tubuh Anda energi untuk melawan virus. Nutrisi tetap dibutuhkan yang takannya sesuai kebutuhan saat sakit,” pesan dia. 

Puasa Gula 

Di sisi lain, dia membernarkan puasa gula yang dilakukan pada pasien diabetes, yang jelas-jelas sudah ada gangguan metabolisme gula karena defisiensi atau resistensi insulin. Selama ini, bila gula darah pasien diabetes tinggi, memang tidak boleh diberikan makanan sampai gula darah normal terlebih dahulu. 

“Pada pasien diabetes, mau puasa atau tidak gula darahnya ta tetap akan tinggi beda dengan orang normal yang fungsi insulinnya masih baik,” kata dia. 

Jadi konteks membatasi gula adalah pada pasien diabetes yang tidak terkontrol karena gula yang berlebihan akibat fungsi insulin yang terganggu akan menyebabkan gangguan metabolisne di sel-sel imun yang malam memicu virus bereplikasi. 

Tetapi apabila fungsi insulin Anda baik dan tidak menderita sindroma metabolik atau diabetes, konsumsi gula sesuai kebutuhan tidak akan berbahaya dan tidak akan berdampak apa-apa pada virus. 

Diet Rendah Karbohidrat 

Diet rendah karbohidrat memang bagus untuk menurunkan berat badan sehingga mencegah terjadinya obesitas. Obesitas sendiri merupakan komorbid yang biasanya disertai dengan sindroma metabolik lain yang rentan jatuh ke kondisi berat bila terinfeksi Covid-19. 

Tetapi ternyata ada kondisi penyakit tertentu yang tidak diperbolehkan menjalani diet rendah karbohidrat, yaitu diabetes tipe 1, gagal jantung, gagal ginjal, gagal liver, stroke, gangguan irama jantung, penyakit jantung koroner, ibu menyusui, ibu hamil, infeksi aktif atau infeksi berat dan gagal napas. “Jadi seharusnya yang sedang infeksi Covid juga tidak disarankan (diet rendah karbohidrat). 

“Saya belum menemukan alasan imliah yang tepat dan kuat untuk mem-puasakan pasien yang sedang butuh nutrisi dalam melawan infeksi virus, kecuali dalam kondisi diabetes yang tidak terkontrol,” kata dia. 

Dia juga garisbawahi, setuju dengan puasa intermittent sebagai salah satu usaha untuk pola hidup sehat dan menurunkan berat badan. Tujuannya bisa mencegah terjadinya obesitas dan sindroma metabolik, tetapi bukan berarti baru dilakukan saat sedang alami Covid-19. 

 

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani