Netral English Netral Mandarin
23:00 wib
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo meyakini dirinya tertular Covid-19 saat makan karena harus melepas masker. Ia pun mengimbau masyarakat menghindari makan-makan bersama orang lain. akan menggunakan GeNose, alat deteksi virus corona atau Covid-19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM), di sejumlah stasiun kereta api di Indonesia mulai 5 Februari 2021.
Awal Pekan Nilai Tukar Rupiah Terkoreksi, Ini Penyebabnya

Senin, 07-December-2020 13:37

Ilustrasi Rupiah
Foto : Istimewa
Ilustrasi Rupiah
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (7/12/2020) pagi terkoreksi dipicu kekhawatiran prospek pemulihan ekonomi global.


Pada pukul 9.50 WIB, rupiah bergerak melemah 13 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp14.118 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.105 per dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures di Jakarta, Senin, mengatakan, penguatan harga aset berisiko terlihat belum stabil.

"Pasar masih mengkhawatirkan prospek pemulihan ekonomi global di tengah masih meningginya kasus penularan COVID-19 dan soal distribusi vaksin," ujar Ariston.

Di Indonesia sendiri, lanjut Ariston, kasus penularan yang masih meninggi juga masih menjadi kekhawatiran pelaku pasar.

Kasus harian COVID-19 terlihat masih bertambah pada Minggu (7/12/2020) kemarin dengan penambahan 6.089 kasus baru dibandingkan hari sebelumnya 6.027 kasus. Saat ini akumulasi kasus COVID-19 berjumlah 575.796 kasus, dengan pasien sembuh sebanyak 474.771 pasien

Di sisi lain, persetujuan darurat penggunaan vaksin dan prospek stimulus fiskal AS masih menjadi penopang penguatan harga aset berisiko. Indeks dolar AS terlihat masih melemah di kisaran 90 karena prospek stimulus fiskal tersebut.

"Dua sentimen yang berlawanan ini mungkin masih menahan pergerakan USD dan IDR dalam kisaran yang tidak jauh berbeda seperti hari sebelumnya," kata Ariston.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah bergerak di kisaran Rp14.050 per dolar AS hingga Rp14.180 per dolar AS.

"Kalau melihat pergerakan indeks dolar AS, harusnya rupiah bisa menguat tipis," ujarnya.

Sementara itu terkait kedatangan vaksin Sinovac ke Tanah Air pada Minggu (6/12) kemarin, Ariston menilai belum akan terlalu memengaruhi pergerakan rupiah di pasar.

"Jadwal pendistribusian dan jumlah masih dipertanyakan, jadi mungkin belum terlalu berpengaruh," kata Ariston.

Pada Kamis (4/12/2020) lalu, rupiah ditutup menguat 35 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp14.105 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya Rp14.140 per dolar AS.



Reporter : Sesmawati
Editor : Sesmawati