Netral English Netral Mandarin
15:56wib
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengkritik peran Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai pengawas keuangan negara, namun tidak ada pihak ketiga yang mengawasinya. Para ilmuwan di Afrika Selatan mendeteksi varian Covid-19 baru yang memiliki banyak mutasi. Varian ini disinyalir jadi penyebab tingginya penyebaran kasus di negara tersebut.
Awas, Asupan Vitamin D Tinggi Bisa Berbahaya dan Buat Keracunan!

Rabu, 18-Agustus-2021 09:46

Vitamin D perlu tapi tak boleh berlebihan.
Foto : Vitamin.
Vitamin D perlu tapi tak boleh berlebihan.
20

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apakah Anda kerap konsumsi Vitamin D? Atau Anda memiliki kebiasaan baru konsumsi Vitamin D di tengah situasi Pandemi Covid-19? 

Jika ya, ada baiknya mengetahui dosis Vitamin D yang Anda konsumsi setiap hari. Alasannya, ternyata ada dampak gangguan kesehatan yang bisa terjari apabila Anda konsumsi Vitamin D berlebih. 

"Lalu, apa gejala keracunan akibat dosis suplemen vitamin D yang berlebihan?

Biasanya itu muntah, mual, sakit perut, atau sariawan," terang Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Dr dr Zubairi Djoerban SpPD-KHOM, dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu (18/8/2021).

Diakui Prof Zubairi, pada dasarnya Vitamin D itu penting. Tetapi asupan Vitamin D yang sangat tinggi bisa berbahaya. 

"Belum ada bukti ilmiah yang kuat kalau suplemen vitamin D itu bermanfaat mencegah atau mengobati Covid-19. Jadi, jangan kampanye yang berlebihan sebelum ada bukti," tegas dia. 

Pernyataan ini disampaikan Prof Zubairi, pasalnya ada seorang dokter yang keracunan akibat Vitamin D berlebihan.

Prof Zubairi juga menegaskan tidak meminggirkan fakta apa yang pernah disampaikan oleh World Health Oragnization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia. 

Rata-rata kadar Vitamin D penduduk Indonesia cukup rendah yakni 17,2. Padahal, kadar normal Vitamin D dalam tubuh itu antara 30 hingga 60 nanogram per mililiter.

"Tapi, bukan berarti tiap hari kita harus konsumsi suplemen vitamin D. Tetaplah konsumsi sesuai kebutuhan," imbau dia. 

Jumlah vitamin D harian yang direkomendasikan adalah 400 IU untuk anak hingga usia 1 tahun, 600 IU untuk usia 1–70 tahun, dan 800 IU untuk usia 70 ke atas. Apabila tes kadar Vitamin D yang dilakukan dengan tes darah normal, maka tidak perlu lagi mengonsumsi suplemen. Sebab, “calon Vitamin D” itu sebenarnya sudah ada di bawah kulit, sebagai orang Indonesia, yang mendapat sinar matahari cukup sepanjang tahun.

Sehingga, kalau tubuh kita terpapar sinar matahari sedikit saja, maka hal itu sudah mencukupi kebutuhan Vitamin D. 

Maka, tidak diperlukan suplemen yang berlebihan. Namanya suplemen, menurut Prof Zubairi sebetulnya tidak diperlukan dan bisa didapat dari konsumsi susu atau kuning telur.

Perlu di garis bawahi, hindari konsumsi suplemen Vitamin D dosis tinggi. Apalagi melebihi 4 ribu IU per hari. 

"Itu berbahaya, yang akan menyebabkan gangguan kesehatan. Bahkan dalam jangka panjang bisa banget merusak ginjal," tegas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani

Berita Terkait

Berita Rekomendasi