Netral English Netral Mandarin
05:46 wib
Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto menggugat pemerintah Indonesia membayar ganti rugi sebesar Rp56 miliar terkait penggusuran dalam proyek pembangunan Tol Depok-Antasari di Jakarta Selatan. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengonfirmasi bahwa Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo akan dilantik Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) jadi Kapolri pada Rabu (27/1).
Balass Fahri Soal Dinasti Politik, Said Didu: Biarlah Saya Anda Cap Sebagai Orang Bodoh

Kamis, 10-September-2020 00:00

Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu
Foto : Istimewa
Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Said Didu, mengomentari pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah soal dinasti politik dalam kaitannya dengan dukungan Gelora kepada anak dan menantu Presiden Jokowi di Pilkada 2020.

Sebelumnya Fahri berpendapat bahwa orang-orang yang menganggap Partai Gelora ikut melanggengkan dinasti politik lantaran mendukung keluarga Presiden di Pilkada merupakan "percakapan orang- orang yang tidak berkualitas dan bodoh."

Merespon hal itu, Said Didu mengatakan, meski dicap orang bodoh, ia tetap berpendapat bahwa penguasa yang mencalonkan keluarganya untuk posisi jabatan politik saat masih berkuasa adalah perwujudan dinasti politik.



"Bung @Fahrihamzah yth, saya tetap berpendapat bahwa penguasa yang mencalonkan keluarganya untuk posisi jabatan politik saat masih berkuasa adalah perwujudan dinasti politik," tulis Said di akun Twitternya, Jumat (18/9/2020).

"Biarlah saya dan yang berpendapat demikian anda cap sebagai orang bodoh.

Selamat dengan "arah barunya", cuit @msaid_didu.

Pada cuitan lainnya, mantan Sekretaris Kementerian BUMN itu kembali menjelaskan pandangannya soal dinasti politik.

"Mention orang bodoh. Dinasti adalah kekuasaan berdasarkan keturunan.

Kekuasaan dpt diperoleh lewan penunjukan atau pemilihan.

Mohon jangan campur adukkan antara pengertian dengan proses," kata @msaid_didu.

"Pemilihan keturunan atau keluarga penguasa dapat dipastikan akan memanfaatkan pengaruh kekuasaan," tegas Said Didu.

Seperti diberitakan, Partai Gelombang Rakyat (Gelora) mendukung pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakoso di Pilkada Kota Solo dan pasangan Bobby Afif Nasution-Aulia Rahman Rajh di Pilkada Medan 2020.

Dukungan Partai Gelora kepada anak dan menantu Presiden Jokowi itu menimbulkan tudingan miring bahwa partai yang dibentuk oleh sejumlah eks elit PKS tersebut melanggengkan dinasti politik.

Namun tudingan itu dibantah oleh Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah. Menurutnya, tidak ada dinasti politik dalam terminologi negara demokrasi karena semua dipilih melalui prosesi politik, bukan warisan kekuasaan secara turun-temurun.

“Dalam negara demokrasi tidak akan terjadi dinasti politik sebab kekuasaan demokratis tidak diwariskan melalui darah secara turun temurun. Tapi dia dipilih melalui prosesi politik, orang yang masuk prosesi politik itu, belum tentu menang dan belum tentu juga kalah,” kata Fahri dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2020).

Fahri mengatakan, satu-satunya dinasti politik yang ada di Indonesia saat ini adalah Dinasti Hamengkubowono di Yogyakarta. "Itu pun kekuasaannya disamakan dengan gubernur, harusnya dinasti itu dipertahankan sebagai kekuatan simbol saja, tidak perlu diberi kekuasaan yang bertanggung jawab publik," ujarnya.

Lebih jauh, Fahri mengaku telah mengajak debat orang-orang yang menuding Gelora melanggengkan dinasti politik karena mendukung anak dan mantu Presiden Jokowi. Fahri menilai kelompok tersebut tidak paham konsep politik dinasti.

“Akhirnya jadi percakapan di pingggir jalan, percakapan orang yang tidak berkualitas. Jadi orang bodoh itu, tidak hanya di istana, tapi juga di pinggir jalan karena tidak berkualitas,” ucap dia.

Mantan Wakil Ketua DPR itu khawatir orang yang tak sepakat dengan langkah Gelora tersebut bukan mempermasalahkan dinasti politik, namun mereka hanya membenci Jokowi.

“Jangan karena kemarahan kepada seseorang, lalu mencomot terminologi yang tidak bisa kita pertanggungjawabkan di hadapan dunia akademik dan juga di hadapan Allah SWT,” pungkas Fahri.

Reporter : Digo Ardestilano
Editor : Digo Ardestilano