Netral English Netral Mandarin
23:48wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Bamsoet: Ada Kekhawatiran Kemenangan Taliban Dijadikan Role Model Kelompok Radikal di Indonesia

Rabu, 08-September-2021 10:25

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Foto : Istimewa
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
25

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan, tumbuhnya radikalisme tidak hanya dipicu faktor internal. Menurutnya, dinamika zaman yang terjadi di lingkungan global pun turut memberi warna dan mendorong munculnya radikalisme di dalam negeri.

Bamsoet mengatakan, salah satu yang menjadi perhatian saat ini adalah keberhasilan Taliban merebut kekuasaan yang sah di Afghanistan. Ia menyebut, ada kekhawatiran bahwa kemenangan Taliban itu dapat menginspirasi gerakan dan kelompok radikal di Indonesia untuk melakukan kegiatan yang sama di dalam negeri.

Karenanya, Bamsoet mengingatkan semua pihak agar tetap waspada dan hati-hati serta meminta masyarakat memperkuat pemahaman terhadap ideologi kebangsaan Pancasila dalam menangkal radikalisme.

Hal tersebut disampaikan Bamsoet dalam Webinar Kebangsaan bertajuk ‘Vaksinasi Ideologi: Kiat Menangkal Radikalisme Pasca Kemenangan Taliban di Afghanistan’ yang diselenggarakan oleh Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) dan Forum Intelektual Muda di Jakarta, Senin (6/9/2021).

"Ada semacam kekhawatiran bahwa kemenangan Taliban itu akan dijadikan sebagai role model bagi kelompok radikal di Indonesia. Kekhawatiran ini juga dipicu fakta-fakta beberapa mantan teroris di Indonesia pernah mendapat pelatihan dan ikut berjuang di Afghanistan,” kata Bamsoet.

"Menyikapi kondisi tersebut tentu tidak tidak ada salahnya kita mengedepankan sikap kewaspadaan dan kehati-hatian. Namun juga penting untuk kita ingat bersama bahwa alat pertahanan terbaik dalam menangkal radikalisme bukanlah semata mengandalkan tindakan represif, melainkan dengan penguatan benteng ideologi," sambungnya.

Bamsoet menuturkan, bangsa Indonesia tidak boleh mengabaikan fakta bahwa faham radikalisme tidak semata-mata terpapar dan terdistribusi melalui proses indoktrinasi yang dilakukan secara langsung, atau melalui pendekatan dan metodologi konvensional lainnya.

Perkembangan teknologi informasi, lanjut mantan Ketua DPR itu, memungkinkan paparan faham radikalisme dapat dijangkau dan diakses hanya dalam batas sentuhan jari di layar smartphone.

"Inilah yang memungkinkan, misalnya, remaja wanita di Inggris atau Australia, dapat dengan mudahnya bergabung dengan ISIS di Irak. Era disrupsi yang menghantarkan fenomena 'the internet of things' menjadikan ancaman paparan radikalisme terasa begitu dekat, di mana jarak dan waktu tidak lagi menjadi hambatan dan kendala," ujarnya.

Lebih jauh, Bamsoet mengingatkan agar di tengah kerja keras mengatasi pandemi Covid-19, semua pihak tidak boleh melupakan bahwa dampak pandemi yang telah menggerus kehidupan sosial ekonomi sedemikian dalam, menempatkan bangsa Indonesia pada posisi rawan.

Bamsoet memaparkan, Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, per Maret 2021 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,54 juta atau meningkat 1,12 juta dari Maret 2020. Dengan pandemi Covid-19 yang masih membayangi, angka ini masih mungkin berpotensi naik. Mengingat angka pengangguran hingga tahun 2021 diprediksi mencapai 12,7 juta.

"Tekanan dan beban kehidupan yang dirasakan semakin sulit dan berat, terutama di saat pandemi saat ini, berpotensi mendorong tumbuh suburnya radikalisme sebagai solusi instan dan pelarian dari berbagai himpitan persoalan," ucap dia.

"Di samping itu, fakta sosiologis bahwa kita ditakdirkan menjadi sebuah bangsa dengan tingkat heterogenitas yang tinggi, menjadikan kita berada dalam posisi rentan dari ancaman potensi konflik," tandas Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini.

Bamsoet menerangkan, berdasarkan Survei Nasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), tercatat sepanjang tahun 2020, terjadi penurunan angka penyebaran paham radikalisme secara signifikan. Dimana pada tahun 2017 berada di kisaran 50 persen, turun menjadi 14 persen lebih pada tahun 2020.

Namun, kata Bamsoet, dari aspek 'kualitas' atau tingkat 'kenekatan', manifestasi dari paham radikalisme justru lebih mengkhawatirkan. Misalnya ditandai dengan adanya aksi bom bunuh diri yang melibatkan, atau mengorbankan, wanita dan anak-anak.

"Survei nasional Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2018 mengindikasikan 63,07 persen guru memiliki opini intoleran pada pemeluk agama lain," Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini.

"Selanjutnya tahun 2019, penelitian kualitatif SETARA Institute di 10 kampus perguruan tinggi negeri, menemukan terdapat wacana dan gerakan keagamaan di perguruan tinggi negeri yang berpotensi mengancam negara Pancasila," terangnya.

Bamsoet menambahkan, dari survei Wahid Institute tahun 2020, diketahui sikap intoleran dan paham radikalisme mempunyai kecenderungan meningkat dari 46 persen menjadi 54 persen.

Sementara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila mensinyalir ASN yang pro radikalisme, atau bersikap anti terhadap Pancasila jumlahnya lebih dari 10 persen. Bahkan TNI dan POLRI juga menjadi lahan untuk mentransmisikan paham radikalisme, di mana tidak kurang dari 4 persen anggota terindikasi terpapar dengan paham radikalisme. 

Karenanya, Bamsoet mengungkapkan, MPR  gencar melaksanakan Vaksinasi Ideologi berupa Sosialisasi Empat Pilar MPR ke berbagai kalangan masyarakat guna memperkuat imun ideologi setiap anak bangsa dalam menghadapi berbagai gempuran ideologi yang tidak sejalan dengan jati diri bangsa Indonesia.

"Mengingat secara geografis, kita adalah negara kepulauan yang terpisah oleh lautan. Secara sosio-kultural, bangsa kita terdiri dari beragam suku, budaya, adat istiadat, agama dan kepercayaan," jelas Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila itu.

"Ditambah lagi dengan potensi kekayaan sumber daya alam kita yang berlimpah, dan posisi geografis kita yang strategis dalam lalu lintas kemairitman, telah menempatkan kita sebagai magnet bagi berbagai kepentingan global," pungkas Bamsoet. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati