Netral English Netral Mandarin
21:35wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Beginilah Bahaya Akibat Bayi Terlalu Sering Dicium

Selasa, 05-Oktober-2021 08:00

Ilustrasi bekas ciuman pada bayi.
Foto : hopscotch.in
Ilustrasi bekas ciuman pada bayi.
17

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Melihat bayi yang masih polos dan lucu memanglah membuat kita merasa gemas. Untuk mengungkapkan perasaan gemas tersebut kita cenderung melakukannya dengan mencium pipi si bayi berulang kali. Namun, tahukah anda? Bahwa mencium bayi terlalu sering secara berulang kali sangat tidak disarankan dan dapat membahayakan bayi itu sendiri.

Kulit bayi lebih sensitif dibandingkan dengan kulit orang dewasa pada umumnya. Saat dicium, kuman dan virus akan menempel di mulut dan wajah bayi. Parfum ataupun makeup yang orang dewasa gunakan dapat memicu adanya reaksi alergi pada kulit bayi.

Adapun beberapa infeksi yang berisiko pada bayi yang sering dicium dilansir dari website alodokter, adalah sebagai berikut:

Herpes simpleks

Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 (HSV 1). Herpes pada bayi dapat menyebabkan Si Kecil mengalami beberapa gejala, seperti: •Lebih rewel atau tampak kesakitan. •Muncul luka dan lepuhan serta ruam pada bibir dan kulit di sekitarnya. •Demam. Kurang mau menyusui atau makan. •Gusi merah dan bengkak. •Muncul benjolan di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening.

Jika terjadi gejala seperti yang disebutkan pada sang bayi, segara bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Biasanya dokter akan meresepkan obat–obatan antivirus. Setelah kondisi berhasil ditangani sebaiknya tetap diperiksakan kembali secara rutin ke dokter untuk menghindari kekambuhan di kemudian hari.

Kissing disease (mononukleosis)

Virus Epstein-Barr merupakan penyebab penyakit ini. Penyebaran virus ini tidak hanya terjadi ketika seseorang mencium sang bayi. Karena penyebarannya yang melalui air liur, maka virus ini pun dapat menyebar pada saat seseorang bersin ataupun batuk disamping sang bayi.

Adapun beberapa gejala yang timbul pada saat bayi mangalami penyakit mononukleosis, sebagai berikut:•Demam. •Tampak lemas dan kurang mau bermain. •Rewel karena kesakitan. •Ruam kulit. •Kurang mau makan atau menyusui. •Pembengkakan kelenjar getah bening.

Apabila orangtua menyadari sang bayi menderita penyakit mononukleosis disarankan untuk segara melakukan konsultasi kepada dokter. Tanpa adanya penanganan khusus dari dokter bayi akan mengalami sejumlah komplikasi serius, seperti pembesaran limpa, penyakit kuning, dan kerusakan organ hati.

Sariawan karena infeksi jamur Candida (thrush)

Jamur Candida adalah mikroorganisme yang normal menumpang hidup di dalam mulut, kulit, dan saluran pencernaan setiap orang dewasa. Saat seseorang mencium bayi, maka jamur ini bisa berpindah ke dalam mulut bayi. Reaksi yang ditimbulkan akibat adanya infeksi jamur Candida adalah bayi akan rentan mengalami sariawan.

Bayi yang terkena virus jamur ini akan mengalami tanda–tanda seperti munculnya bercak-bercak atau lapisan putih di dalam mulut, lidah, langit-langit, serta gusinya, sudut mulut bayi tampak kering dan pecah-pecah, rewel, dan kurang mau menyusui karena mulutnya terasa perih.Untuk mengatasi penyakit ini orangtua dapat memberikan obat anti jamur yang sudah di resepkan oleh dokter.

Meningitis bakteri

Dampak yang ditimbulkan dari penyakit meningitis bakteri yang disebabkan oleh infeksi bakteri sangatlah fatal bagi sang bayi. Kondisi ini dapat membahayakan nyawa sang bayi. Beberapa gejala yang timbul jika bayi mengalami meningitis bakteri berupa:•Lemas dan tidak aktif bergerak. •Demam. •Kejang. •Leher kaku. •Muntah-muntah dan tidak mau makan atau menyusui. •Cenderung tertidur dan sulit dibangunkan.

Perlu penangan dari dokter dan dibawa ke rumah sakit secapat mungkin pada bayi yang terkena meningitis bakteri.  Apabila terjadi keterlambatan, bayi berpotensi mengalami komplikasi seperti sepsis dan kerusakan otak permanen. Kerusakan otak ini bisa membuat bayi mengalami cacat, misalnya kehilangan fungsi pendengaran, gangguan tumbuh kembang, maupun lumpuh.

ISPA

ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus. Beberapa gejala yang timbul pada bayi yang terkena penyakit ISPA berupa batuk, pilek, sering bersin, demam, sesak napas disertai napas berbunyi, tampak lemas, dan kurang mau menyusui atau makan.

Jika disebabkan oleh virus penyakit ISPA pada bayi akan membaik dengan sendirinya. Namun jika penyait ini disebabkan oleh bakteri, maka bayi perlu diobati dengan antibiotik. Selama pemulihan pastikan bayi diberika ASI yang cukup agar terhindar dari dehidrasi.

Ada banyak risiko yang timbul akibat bayi terlalu sering dicium. Oleh sebab itu hindarilah mencium bayi terlalu sering apalagi membiarkan dicium oleh orang lain. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan sang bayi itu sendiri.

Reporter : Kalingga Murda
Editor : Irawan HP