Netral English Netral Mandarin
02:41wib
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 memutuskan hanya membuka akses enam pintu masuk kedatangan perjalanan internasional untuk WNI. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengatakan ada kemungkinan turis mancanegara bisa kembali mengunjungi Indonesia pada 2022 mendatang.
Bela Jokowi, Eko Malah Ungkit Kasus Chat Mesum HRS-Firza Husein, Christ: Manusia Ini Benar2 Setan

Sabtu, 07-Agustus-2021 09:19

Christ Wamea dan Eko Kuntadhi
Foto : Kolase Netralnews
Christ Wamea dan Eko Kuntadhi
22

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tokoh asal Papua geram dengan Eko Kuntadhi dan menyebut dirinya benar-benar manusia “setan”. 

“Manusia ini memang benar2 setan,” kata Christ Wamea, Sabtu 7 Agustus 2021.

Hal itu disampaikan usai Eko Kuntadhi menyatakan pembelaannya terhadap Jokowi terkait pengecatan pesawat kepresidenan namun membandingkan dengan kasus chat mesum Firza Husein dengan Habib Rizieq Shihab (HRS) beberapa waktu silam. 

“Lebih baik juga pesawat dicat merah-putih. Ketimbang Firza di-chat mesum...,” kata Eko Kuntadhi.

Sebelumnya, secara terpisah diebritakan, Presiden Joko Widodo dikritik lantaran mengizinkan pengecetan ulang pesawat menjadi dominan merah dan putih, dari sebelumnya dominan biru.

Partai Demokrat sempat mengkritik pengecatan ulang pesawat kepresidenan.

Menurut politisi Partai Demokrat Kamhar Lakumani, kritik dilontarkan pihaknya bukan karena warna pesawat kepresidenan diganti jadi merah putih, dari sebelumnya berwarnan biru putih.

"Bukan persoalan politik warna atau warna sebagai identitas politik," kata Kamhar kepada wartawan, Rabu (4/8/2021).

Kritik, kata Kamhar, jauh lebih substantif, di mana situasi objektif Indonesia sedang prihatin akibat terpaan badai pandemi Covid-19 yang tak berkesudahan, dan keterbatasan anggaran.

"Namun pemerintah malah lebih memperhatikan dandanan atau sibuk bersolek."

"Sungguh tak punya sensitivitas dan empati dalam menilai situasi, dan tak punya kebijaksanaan dalam mengalokasikan anggaran."

"Buta mata dan buta hati."

"Apalagi jika argumentasinya bahwa perubahan warna ini telah direncanakan sejak jauh-jauh hari, sejak 2019.

"Semakin menunjukkan kebodohan dan ketidakpekaan untuk memahami bahwa negara kita tengah mengalami krisis," tuturnya.

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat itu mengatakan, saat ini Indonesia sedang krisis kesehatan dan krisis ekonomi.

Dalam situasi krisis, dia menyebut manajemen dan pengelolaan pemerintahan mesti disesuaikan.

Termasuk, dalam mekanisme pengalokasian dan penggunaan anggaran yang telah direspons melalui UU 2/2020, di mana otoritas anggaran sepenuhnya oleh eksekutif, agar lebih cepat dalam mengonsolidasikan sumber daya keuangan dalam mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi.

"Namun yang dipertontonkan sungguh berbeda, malah mengalokasikan anggaran untuk pengecatan pesawat yang sama sekali tak ada pentingnya."

"Malah tak berhubungan sama sekali dengan upaya mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi."

"Memaksakan tetap menjalankan program yang disusun di waktu normal dalam situasi krisis, adalah bentuk kebodohan yang nyata. Kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosionalnya patut dipertanyakan," beber Kamhar seperti dinukil Tribunnews.

Sementara sebelumnya Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengatakan, pesawat kepresidenan yang dicat ulang adalah pesawat BBJ2 alias Boeing Business Jet 2 tipe 737-800.

Pengecetan pesawat tersebut sudah direncanakan sejak 2019, terkait perayaan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun lalu.

"Proses pengecatan sendiri merupakan pekerjaan satu paket dengan Heli Super Puma dan Pesawat RJ," kata Heru kepada wartawan, Selasa (3/8/2021).

Namun, kata Heru, pengecetan pesawat BBJ2 pada 2019 urung dilakukan karena belum masuk jadwal perawatan rutin.

Heru mengatakan, perawatan pesawat kepresidenan harus sesuai interval waktu yang telah ditetapkan.

Pesawat BBJ2 baru dicat ulang pada tahun ini berbarengan dengan jadwal perawatan Check C sesuai rekomendasi pabrik.

"Waktunya pun lebih efisien, karena dilakukan bersamaan dengan proses perawatan," ujarnya.

Heru membantah pengecatan pesawat tersebut merupakan bentuk foya-foya keuangan negara.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Irawan HP