Netral English Netral Mandarin
18:53wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Belajar dari Taliban dan Suriah, Denny Siregar: Lebih Baik Mati di Tanah Air Sendiri daripada di Negara Lain Jadi Pengungsi

Selasa, 17-Agustus-2021 11:00

Denny Siregar
Foto : Kolase Netralnews
Denny Siregar
32

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-17, Denny Siregar membuat catatan tentang belajar dari kasus Taliban di Afganistan dan perang di Suriah.

“Suriah dan Afghanistan sama-sama dilanda perang. Yang membedakan mereka hanyalah rasa nasionalismenya. Yang kuat kecintaannya pada tanah air, dialah yang bertahan. Yang lemah, dia berantakan..,” kata Denny Siregar, Selasa 17 Agustus 2021.

“Saya belajar banyak dari Suriah. Dan saya yakin, pada saatnya, ketika rasa cinta kita diuji, kita akan bangkit bersama mempertahankan negeri ini. Lebih baik mati di tanah air sendiri, daripada di negara lain jadi pengungsi.. Merdeka, negeriku. Cintaku padamu tidak akan pernah bisa digadaikan kepada siapapun jua,” tandas Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar. 

BELAJAR DARI SURIAH..

"Saya lebih baik mati di tanah air saya sendiri, daripada hidup dalam pengasingan di negara orang lain.."

Begitu pidato Bashar Al Assad di depan para pendukungnya, ketika dia mengumpulkan puluhan ribu rakyatnya di Damaskus, ibukota Suriah. Pidato yang berapi-api ini disambut dengan teriakan perlawanan oleh rakyat Suriah.

Damaskus waktu itu dikepung, ketika beberapa provinsi besar di Suriah direbut oleh ISIS. Tinggal selangkah lagi, ISIS akan menguasai Suriah. Mereka dibantu negara2 maju seperti US, Saudi dan Jepang yang memasok senjata. 

Teroris diimpor lewat perbatasan Turki. Rakyat Suriah seperti diujung tanduk. Bashar al Assad bahkan diminta menyerah, bukan saja oleh negara2 Eropa, tapi juga oleh Indonesia yang waktu itu dipimpin SBY sebagai Presidennya.

Kegigihan Bashar al Assad dan rakyat Suriah, mendapat perhatian serius dari Iran dan Rusia.

Mereka tidak ingin Suriah jatuh ke tangan ISIS karena itu berarti kawasan Timur Tengah akan terancam jadi medan perang besar. Rusia langsung mengirimkan pesawat tempurnya. 

Karena Rusia sudah ikut campur, AS yang awalnya membiayai ISIS, langsung berbalik memerangi utk mendapat simpati. Bashar berhasil membalikkan keadaan. Rakyatnya turun ke jalan, bertempur melawan ISIS dan Alqaeda. 

Mereka akhirnya menang.

7 tahun pertempuran Suriah, mengajarkan banyak hal ke saya. Bahwa nasionalisme itu sangat penting. Pemimpin yang kuat itu sangat penting. Pada akhirnya saya sadar, seberapa besarpun harta yang saya punya, tidak akan lagi berarti ketika negara hilang.

Beda dengan Afghanistan. Nasionalisme mereka terhadap negara tidak ada. Mereka hanya loyal kepada klan mereka. Tidak ada pemimpin yang kuat, yang ada hanya pemimpin korup dan lemah. 

Jadilah ketika Taliban akhirnya menguasai negara, Presidennya lari membawa harta. Rakyatnya tunggang langgang meminta perlindungan Amerika. Militernya bersikap oportunis dengan menyerahkan senjata.

Suriah dan Afghanistan sama-sama dilanda perang. Yang membedakan mereka hanyalah rasa nasionalismenya. Yang kuat kecintaannya pada tanah air, dialah yang bertahan. Yang lemah, dia berantakan..

Saya belajar banyak dari Suriah. Dan saya yakin, pada saatnya, ketika rasa cinta kita diuji, kita akan bangkit bersama mempertahankan negeri ini. Lebih baik mati di tanah air sendiri, daripada di negara lain jadi pengungsi..

Merdeka, negeriku. Cintaku padamu tidak akan pernah bisa digadaikan kepada siapapun jua. 

Selamat ulang tahun, Indonesia. Mari kita seruput kopinya.. 

Denny Siregar

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P