Netral English Netral Mandarin
02:11wib
Aparat dari satuan TNI dan Polri akan menjadi koordinator dalam pelaksanaan tracing (pelacakan) Covid-19 dalam Pemberlakuan Pembatasan Sosial Masyarakat (PPKM) yang kembali diperpanjang. Presiden Joko Widodo memberi kelonggaran selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 diperpanjang mulai 26 Juli hingga 2 Agustus 2021.
'Bisnis Monyet', DS: Biasanya Cuman Ikut-ikutan dan supaya Gak Dibilang Gak Gaul

Jumat, 14-Mei-2021 07:40

Denny Siregar
Foto : Istimewa
Denny Siregar
22

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar kembali mengulas lebih lanjut seputar bisnis Cryptocurrency melalui ulasan berjudul “bisnis monyet.”

Menurut Denny, banyak orang ikut bisnis di bidang Cryptocurrency hanya karena ikut-ikutan. 

Berikut catatan lengkap Denny Siregar, Kamis malam 13 Mei 2021:

BISNIS MONYET

Oh, ternyata ada yang belum paham istilah "monkey business" atau bisnis monyet..

Oke, saya coba sederhanakan ya. Istilah monkey business ini berawal dari sebuah cerita legenda..

Di sebuah desa yang banyak monyetnya, tiba2 ada seorg pengusaha kaya yang ingin beli monyet. Dia kasih pengumuman, "Saya mau beli monyet harga 100 rupiah/ekor.." 

Orang desa bingung, lha ngapain beli ? Kan di desa ini banyak monyetnya ? Tapi karena tergiur duit, mereka tangkepin tuh monyet dan ditukar 100 rupiah/ekor. Penduduk desa kaya. 

Tapi lama2 monyet di desa itu habis. Karena langka, si pengusaha bikin pengumuman baru, "Karena langka, harga monyet saya naikkan jadi seribu rupiah/ekor.." Habis bicara begitu, si pengusaha pergi.

Orang2 pun makin ngiler, "Gila, harga monyet jadi seribu. Gua bisa kaya, nih !!" Begitu pikir mereka. Tapi cari monyet susah banget. 

Mendadak ada yang dekatin para penduduk desa. Dia ini sebenarnya asisten si pengusaha. 

Dia bisikin ke telinga orang2, "Gua punya banyak monyet nih. Mau gak lu beli harga 500 rupiah/ekor ? Entar lu jual ke pengusaha seribu. Lu kan dapet untung 500 rupiah/ ekor ?"

"Mau, mau.." Kata penduduk desa. Mereka pun beli monyet dari si asisten seharga 500 rupiah, padahal itu monyet yang dulu dikumpulkan si pengusaha dan mereka jual 100 rupiah/ekor. 

Sesudah monyet habis dijual, si asisten pun ngilang. Penduduk desa nungguin si pengusaha yang mau beli monyet yang tidak pernah datang. Sampe akhirnya mereka sadar, mereka tertipu dan rugi 400 rupiah/ekor. Maunya untung, jadinya buntung.

Itulah asal mula cerita "monkey business". Bisnis isu yang memakan korban mereka yang gelap mata. Ini bisnis udah tua banget umurnya. 

Kejadian paling fenomenal ada di tahun 1636, di Belanda, ketika bunga tulip dianggap bisnis yang bisa bikin kaya instan. Banyak orang hancur hidupnya karena invest di tulip ini. 

Mereka beli tulip diharga tinggi, karena terpengaruh isu tulip kelak harganya selangit. Udah gitu, mereka ga pernah pegang bunga tulipnya. Yang mereka pegang cuman kertas berisi pernyataan, "Anda pemilik sekian buah bunga tulip seharga sekian gulden.."

Peristiwa ini selalu jadi acuan ketika ada bubble, atau bola pecah, dari bisnis yg dipromokan setinggi langit tapi nilainya ternyata gak ada.

Ada yang untung dari bisnis ini ? Banyak juga. Mereka yang beli monyet diharga tengah dan exit ketika udah dapet cuan lumayan. Mereka ini pintar, ikut gelombang isu tapi gak serakah. 

Mereka tahu, bahwa ketika bola semakin besar saat diiisi angin terus menerus, pasti kelak akan pecah juga.

Yang rugi? Jauh lebih banyak  dan akhirnya menerima dengan pasrah, "Sudah takdir, mungkin gak untung di bisnis ini.." Biasanya cuman ikut2an dan supaya gak dibilang, "gak gaul lu ah.."

Seruput kopinya ?

Denny Siregar

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto