• News

  • Bisnis

Di Akhir Perdagangan Euro Rebound terhadap Dolar, Ini Penyebabnya

Ilustrasi Dolar AS dan Euro
Admiral Markets
Ilustrasi Dolar AS dan Euro

NEW YORK, NETRALNEWS.COM - Euro rebound terhadap dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu 15/2/2020 pagi WIB), didorong oleh penurunan saham-saham AS dari rekor tertinggi, meskipun kekhawatiran tentang pertumbuhan di zona euro diperkirakan akan terus membebani mata uang tunggal.

Kecemasan tentang dampak virus corona terhadap ekonomi Eropa minggu ini membantu mengirim euro ke level terendah terhadap dolar dalam dua setengah tahun terakhir.

Sebuah laporan pada Jumat (14/2/2020) bahwa Fiat Chrysler berencana untuk menutup pabrik di Serbia karena kurangnya pasokan suku cadang menambah ke kekhawatiran bahwa keterkaitannya dengan China membuat ekonomi Eropa rentan.

"Kami memiliki beberapa indikasi pertama bahwa ini mungkin mulai menimpa rantai pasokan global pagi ini dengan Chrysler menutup salah satu pabrik mereka di Eropa Timur karena kekurangan pasokan dari China," kata Shaun Osborne, kepala strategi valas di Scotiabank di Toronto .

Virus itu telah menginfeksi 1.700 petugas kesehatan China dan menewaskan enam orang, kata pihak berwenang pada Jumat (14/2/2020).

Data juga mengisyaratkan ekonomi Eropa lemah. Produk domestik bruto (PDB) zona euro tumbuh 0,1 persen kuartal-ke-kuartal pada kuartal keempat, sesuai dengan perkiraan, sementara pertumbuhan tahun-ke-tahun lebih lemah dari yang diharapkan pada 0,9 persen.

Ekonomi Jerman mengalami stagnasi pada kuartal keempat karena konsumsi swasta dan pengeluaran negara lebih lemah, memperbarui ketakutan akan resesi ketika konservatif Kanselir Angela Merkel disibukkan dengan pencarian pemimpin baru.

Euro melemah menjadi 1,0826 dolar, terendah sejak Mei 2017, sebelum rebound menjadi 1,0856 dolar. Euro telah jatuh dari 1,1095 dolar pada 3 Februari.

Euro keluar dari posisi terendah karena saham-saham AS turun dari rekor tertinggi yang dicapai pada Kamis (13/2/2020).

 Data ekonoki Amerika Serikat menunjukkan penjualan toko pakaian pada Januari mengalami penurunan terbesar sejak 2009, yang dapat meningkatkan kekhawatiran tentang daya tahan ekspansi ekonomi moderat negara tersebut.

Editor : Sesmawati