• News

  • Bisnis

Sebanyak 103 BPR Bangkrut di Tengah Ancaman Resesi, Said Didu Kasih Nasihat Begini 

Said Didu, mantan Sekretaris Kementerian BUMN
Twitter @msaid_didu
Said Didu, mantan Sekretaris Kementerian BUMN

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tokoh oposisi Muhammad Said Didu terkejut dengan kabar ratusan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang bangkrut akibat lesunya perekonomian di masa pandemi virus corona. Menurut mantan Sekretaris Menteri BUMN itu, masyarakat harus menjaga keuangan mereka di tengah ancaman resesi ekonomi dengan cara menghemat pengeluaran.

"Wah lembaga perbankan sdh kena. Mhn belanja yg perlu2 saja," tulis Said di akun Twitternya, Rabu (5/8/2020).

Sebelumnya diberitakan bahwa perkembangan bisnis pembiayaan di tengah pandemi Covid-19 menjadi tantangan. Utamanya bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

Direktur Eksekutif Klaim dan Resolusi Bank, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Suwandi mengungkapkan, sebanyak 103 BPR bangkrut atau likuidasi akibat kinerja keuangan sangat sulit. Itu terjadi sepanjang 2006 hingga Juni 2020.

"Dari total yang dilikuidasi sebanyak 103 BPR, satu adalah Bank Century," ujar Suwandi, dalam acara Webinar di Jakarta, Selasa (4/8/2020).

Dia menuturkan BPR yang paling banyak dilikuidasi berada di wilayah Jawa Barat dan Sumatera Barat. Masing-masing, BPR di Jawa Barat 36 unit dan Sumatera Barat itu 15 unit.

"Ini tentunya menjadi perhatian khusus pemerintah dan Lembaga Penjamin Simpanan. Apakah ini ada kaitannya dengan masyarakat," kata Suwandi.

Dia menyebutkan banyaknya BPR yang tutup akibat persaingan ketat dengan bank umum. Bank umum lebih dipercaya nasabah karena memiliki jaringan dan pelayanan lebih luas. "BPR yang likuidasi ini bangkrut karena kalah bersaing dengan bank umum," ujarnya.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Irawan.H.P